Indramayu,pkbmal-zaytun.sch.id – Ramadhan selalu menghadirkan ruang untuk kembali merawat persaudaraan. Pada Selasa, 10 Maret 2026, bertepatan dengan hari ke-20 Ramadhan, ratusan anggota Jama’ah Ka’batullah Indonesia (JKI) berkumpul di kediaman Kurnoto, SE, di Blok Cipedang Bunder, Desa Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis. Sekitar 350 jamaah hadir dalam sebuah tradisi yang terus dijaga: buka bersama sebagai sarana mempererat silaturahmi antar anggota JKI. Kegiatan bukber ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi program yang digilir dari satu wilayah ke wilayah lain. Kadang diselenggarakan di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kota Indramayu, hingga wilayah Indramayu Barat. Pola bergiliran ini membuat setiap anggota memiliki kesempatan menjadi tuan rumah sekaligus memperkuat hubungan kekeluargaan di antara jamaah. Sore itu suasana terasa hidup. Jamaah dari berbagai daerah berdatangan sejak menjelang petang. Halaman rumah tuan rumah dipenuhi percakapan hangat dan wajah-wajah penuh kerinduan untuk kembali bertemu. Acara dimulai tepat pukul 17.00 WIB dan dipandu oleh Joko Sairan, SH, Tutor PKBM Al-Zaytun, yang membuka kegiatan dengan basmalah. Dalam sambutannya, Kurnoto, SE selaku tuan rumah dan ketua panitia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para pengurus serta jamaah JKI wilayah Indramayu Barat. Ia juga memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun hidangan. Menurutnya, kegiatan bukber seperti ini memiliki makna lebih dari sekadar makan bersama. Ia menjadi ruang untuk mempererat hubungan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kekompakan antar anggota JKI. Suasana semakin khidmat ketika Latif WH, perwakilan Syaykh dari Ma’had Al-Zaytun, menyampaikan tausiyah tentang pentingnya silaturahmi. Dalam pesannya ia menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya tradisi sosial, tetapi juga bagian dari ajaran yang diyakini dapat memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki. Menjelang azan Maghrib, seluruh jamaah memanjatkan doa bersama. Setelah itu hidangan berbuka dibagikan kepada para tamu. Mereka berbuka dalam suasana penuh keakraban—warga dari Haurgeulis, Gantar, Tukdana, Kopyah, Anjatan, hingga Indramayu duduk berdampingan, menikmati hidangan sambil berbincang ringan. Di tengah kebersamaan itu, tampak pula beberapa tutor, alumni, dan warga belajar PKBM Al-Zaytun yang hadir baik sebagai panitia maupun tamu undangan. Kehadiran mereka menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Beberapa alumni bahkan kini aktif di tengah masyarakat, memanfaatkan ilmu yang pernah mereka dapatkan selama belajar. Ada yang menjadi guru PAUD, ada pula yang aktif memimpin kegiatan keagamaan di lingkungannya. Bagi para tutor, melihat alumni berkembang dan berperan di masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri. Pendidikan yang pernah diberikan ternyata tidak berhenti di ruang belajar, tetapi terus hidup dalam aktivitas sosial dan keagamaan di masyarakat. Tak terasa waktu berbuka berlalu begitu cepat. Setelah menikmati hidangan dan berbincang hangat, acara ditutup pada pukul 18.20 WIB dengan hamdalah. Para jamaah kemudian kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan syukur. Bukber hari itu bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi pengingat bahwa silaturahmi adalah kekuatan yang menyatukan komunitas. Sebuah tradisi sederhana yang terus dijaga oleh keluarga besar JKI dari Cirebon hingga Indramayu Barat. Dan di tengah kebersamaan itu, kehadiran Tutor PKBM Al-Zaytun menjadi bagian dari cerita tentang pendidikan, persaudaraan, dan pengabdian yang tumbuh di tengah masyarakat.** Penulis : Sri Wahyuni, S.Pd.
