keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan Selamat Tahun Baru 2026 dengan itu mari ramaikan dengan memakai twitb ini ————– Cara mengisi foto di Twibbon: 1. Klik link twibbon 2. Klik pilih foto (siapkan foto diri yang akan digunakan) 3. Atur foto agar sesuai dengan lingkaran frame foto, foto dapat digeser, diperbesar/ diperkecil dg menggunakan geseran 2 jari 4. Klik selanjutnya 5. Klik unduh 6. Cari hasil unduhan di gallery foto ponsel anda 7. Upload ke medsos anda, dan sertakan (copypaste) link twibbon agar dapat digunakan juga oleh yang lain. 8. Terimakasih untuk partisipasinya Ini link nya : https://twb.nz/pkbmaz-tahunbaru2026
Selamat dan Tadzim untuk Para Pejuang Pendidikan PKBM Al Zaytun
Oleh: Ali Aminuloh pkbmal-zaytun.sch.id – Melalui SK BAN-PDM no. 602/BAN-PDM/SK/2025 tanggal 19 Desember 2025, Paket A, B, dan C mendapatkan akreditasi A (Unggul) semuanya. Atas pencapaian ini kami manajemen PKBM Al Zaytun mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada para tutor dan para pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan acara visitasi akreditasi tahun 2025. Hari ini bukan sekadar tentang nilai akreditasi, Hari ini adalah tentang ketulusan yang akhirnya menemukan pengakuan. Akreditasi A (Unggul) untuk seluruh satuan pendidikan Paket A, Paket B, dan Paket C adalah saksi hidup dari perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Tentang hari-hari melelahkan yang dijalani tanpa keluhan, tentang kerja sunyi yang jarang terlihat, tentang keringat yang jatuh tanpa sorak sorai, namun disertai keyakinan: pendidikan harus dijaga marwahnya. Di balik hasil “Unggul” ini, ada tim yang saling menguatkan, ada dedikasi yang tak pernah dihitung dengan waktu, ada keikhlasan yang bekerja bahkan ketika tak ada yang melihat. Dan hari ini, semua itu dibalas dengan kemuliaan hasil. Namun kita tahu, keunggulan sejati bukan berhenti pada pengakuan, melainkan terus hidup dalam komitmen. Capaian ini bukan puncak, melainkan pintu gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar: menghadirkan pendidikan yang memuliakan manusia, menumbuhkan kesadaran, toleransi, dan perdamaian. PKBM Al Zaytun telah membuktikan bahwa pendidikan nonformal bukan pelengkap, melainkan penjaga harapan, penyambung masa depan, dan lentera bagi mereka yang ingin bangkit dan bermartabat. Teruslah melangkah dengan keyakinan yang sama, dengan semangat yang lebih menyala, menuju Al Zaytun sebagai Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian, demi terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Bravo PKBM Al Zaytun. Hari ini kita bersyukur, esok kita melangkah lebih kuat. Mendidik dan membangun semata mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Atas nama keluarga besar PKBM Al Zaytun Dr.Ali Aminulloh, M. pd. i. ME
HIDUP BERNEGARA HUKUM: IRONI NEGARA HUKUM DAN REFLEKSI KRITIS ATAS PERJALANAN BANGSA INDONESIA
Oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id, Indonesia – Ahad, 26 Oktober 2025, menjadi pekan ke-20 dalam rangkaian Pelatihan Pelaku Didik Berkelanjutan di Al-Zaytun yang konsisten mengusung misi besar: mewujudkan transformasi revolusioner pendidikan berasrama menuju pendidikan modern abad XXI berbasis LSTEAMS — Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual. Kegiatan ini diikuti tidak kurang dari 2.700 peserta yang terdiri dari eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, Dosen, Guru, Mahasiswa, Pelajar SLTA, petani, pimpinan unit-unit kerja pendukung pendidikan, dan wali santri. Pada pekan ini, aspek Law (hukum) menjadi fokus pembahasan. Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Mukti Fajar Nur Dewata, S.H., M.Hum, Komisioner Komisi Yudisial RI periode 2020–2025 sekaligus Ketua KY 2021–2023. Ia juga dikenal sebagai guru besar di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Sultan Agung Semarang, Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan perguruan tinggi lainnya. Dalam paparannya yang bertajuk “Hidup Bernegara Hukum: Ironi Negara Hukum dan Refleksi Kritis atas Perjalanan Bangsa Indonesia”, Prof. Mukti Fajar mengajak seluruh peserta untuk merenungi kondisi bangsa yang berdiri di atas prinsip negara hukum, namun masih terseok-seok dalam menegakkan supremasi hukum itu sendiri. Ironi Negara Hukum: Ketika Hukum Tak Lagi Jadi