Oleh: Dr. Ali Aminulloh
(Dosen IAI Al-Zaytun)
Editor: Abah Roy – Redaksi Aswin News.com
Berkarya dalam Ruang Pendidikan yang Manusiawi
Dalam semarak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, PKBM Al-Zaytun menggelar Lomba Cipta Lagu dan Puisi. Bertempat di Gedung PKBM Bazar pada Sabtu, 12 Juli 2025, acara ini bukan sekadar selebrasi kreativitas, melainkan refleksi nyata dari visi lembaga sebagai Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.
Kepala PKBM, Dr. Ali Aminulloh, menekankan bahwa kompetisi seperti ini memicu tumbuhnya soft skills peserta didik—kepercayaan diri, keberanian, dan daya saing sehat. Sementara itu, Hartono, S.Pd., selaku Koordinator Tutor, menjelaskan bahwa lomba ini juga menjadi wahana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap almamater dan budaya belajar. Tema-tema karya peserta menyentuh semangat perjuangan, identitas lembaga, serta cita tentang masa depan yang lebih terang.
Sebanyak 22 peserta dari Paket A, B, dan C menyuguhkan puisi dan lagu ciptaan mereka. Dari Rumini (B4) yang membawakan “Belajar di PKBM” hingga Nurhayati (B4) dengan lagu “PKBM”, setiap karya adalah suara hati yang merayakan proses belajar sebagai jalan hidup yang bermakna.
Dewan juri—Hartono, S.Pd., Amirul Fajar Wahdana, S.Pd., dan Mulyadi, S.Pd., M.Pd.—menilai dengan seksama. Hasilnya: Humayah (B1) meraih juara 1 puisi, sementara Nurhayati (B4) keluar sebagai pemenang cipta lagu. Tak sekadar menang, mereka mewakili semangat juang dalam balutan ekspresi estetika.
Mendidik untuk Ibadah: Ketika Kata dan Nada Menjadi Doa
PKBM Al-Zaytun menanamkan nilai bahwa mendidik dan membangun semata-mata adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT. Lomba cipta lagu dan puisi ini merupakan manifestasi nyata dari semangat tersebut. Di atas panggung, peserta tidak hanya menyampaikan karya, tetapi juga menyuarakan niat tulus beribadah melalui kreativitas dan keberanian.
Melodi dan bait yang mereka lantunkan menjadi sarana ekspresi diri, sekaligus penghormatan terhadap anugerah berpikir, merasa, dan berkarya. Di sini, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, dan lagu bukan sekadar kumpulan nada—melainkan wujud syukur atas kesempatan belajar dan tumbuh dalam suasana damai, toleran, dan penuh kasih.
PKBM Al-Zaytun berhasil menyusun ruang belajar yang holistik: mengasah akal, membentuk karakter, dan menyemai kebaikan. Para peserta lomba tidak hanya belajar tampil, tapi juga belajar mengenal diri, memahami orang lain, dan menyatukan keberagaman dalam karya.
Epilog: Dari Panggung Kecil Menuju Cahaya Besar
Ketika semua kata telah dilantunkan dan lagu terakhir mengalun, tersisa gema yang tak terlihat: semangat yang ditanam, keberanian yang tumbuh, dan nilai-nilai yang mengakar. PKBM Al-Zaytun membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan sunyi menuju pengabdian—sebuah ibadah yang tidak hanya berlangsung dalam salat dan zikir, tetapi juga dalam mencipta, membangun, dan menginspirasi.
Para warga belajar yang tampil hari itu bukan hanya berlomba; mereka telah memulai perjalanan panjang menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi.
Dan di setiap bait yang ditulis, di setiap nada yang dilagukan, terselip satu pesan agung: bahwa ilmu, seni, dan akhlak adalah cahaya—dan tugas kita adalah menjadi lentera.
Indramayu, 15 Juli 2025
sumber : https://aswinnews.com/2025/07/15/simfoni-kata-dan-nada-lentera-toleransi-dari-pkbm-al-zaytun/