JKI’s Iftar and the Warmth of Friendship among Al-Zaytun Community Service Tutors
pkbmal-zaytun.sch.id ,Indramayu, – Ramadan always presents a space for rekindling brotherhood. On Tuesday, March 10, 2026, coinciding with the 20th day of Ramadan, hundreds of members of the Indonesian Ka’batullah Congregation (JKI) gathered at the residence of Kurnoto, SE, in the Cipedang Bunder Block, Mekarjati Village, Haurgeulis District. Around 350 congregants attended a tradition that continues to be maintained: breaking the fast together as a means of strengthening ties among JKI members. This iftar (breaking the fast) is not just an annual event, but a program that rotates from one region to another. It is sometimes held in Cirebon City, Cirebon Regency, Indramayu City, and even West Indramayu. This rotating pattern gives each member the opportunity to host and strengthen family ties among the congregation. That afternoon, the atmosphere was lively. Congregants from various regions began arriving in the early evening. The courtyard of the host’s house was filled with warm conversations and faces filled with longing to see each other again. The event began promptly at 5:00 PM WIB (Western Indonesian Time) and was moderated by Joko Sairan, SH, a tutor at the Al-Zaytun Community Learning Center (PKBM), who opened the event with the basmalah (prayer). In his remarks, Kurnoto, SE, the host and committee chairman, expressed his gratitude and thanks to the JKI administrators and congregation from the West Indramayu region for their attendance. He also apologized for any shortcomings in the welcome or food. He stated that this kind of iftar (breaking the fast) gathering is more meaningful than simply eating together. It serves as a space to strengthen relationships, strengthen brotherhood, and maintain unity among JKI members. The atmosphere became even more solemn when Latif WH, a representative of the Sheikh from the Al-Zaytun Ma’had, delivered a sermon on the importance of maintaining silaturahmi (silaturahmi). In his message, he emphasized that silaturahmi is not only a social tradition, but also part of a teaching believed to prolong life and open the doors to prosperity. As the Maghrib call to prayer approached, the entire congregation prayed together. Afterward, iftar meals were distributed to the guests. They broke their fast in a friendly atmosphere—residents from Haurgeulis, Gantar, Tukdana, Kopyah, Anjatan, and Indramayu sat side by side, enjoying their meals and engaging in light conversation. Amidst the gathering, several tutors, alumni, and students from the Al-Zaytun Community Learning Center (PKBM) were also present, both as committee members and invited guests. Their presence added a unique touch to the event. Some alumni are now active in the community, utilizing the knowledge they gained during their studies. Some are early childhood education teachers, while others actively lead religious activities in their communities. For the tutors, seeing alumni develop and participate in society is a joy in itself. The education they received doesn’t stop in the classroom, but lives on in social and religious activities within the community. The time to break the fast passed quickly. After enjoying the food and warm conversation, the event concluded at 6:20 PM WIB with the recitation of the prayer (hamdalah). The congregation then returned to their homes filled with gratitude. That day’s iftar (breaking the fast) was more than just a gathering, but a reminder that friendship is the force that unites a community. It’s a simple tradition maintained by the JKI family from Cirebon to West Indramayu. And amidst this togetherness, the presence of the Al-Zaytun Community Service Center (PKBM) tutors became part of the story of education, brotherhood, and devotion that thrives within the community.** Author: Sri Wahyuni, S.Pd.
Tutor PKBM Al-Zaytun Dan Hangatnya Silaturahmi Ramadhan Bersama JKI
Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al-Zaytun) pkbmal-zaytun.sch.id Indramayu – Senja Ramadhan selalu membawa cerita. Pada Selasa, 10 Maret 2026, hari ke-20 Ramadhan, suasana haru dan kebersamaan terasa begitu kuat di kediaman Bapak Kurnoto, SE, di Blok Cipedang Bunder, Desa Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis. Ratusan warga Jama’ah Ka’batullah Indonesia (JKI) berduyun-duyun datang. Sekitar 350 undangan memenuhi halaman rumah, membawa semangat silaturahmi dalam acara buka bersama yang sederhana namun penuh makna. Tepat pukul 17.00, acara dimulai dengan basmalah yang dipandu oleh Joko Sairan, SH, Tutor PKBM Al-Zaytun, selaku MC. Kehangatan langsung terasa ketika Ustadz Kurnoto, SE sang tuan rumah sekaligus ketua panitia menyampaikan sambutannya. Dengan rendah hati ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran para pengurus dan jamaah JKI wilayah Indramayu Barat, sekaligus memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun hidangan. Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama agar wilayah Indramayu Barat segera berkembang dan menjadi pusat kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Memasuki acara inti, Bapak Latif Wahyu Haryono, S.Sos sebagai perwakilan Pengurus JKI, menyampaikan tausiyah singkat tentang makna silaturahmi. Ia menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi jalan yang diyakini dapat memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki. Menjelang azan Maghrib, doa bersama dipanjatkan. Setelah semua tamu menerima hidangan, suasana berbuka terasa sangat hangat. Warga dari berbagai daerah seperti Haurgeulis, Gantar, Tukdana, Kopyah, Anjatan, hingga Indramayu menyantap hidangan sambil berbincang akrab dengan orang-orang di sekeliling mereka. Namun di tengah keramaian itu, ada pertemuan kecil yang menghadirkan cerita besar. Beberapa tutor, alumni, dan warga belajar PKBM Al-Zaytun ternyata hadir dalam acara tersebut, baik sebagai panitia maupun tamu undangan. Salah satu pertemuan yang paling mengharukan adalah ketika seorang alumni tiba-tiba datang menghampiri dan memeluk hangat salah satu tutor. Namanya Sunenti, alumni PKBM Al-Zaytun lulusan tahun 2022 kelas C4. Pertemuan itu begitu spontan dan penuh haru. Bukan sekadar pertemuan antara tutor dan warga belajar, tetapi seperti dua sahabat lama yang lama terpisah. Sunenti mengenang masa-masa belajarnya di PKBM dengan penuh rasa syukur. Ia bercerita bahwa dahulu sempat mendapat ejekan dari lingkungan sekitar. “Ngapain sekolah? Sudah tua juga, memang mau jadi guru atau dosen?” begitu kata orang-orang kepadanya. Namun ia hanya menjawab sederhana, “Aamiin.” Baginya, belajar adalah jalan untuk memperbaiki diri. Setelah lulus dari PKBM Al-Zaytun, Sunenti justru mendapat kesempatan mengajar di PAUD Bina Graha Insan Mulia, binaan Kurnoto. Tidak berhenti di sana, ia juga melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Al Amin, Kempet, Indramayu. Menariknya, selama belajar di PKBM ia tetap menjalankan usaha berdagang pakaian. Bahkan, usahanya justru semakin berkembang karena bertambahnya jaringan pertemanan. “Sekolah itu tidak menghalangi usaha saya. Justru menambah teman dan membuka rezeki,” tuturnya. Kenangan masa belajar masih ia simpan rapi: foto bersama teman, piagam penghargaan, bahkan piala prestasi yang pernah diraih. Cerita inspiratif lain datang dari alumni bernama Rohayati dari Gantar. Di lingkungannya, ia kini lebih dikenal sebagai “ustadzah”. Ia kerap diminta memimpin acara keagamaan, mengajar tahsin, hingga memimpin doa dalam berbagai kegiatan masyarakat. Dalam Paguyuban Istri Peduli, Rohayati bahkan dipercaya sebagai penanggung jawab bidang kerohanian yang menyusun program istighazah dan doa bersama. Keaktifan para alumni ini bukanlah hal yang mengejutkan. Di PKBM Al-Zaytun, para warga belajar memang terbiasa dilibatkan dalam berbagai kegiatan organisasi, mulai dari pembukaan pembelajaran, penutupan kegiatan, hingga lomba antar kelas. Dari sanalah mereka belajar berkoordinasi, berkomunikasi dalam tim, dan berbicara di depan umum. Tak heran jika di tengah masyarakat mereka tampil percaya diri dan aktif berkontribusi. Melihat itu semua, para tutor yang hadir merasa bangga. “Saya sangat bahagia sebagai tutor ketika bertemu alumni yang sudah berhasil dan mampu mengaplikasikan ilmunya di masyarakat. Itu kebahagiaan yang tidak bisa digantikan apa pun,” ungkap salah satu tutor dengan mata berbinar. Di antara panitia juga tampak beberapa tutor PKBM Al-Zaytun seperti Ustadz Khoirun, SH, Ustadz Tardi, Ustadz Supriyadi, S.Pd, dan Ustadz Anwar yang turut membantu jalannya acara. Waktu pun bergerak cepat. Setelah berbuka dan berbincang hangat, acara ditutup pada pukul 18.20 dengan hamdalah. Satu per satu jamaah kembali ke rumah masing-masing, membawa rasa syukur dan kedamaian di hati. Ramadhan sore itu bukan hanya tentang berbuka bersama. Ia menjadi saksi bahwa pendidikan, silaturahmi, dan ketulusan dapat melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Dan di balik cerita itu, peran Tutor PKBM Al-Zaytun tampak hadir diam-diam menyalakan cahaya ilmu yang kini terus menyala di tengah masyarakat. (Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah
Hari Pendidikan Internasional, Belajar dari Al-Zaytun tentang Kesadaran dan Kemanusiaan