Panglima Indonesia, sejak awal berdirinya, menegaskan diri sebagai negara hukum (rechsstaat), bukan negara kekuasaan (machstaat). Namun, dalam kenyataannya, hukum kerap kali tidak berdiri di atas segalanya. Ia sering berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan, kepentingan politik, bahkan bisnis. Akibatnya, cita-cita luhur dalam Pembukaan UUD 1945 — keadilan sosial, kemakmuran, dan kebebasan — masih terasa jauh dari genggaman, meski era reformasi telah bergulir hampir tiga dekade. Tiga Era Perjalanan Bangsa: Dari Politik, Pembangunan, hingga Kekecewaan Reformasi Menurut Prof. Mukti Fajar, perjalanan bangsa Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era besar. Pertama, era kemerdekaan atau Orde Lama — masa perjuangan politik dan pencarian identitas ideologi. Para pendiri bangsa saat itu berjuang keras menegakkan kedaulatan dan semangat kebangsaan. Kedua, era Orde Baru — masa pembangunan ekonomi dan industrialisasi. Indonesia berhasil tumbuh dalam angka, namun meninggalkan warisan ketimpangan sosial dan ekonomi yang lebar. Ketiga, era reformasi — masa harapan dan kebebasan, yang kini justru banyak menyisakan kekecewaan. Meski sistem demokrasi terbuka luas, realitas sosial masih diwarnai ketidakadilan, korupsi, serta belum tegaknya hukum dan pemerataan kesejahteraan. Pancasila Sebagai Kontrak Sosial: Janji yang Mulai Ditinggalkan Republik Indonesia lahir dari kesepakatan luhur yang dapat disebut sebagai kontrak sosial bangsa. Kesepakatan itu tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945, yang menjadi dasar filosofis dan moral kehidupan bernegara. Namun, persoalan muncul ketika komitmen terhadap prinsip negara hukum mulai diabaikan. Hukum, yang seharusnya menjadi panglima, justru sering tunduk pada kepentingan politik dan ekonomi. “Ciri bangsa besar bukanlah kekuatan militer atau ekonominya,” tegas Prof. Mukti Fajar, “tetapi keberanian untuk menegakkan hukum sebagai acuan utama dalam mencapai keadilan.” Korupsi: Kejahatan Kemanusiaan yang Merampas Hak Rakyat Fenomena korupsi menjadi cermin nyata kegagalan kita sebagai negara hukum. Jika pada masa Orde Baru praktik korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini justru dilakukan terang-terangan, bahkan dalam skala triliunan rupiah. “Korupsi bukan lagi sekadar tindak pidana, tapi bentuk perampokan hak rakyat,” ujarnya. Ia mencontohkan kasus perampasan tanah warga di Banten untuk proyek strategis nasional. Sawah dan tambak milik rakyat diurug paksa tanpa kesepakatan yang adil. Kasus semacam ini menunjukkan betapa hukum — yang seharusnya melindungi rakyat — justru bisa berubah menjadi alat penindasan. Ketimpangan Sosial dan Budaya Agraris yang Melanggengkan Korupsi Ketimpangan sosial-ekonomi yang kian lebar juga memperparah persoalan. Di satu sisi, para pejabat dan elite politik menikmati kemewahan; di sisi lain, jutaan rakyat masih hidup dalam kemiskinan. Di negara maju seperti Inggris, perdana menteri bisa tinggal di rumah dinas sederhana. Namun di Indonesia, kemewahan sering dijadikan ukuran kehormatan. Masyarakat pun masih terjebak dalam budaya agraris lama, di mana kehormatan seseorang diukur dari kekayaan, bukan dari kontribusinya bagi bangsa. Pola pikir ini tanpa disadari mendorong banyak pejabat untuk melakukan korupsi demi memenuhi ekspektasi sosial yang keliru. Pendidikan: Harapan Terakhir Membangun Peradaban Di tengah berbagai persoalan bangsa, Prof. Mukti Fajar menegaskan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan menuju bangsa yang beradab. Lembaga seperti Al-Zaytun, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat melahirkan generasi berintegritas dan berjiwa pembaharu. “Al-Zaytun tidak hanya mengajarkan ilmu,” ujarnya, “tetapi juga membangun kesadaran hukum, moral, dan tanggung jawab sosial. Inilah fondasi sejati bangsa beradab.” Menutup dengan Harapan Indonesia akan menjadi bangsa besar bukan karena kekayaan alam atau banyaknya penduduk, melainkan karena komitmen teguh pada keadilan dan hukum. Kini, saatnya bangsa ini kembali ke jati dirinya: menjunjung supremasi hukum, menghargai karya dan perbuatan, bukan sekadar materi. Dengan pendidikan yang memanusiakan manusia, cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bahagia bukanlah utopia — melainkan masa depan yang dapat diwujudkan.