https://pkbmal-zaytun.sch.id/ – Di tengah manusia yang kian berpikir pendek, ketika alam dieksploitasi tanpa rasa bersalah dan pertikaian sosial dianggap sebagai hal biasa, pendidikan justru sering kehilangan makna dasarnya. Ia direduksi menjadi angka, ijazah, dan tiket menuju pasar kerja. Paradoksnya, di saat teknologi melesat jauh ke depan, kesadaran manusia justru tertinggal. Maka pertanyaan mendasarnya menjadi tajam dan retoris: pendidikan macam apa yang sedang kita bangun?, Apakah yang memanusiakan, atau yang diam-diam mempercepat kerusakan peradaban? Hari Pendidikan Internasional yang diperingati setiap 24 Januari hadir sebagai pengingat global atas kegelisahan itu. Sejak ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2019, berdasarkan resolusi Majelis Umum PBB tanggal 3 Desember 2018 yang diusulkan Nigeria dan didukung 58 negara anggota, peringatan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan teknis suatu negara, melainkan agenda kemanusiaan dunia. Pendidikan adalah hak asasi manusia, tanggung jawab publik, dan fondasi utama perdamaian serta pembangunan berkelanjutan. Pasal 26 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menegaskan hak setiap orang atas pendidikan, dengan pendidikan dasar yang wajib dan gratis serta akses pendidikan tinggi yang terbuka bagi semua. Komitmen ini diperkuat dalam Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, di mana pendidikan ditempatkan sebagai kunci keberhasilan seluruh 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tanpa pendidikan yang inklusif, adil, dan bermutu, dunia mustahil keluar dari lingkaran kemiskinan, ketimpangan, konflik, dan krisis ekologis. Namun realitas global masih menyisakan jurang yang lebar. Data Unesco menyebutkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di dunia tidak bersekolah. Lebih dari 617 juta tidak mampu membaca dan berhitung dasar. Jutaan anak pengungsi terputus dari akses pendidikan. Angka-angka ini bukan statistik dingin, melainkan potret kegagalan kolektif umat manusia dalam menjaga martabatnya sendiri. Karena itu, Hari Pendidikan Internasional kini menyoroti tema _”the power of youth in co-creating education”_. Kaum muda yang kini mencakup lebih dari separuh populasi dunia, adalah mesin utama inovasi dan perubahan sosial. Karena hidup dan masa depan mereka langsung dibentuk oleh pendidikan, mereka harus menjadi mitra aktif dalam merancang ulang sistem pembelajaran. Pendidikan masa depan tidak bisa lagi bersifat satu arah, melainkan kolaboratif, relevan, dan berakar pada persoalan nyata umat manusia. Selain partisipasi kaum muda, dunia juga semakin menyadari peran krusial kepemimpinan pendidikan. Berbagai kajian internasional menempatkan kepemimpinan sekolah sebagai faktor kedua terpenting yang memengaruhi hasil belajar, setelah kualitas guru. Sekolah yang baik hanya mungkin lahir dari pemimpin pendidikan yang memiliki visi, kepekaan sosial, dan keberanian moral untuk memandang pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia. Dalam lanskap global itulah, Pendidikan Al-Zaytun patut dibaca sebagai praktik konkret pendidikan berbasis kesadaran. Dengan visi “Al-Zaytun Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi,” Al-Zaytun menempatkan pendidikan sebagai proyek peradaban. Pendidikan tidak dimaknai sebagai proses akademik semata, tetapi sebagai jalan panjang membentuk manusia yang berpikir jernih, hidup berdampingan secara damai, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta alam. Syaykh A.S. Panji Gumilang menetapkan kebijakan progresif wajib belajar 18 tahun bagi seluruh civitas akademika Al-Zaytun. Kebijakan ini melampaui standar nasional dan global, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan adalah proses berkelanjutan sepanjang hayat. Pendidikan tidak berhenti pada ijazah, tetapi menjadi laku hidup yang menumbuhkan kedewasaan berpikir dan bertindak. Lebih dari itu, Al-Zaytun menggagas pendidikan kontemporer berbasis trilogi kesadaran: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Kesadaran filosofis membentuk daya pikir kritis dan reflektif; kesadaran ekologis menumbuhkan tanggung jawab menjaga bumi; dan kesadaran sosial membangun empati, keadilan, serta perdamaian. Inilah fondasi pendidikan toleransi yang tidak berhenti pada slogan, tetapi hidup dalam praktik keseharian. Trilogi kesadaran ini sejatinya sejalan dengan Kurikulum Cinta yang digagas Kementerian Agama, yaitu kurikulum yang menekankan kasih sayang, toleransi, dan harmoni antarumat manusia. Di Al-Zaytun, nilai-nilai tersebut telah lama dipraktikkan sebagai kultur pendidikan, bukan sekadar program. Pendidikan dipahami sebagai ruang membentuk manusia yang mampu hidup bersama dalam perbedaan, tanpa kehilangan jati diri. Kerangka kesadaran tersebut diperkuat melalui pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Spiritual) yang oleh Syaykh Al-Zaytun disebut sebagai novum gradum, lompatan baru dalam dunia pendidikan. Model ini sejatinya telah menjalankan apa yang kini dikenal sebagai Kurikulum Mendalam yang didorong Kemendiknas: pembelajaran lintas disiplin, kontekstual, bermakna, dan berorientasi pada pemahaman mendalam, bukan hafalan dangkal. Melalui LSTEAMS, sains tidak tercerabut dari nilai, teknologi tidak kehilangan etika, hukum tidak kering dari kemanusiaan, dan spiritualitas tidak menjauh dari realitas sosial. Pendidikan menjadi ruang integrasi nalar, rasa, dan nilai, yang menjadi sebuah fondasi penting untuk menjawab kompleksitas tantangan zaman. Sebagai penyempurnaan visi tersebut, Al-Zaytun tengah mengembangkan Politeknik Tanah AIR (Al-Zaytun Indonesia Raya) dengan moto “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan.” Politeknik ini dirancang untuk menjembatani idealisme kesadaran dengan keterampilan praksis kebangsaan. Pendidikan vokasional tidak direduksi menjadi pelatihan teknis semata, melainkan sarana membentuk manusia terampil yang sadar akan tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Dalam konteks kebangsaan, langkah Al-Zaytun juga diarahkan untuk mendorong peningkatan indeks pendidikan Indonesia. Syaykh Al-Zaytun mendorong seluruh civitas Al-Zaytun, keluarganya, dan para wali santri untuk terus meningkatkan jenjang pendidikan. Bagi mereka yang telah melewati usia sekolah formal, Al-Zaytun menyediakan layanan Kelas Dewasa dan PKBM Al-Zaytun, dengan sistem pembelajaran fleksibel, termasuk model hybrid, namun tetap berpegang pada asas-asas pendidikan. Hasilnya nyata. Ribuan warga belajar telah lulus. Ratusan telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebagian telah menuntaskan studi S2, sementara lainnya masih aktif menempuh pendidikan S1, S2, dan S3. Gerakan ini bahkan menjangkau para petani yang tergabung dalam P3KPI (Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia), menegaskan bahwa pendidikan hadir di jantung kehidupan rakyat, bukan hanya di ruang kelas. Lebih jauh, aspek kesejahteraan peserta didik juga menjadi perhatian. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi agenda nasional, telah lama dijalankan di Al-Zaytun sejak awal pendirian ma’had. Pemenuhan gizi dipahami sebagai bagian integral dari pendidikan manusia seutuhnya: tubuh yang sehat adalah prasyarat bagi akal yang cerdas dan jiwa yang jernih. Semua ini menegaskan satu hal: Al-Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pendidikan. Maka seluruh civitasnya, harus terdidik secara sadar, terukur, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi berlanjut pada pembentukan kesadaran dan kemanusiaan. Sebab kemanusiaan bukan sekadar seruan moral. Ia lahir dari tindakan nyata. Dari kesadaran yang ditanam secara konsisten, tumbuh perilaku yang memuliakan sesama. Dari hati yang jernih dan terbuka, lahir dunia yang saling menjaga: antara manusia, alam, dan peradaban. Hari Pendidikan Internasional, pada akhirnya, bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momentum
Community Service Center Tutors and KSU Representatives Strengthen Families at the Baplas Ramadan Safari
Community Service Center Tutors and KSU Representatives Strengthen Families at the Baplas Ramadan Safari pkbmal-zaytun.sch.id ,Indramayu. A light drizzle fell that morning. The road to Babakan Plasa (Baplas), Gantar, Indramayu, was still wet from the rain that had just subsided. However, the weather couldn’t stop the mothers from the Caring Wives Association (PIP). With raincoats covering their bodies, they continued on to the activity location. For them, the Ramadan Safari was not just a journey, but an endeavor to spread knowledge, strengthen relationships, and foster family harmony. The 1447 H Ramadan Safari by the Caring Wives Association (PIP) was held again as a regular event that brings together mothers in the spirit of togetherness and family empowerment. This time, the event took place at the Babakan Plasa (Baplas) Block, Gantar District, Indramayu, hosted by local residents. From the beginning, the atmosphere was warm and friendly. A speech from a representative from the Baplas Block opened the event with an expression of gratitude for the presence of the Safari Ramadhan group. The presence of mothers from various regions was expected to not only strengthen relationships but also bring benefits through the shared knowledge. The participants were members of the Al Zaytun Community Service Center (PKBM) and members of the Indonesian Urban Village Cooperatives (KSU Desa Kota Indonesia), which has been active in various educational and community empowerment activities. Next, Umi Rohimah, representing PIP, presented the organization’s program plans for the next two months. The programs are aimed at strengthening women’s roles within the family while increasing social awareness within the community. Entering the material session, Dewi Asih Nusantari, also a representative of the Indonesian Urban Village Cooperatives (Kodeko), presented the first speaker. In her presentation, Dewi encouraged participants to understand Kodeko from a philosophical perspective. She explained in detail what Kodeko is, why communities need to participate in Kodeko, how to implement it, and its purpose. She emphasized that awareness of Kodeko is not merely an administrative obligation or savings, but part of a collaborative effort to build economic independence. Through her presentation, Dewi hoped that residents of the Baplas Block who had not yet registered with Kodeko would join soon. Meanwhile, those who had already registered were encouraged to be more consistent in fulfilling their savings obligations as a commitment to building shared economic strength. The next presentation was delivered by Umi Umutiah, S.Psi, a tutor at the Al Zaytun Community Service Center (PKBM). She presented parenting knowledge with an educational and interactive approach. In her presentation, Umi Umutiah presented various case studies closely related to the lives of mothers, from communication with children to the dynamics of family relationships. This drew enthusiastic responses from the participants, who shared their experiences. According to her, a good understanding of parenting can help create a harmonious family, facilitate communication between husband and wife, and create a warm home environment conducive to children’s growth and development. The series of activities then concluded with a presentation by Mrs. Maryuni on the five love languages. Through this presentation, participants were encouraged to recognize their own and their partners’ love languages, thereby fostering stronger and more understanding family relationships. The discussion was lively and enthusiastic. Many participants felt the material presented was very relevant to their daily lives. Laughter, stories, and reflections on personal experiences colored the atmosphere until the end of the event. The Ramadan Safari in the Baplas Block that day ultimately became more than just a gathering. It became a shared learning space for mothers to strengthen their roles in their families and communities. Amidst the drizzle that accompanied their journey that morning, the spirit of sharing knowledge was even more warm and served as a reminder that from strong families, strong communities are born.** Indramayu, March 10, 2026 By: Dewi Asih Nusantari
Dedikasi Tutor PKBM di Kejuaraan Karate Bupati Cup Majalengka 2026
https://pkbmal-zaytun.sch.id/– Majalengka – Kejuaraan Bupati Cup Majalengka yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, berlangsung meriah dan penuh semangat sportivitas. Ajang ini diikuti oleh 350 peserta dari berbagai daerah dan kelompok usia, mulai dari Pra Usia Dini hingga Veteran, serta mempertandingkan kategori Kata, Kumite, dan Festival. (15/2/26) Kejuaraan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Majalengka, yang menegaskan pentingnya olahraga sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda, khususnya dalam menanamkan nilai disiplin, sportivitas, dan kejujuran. Ragam Kategori Pertandingan Dalam kejuaraan ini, peserta terbagi dalam dua kategori utama, yaitu: – Kata: penampilan jurus yang menekankan teknik, ketepatan, dan kekuatan. – Kumite: pertandingan tarung yang menonjolkan strategi, kecepatan, dan kontrol diri. Adapun kelas usia yang dipertandingkan meliputi: – Pra Usia Dini – Usia Dini – Pra Pemula – Pemula – Kadet – Senior – Veteran Selain itu, terdapat Kategori Festival sebagai wadah pembinaan bagi atlet pemula agar mendapatkan pengalaman bertanding secara positif. Peran Tutor PKBM di Ajang Prestisius Dalam kejuaraan ini, Hartono, M.Pd., selaku Sekretaris sekaligus Tutor PKBM Al-Zaytun, kembali dipercaya untuk memimpin para wasit dan juri. Kepercayaan tersebut menjadi bukti kompetensi dan integritas beliau di dunia olahraga karate nasional. Hartono merupakan: Sabuk Hitam DAN 4 Nasional Karate-Do Gojukai Indonesia, Wasit A Kumite Nasional, dan Juri A Kata Nasional. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, beliau terus meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan dan sertifikasi, sebagai bentuk pengabdian bagi almamater Ma’had Al-Zaytun. Karate dan Pendidikan Karakter Kejuaraan ini bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga pembentukan karakter. Melalui olahraga karate, peserta dilatih untuk disiplin, menghargai lawan, mengendalikan emosi, dan menjunjung tinggi sportivitas nilai-nilai yang sejalan dengan misi PKBM dalam membentuk warga belajar yang unggul dan berakhlak. Epilog: PKBM Al Zaytun Inspirasi Pendidikan Indonesia Kejuaraan Bupati Cup Majalengka 2026 menjadi bukti bahwa pendidikan dan olahraga dapat berjalan seiring dalam mencetak generasi berkualitas. Dedikasi Hartono, M.Pd. menunjukkan bahwa seorang tutor PKBM mampu memberi kontribusi nyata di tingkat daerah hingga nasional.Semoga semangat ini terus menginspirasi dunia pendidikan dan olahraga di Indonesia.(Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah Oleh: Hartono, M.Pd.
Belajar dari keteguhan Ibu ibu Warga Belajar PKBM Al Zaytun
https://pkbmal-zaytun.sch.id/ Indramayu – Matahari pagi itu seolah kalah terang dengan semangat yang terpancar dari Gedung Bazar. Di tengah musim penghujan, langit justru menyuguhkan biru yang bersih, menyambut deretan kerudung merah, biru, dan oranye yang mulai memadati ruangan. Hari itu bukan sekadar upacara pembukaan pembelajaran PKBM biasa; hari itu adalah panggung pembuktian bagi mereka yang menolak menyerah pada usia dan keterbatasan. Dari Teguran Menjadi Kekuatan Hanya tiga pekan berselang sejak sebuah komentar jujur terlontar dari Pembina PKBM, Ustadz Khoerun, S.H. Kala itu, persiapan yang minim membuat penampilan petugas upacara terasa kurang maksimal. “Harus dipersiapkan lagi, ya… karena terlihat kurang siap,” kenang para warga belajar (WB) akan teguran halus tersebut. Namun, alih-alih ciut, teguran itu justru menjadi bahan bakar. Di bawah komando Ibu Sarmi selaku ketua kelas C2, tim petugas yang terdiri dari Ibu Nurbaiti (MC), Ibu Ramini (Dirigen), serta tim pembaca Sapta Janji tiga bahasa (Ibu Sarmi, Ibu Rihatun, dan Ibu Karsih) memutuskan untuk menempa diri. Semangat mereka meledak di luar jam formal. Tak cukup dengan latihan usai senam kejasmanian, mereka sepakat menambah jam terbang dengan berlatih di kediaman tutor mereka, Ustadzah Nurdiana. “Latihan semua saja Ustadzah, agar semuanya bisa!” Kalimat itu meluncur dari bibir mereka saat ditanya siapa yang ingin fokus berlatih. Sebuah mentalitas juara yang jarang ditemukan: mereka tidak hanya ingin sekadar “tampil”, tapi ingin “menguasai”. Panggung Pembuktian Pukul 08.15 WIB, pembuktian itu tiba. Suara lantang MC membelah ruangan, diikuti gerakan tangan Ibu Ramini yang presisi memimpin lagu Indonesia Raya. Yang paling memukau adalah pembacaan Sapta Janji dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang mengalir fasih tanpa celah. Bahkan, salah satu petugas yang awalnya didera grogi berat, nyatanya mampu menguasai panggung dengan sangat apik. Ustadz Khoerun tak dapat menyembunyikan apresiasinya. “Warga belajar yang bertugas hari ini sudah bagus sekali,” pujinya yang langsung disambut riuh tepuk tangan bahagia. Pesan untuk Masa Depan Dalam arahannya, Ustadz Khoerun mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya soal teks di buku, tapi tentang aplikasi nyata seperti pembibitan tanaman dan pengolahan pangan yang sedang mereka tekuni. Menjelang Tes Kompetensi Akademis (TKA) pada 14 Maret mendatang, para ibu ini telah membuktikan satu hal: Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Refleksi pagi itu sederhana namun mendalam: belajar tak terbatas oleh ruang kelas, usia, maupun bidang akademis. Kita belajar dari ibu ibu warga belajar PKBM: Selama ada ketekunan dan kemauan untuk bangkit dari kegagalan, siapa pun bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. (Amri-untuk Indonesia) Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.
Pelajar Kelas VII Al Zaytun, Delegasi Rusia
Seorang pelajar kelas VII MTs Ma’had Al-Zaytun berdiri di forum simulasi PBB dunia. Bukan untuk lomba pidato. Bukan untuk jalan-jalan akademik. Tapi untuk berdebat, bernegosiasi, dan menyusun resolusi global bersama ratusan delegasi muda dari berbagai negara di forum Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN). Namanya Green Chaverin Khalilurrahman. Usianya baru belasan. Namun di ruang itu, ia mewakili Rusia. Ia berbicara tentang konflik, kemiskinan, dan krisis lingkungan dengan pendekatan data, logika, dan diplomasi. Ini bukan sekadar pengalaman pribadi. Ini potret model pendidikan. Apa yang sebenarnya terjadi di Ma’had Al-Zaytun sehingga pelajar seusia ini mampu duduk setara dengan dunia? Di episode Al-Zaytun Files, Dynasti menggali pengalaman Green dari dalam ruang sidang MUN: bagaimana mekanisme debat, bagaimana negosiasi terjadi, dan bagaimana pelajar dilatih melihat dunia dari perspektif bangsa lain. Kita akan melihat bahwa yang dilatih bukan hanya pengetahuan, tetapi keberanian berpikir, ketajaman analisis, dan kedewasaan bersikap. Ini bukan cerita kebanggaan semata. Ini pertanyaan besar bagi pendidikan Indonesia. Jika kelas VII sudah bicara dunia, pendidikan seperti apa yang sedang dibangun di Al-Zaytun? Dan apakah kita siap melahirkan lebih banyak generasi yang berani menatap panggung global?
Al-Zaytun Community Learning Center (PKBM) National Webinar: Cultivating Awareness, Fostering Humanity
By Ali Aminulloh PKBM Al-Zaytun – In an era where screens are on longer than our consciences, and presence is often eclipsed by simply logging in, a question looms large in our consciousness: what are we learning for? On Tuesday evening, January 6, 2026, this question was not answered with empty rhetoric, but with an invitation to think, even to challenge, through a meaningful virtual space. Through a Zoom Meeting from 7:00 PM to 8:00 PM, Al-Zaytun Community Learning Center (PKBM) opened the even semester of the 2025/2026 academic year for online class learners. This academic momentum was packaged as a National Webinar entitled “Cultivating Awareness, Fostering Humanity,” a title that is not only beautiful but also challenges everyone to reflect. Webinars included learners and tutors from Al-Zaytun Community Learning Center (PKBM). They were not simply there to open the semester, but to raise awareness. Excellence Isn’t Something to Be Proud of, But to Be Accountable For As the main speaker, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME, Head of PKBM Al-Zaytun, opened the event with a reflective prologue. He stated that the A Excellence predicate achieved by PKBM Al-Zaytun is something to be grateful for, but more than that, it must be accounted for. “Excellence is not merely administrative,” he emphasized. “It must be present in the quality of learning and educational implementation.” This is where the moral standards of education are established: high accreditation must align with the quality of the people being produced. Why Must We Be Educated? The presentation continued on the main foundations of education. Religiously, QS. Al-Mujadilah verse 11 elevates the status of those with knowledge. Legally, Article 31 of the 1945 Constitution affirms education as a right and obligation of citizens. Socially and sociologically, education serves as a ladder to mobility and a means of transmitting noble cultural values. Education, in this framework, is not an optional option, but a civilizational necessity. National Dignity is Named Education Dr. Ali links the quality of a nation to the quality of its human resources, and the quality of its human resources to education. The measure is clear: the Human Development Index (HDI), which rests on three pillars: health, the economy, and education. He highlighted Mean Years of Schooling (MYS), or the average length of schooling for the population aged 25 and over. He argued that every citizen who does not receive an education not only loses their personal rights but also lowers the nation’s dignity on the international stage. At Least High School Level: A Mission of Awareness In Al-Zaytun’s vision as an education center, the minimum target is firmly stated: secondary education (SMA/Package C). The entire extended family, including guardians of students in the regions, are encouraged to be educated. Not for the sake of a diploma alone, but for the sake of the quality of the Indonesian people. A Diploma Is Administration, Awareness Is Substance This is where the core message sinks in. “A diploma is administration,” said Dr. Ali, “but awareness is substance.” True education aims to instill awareness, foster humanity, and humanize humans, ngorangke wong. The Trilogy of Awareness is the fruit of contemporary education: 1. Philosophical awareness: understanding the essence of life, what, why, how, and why. 2. Ecological awareness: recognizing humans as part of nature, not its rulers. 3. Social awareness: building empathy, respect, and a spirit of mutual care. When Nature is Damaged, Education Questions Quoting Surah Ar-Rum verse 41: “dzaharal fasefu fil barri wal bahri bima kasabat aydinnas,” damage to land and sea is the result of human hands. Education, he emphasized, must produce people who care for the earth, not destroy it. It affirms the belief that humans are part of nature. Humans cannot live without nature. Therefore, it is humans who need nature, not the other way around. Reflections on humanity are deepened through the lyrics of the Polytechnic Hymn: “There’s no need for flags or voices, just small, meaningful steps. Humanity is not just a call; it’s born in concrete actions. Planting awareness, cultivating humanity. From a clear heart, a world that cares for each other is born.” Learners are encouraged to reflect this awareness in concrete actions, in their daily behavior. From this, we will emerge as people who love, care for, and support each other, moving towards a better life in the future. The Challenge of the “Adult Class” Online learning for the Al Zaytun Community Service Center’s Adult Class is indeed flexible, but full of temptations. Attending by logging in, absent mentally. The key is awareness: we need knowledge, and knowledge needs guidance. Tutors and teachers are not formalities, but rather legitimacy of understanding. Learning with the Heart The webinar concluded with a simple yet profound invitation: engage in the learning process wholeheartedly. Because only a process undertaken with sincerity yields true meaning, not mere ceremonial formality. The tagline also echoes as a reminder: PKBM Al-Zaytun: Enlightening, Advancing. This webinar, more than just opening the semester, raises awareness that true education always begins with the most fundamental question: what kind of human being do we want to raise?** Indonesia, January 7, 2026
keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan Selamat Tahun Baru 2026
keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan Selamat Tahun Baru 2026 semoga tahun 2026 tahun yang lebih baik dan lebih banyak berkah yang kita terima yang menjadikan kita semua jadi lebih bersyukur berikut video YouTube Selamat Tahun Baru 2026 #alzaytun #pkbmalzaytun #alzaytunindramayu #alzaytunpkbm #kejarpaket #kejarpaketc #tkakejarpaketC