Mati Hidup Bangsa: Peran Krusial Teknologi Pangan dalam Menjamin Masa Depan Indonesia
Oleh Ali Aminulloh pkbmalzaytun.sch.id Indonesia – Ahad, 7 Desember 2025, Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun memasuki pekan ke-27 yang strategis. Tema besar yang diusung dalam momentum ini adalah “Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama menuju Pendidikan Modern Abad XXI dan 100 Tahun Usia Kemerdekaan Indonesia”. Pendidikan yang dikembangkan di sini berlandaskan prinsip LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual), menunjukkan komitmen Al-Zaytun dalam mencetak generasi yang holistik. Pada sesi penting ini, panitia menghadirkan narasumber berkompeten, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., Rektor Universitas Sahid dan seorang Guru Besar Teknologi Pangan, yang memaparkan materi penting tentang “Peran Teknologi Pangan Sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional”. Acara “Pelatihan Pelaku Didik Ke-27” ini menjadi panggung kehormatan untuk membahas sebuah isu yang sering terabaikan, namun sesungguhnya adalah masalah fundamental bagi kelangsungan sebuah negara: ketahanan pangan nasional. Materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mengamankan perut bangsa. Warisan Soekarno dan Janji Kedaulatan Pangan Pentingnya isu ini bukanlah hal baru. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, telah mewariskan pesan tegas pada 27 April 1952: “Mati hidup bangsa kita di kemudian hari oleh karena soal yang hendak saya bicarakan itu mengenai soal persediaan makanan.” Pernyataan yang dilontarkan saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian (kini IPB University) itu menjadi pengingat abadi bahwa di tangan generasi mudalah masa depan perut bangsa dipertaruhkan. Selama ini, kita akrab dengan istilah Ketahanan Pangan, yang menurut UU Pangan No. 18 Tahun 2012, berfokus pada terpenuhinya pangan dalam jumlah, mutu, dan ketersediaan yang cukup. Sayangnya, konsep ini masih mentolerir sumber pangan dari impor, seperti yang terlihat pada negara maju minim lahan seperti Singapura. Cita-cita yang lebih mulia bagi Indonesia, sebagai negara agraris-maritim, adalah mencapai Kedaulatan Pangan. Ini berarti bangsa ini harus mampu berdiri tegak, mandiri, dan berdaulat penuh di bidang pangan. Ironisnya, meskipun berlimpah lahan, kita masih menghadapi masalah gizi rendah dan kesulitan akses pangan yang merata. Sebagai negeri tropis, Indonesia dianugerahi keragaman pangan lokal yang luar biasa, jauh melampaui beras. Untuk sumber karbohidrat, kita memiliki cadangan melimpah seperti ketela pohon, jagung, sagu, ubi jalar, hingga sorgum dan jawawut yang potensial. Di sektor protein, selain ikan laut (yang mendorong rencana besar Al-Zaytun untuk kapal penangkap ikan) dan ikan air tawar, protein nabati kita tak tertandingi. Ada kacang-kacangan, jamur, hingga daun kelor, sebuah superfood lokal yang mudah tumbuh namun kaya protein dan senyawa penting anti-inflamasi. Bahkan, protein hewani pun kini mulai diperhitungkan dari sumber tak terduga seperti serangga. Tentu saja, produk fermentasi andalan seperti Tempe tetap menjadi mahkota pangan fungsional, kaya asam amino dan isoflavon yang melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Kekayaan ini disempurnakan oleh rempah-rempah yang melimpah—jahe, kunyit, cengkeh, hingga andaliman. Rempah ini bukan sekadar bumbu; ia adalah sumber antioksidan vital yang mengukuhkan posisi pangan lokal sebagai pangan fungsional, memberikan manfaat kesehatan di luar nutrisi dasar. Paradoks Miris: Ketika Pangan Berlimpah, Sampah dan Gizi Menjerat Meskipun sumber daya melimpah, sistem pangan nasional kita dihantui masalah yang mendasar. Salah satu yang paling kasat mata adalah tingginya susut hasil panen (post-harvest loss) yang terjadi di tingkat produksi dan pengolahan. Ini adalah kerugian ganda: mengurangi ketersediaan dan menurunkan kualitas produk, sering kali akibat penanganan yang kurang tepat, minimnya teknologi, dan infrastruktur yang belum memadai. Kondisi ini diperparah dengan status Indonesia sebagai salah satu penghasil sampah makanan (food waste) terbesar di dunia. Data menyebutkan, 23 hingga 48 juta ton pangan terbuang setiap tahun (setara 115-184 kg/kapita/tahun) antara tahun 2000-2019. Sisa makanan bahkan menjadi komposisi sampah terbesar secara nasional. Jika dihitung dalam kalori, sekitar seperempat kebutuhan kalori harian kita (614 kkal/kapita/hari) hilang begitu saja dalam rantai pasok. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu beban gizi ganda tiga: gizi kurang (seperti stunting), gizi lebih (overweight dan obesitas), dan defisiensi zat gizi mikro. Tantangan ini semakin kompleks dengan ancaman perubahan iklim, konversi lahan, dan peningkatan populasi, yang semuanya mendesak perlunya solusi berbasis ilmu pengetahuan. Masa Depan di Laboratorium: Teknologi Pangan dan Inovasi Tak Terbendung Di sinilah Teknologi Pangan berperan sebagai jawaban. Ranah ilmu ini berfokus pada diversifikasi pangan, inovasi pengolahan, dan efisiensi melalui digitalisasi. Saat ini, inovasi telah melangkah jauh, bukan hanya sekadar mengawetkan. Tren global kini didominasi oleh solusi protein berkelanjutan, seperti analog daging nabati (plant-based analog) yang meniru rasa dan tekstur daging dari kedelai atau rumput laut, menawarkan alternatif protein yang lebih hemat lahan dan air. Lebih radikal lagi, ada konsep daging kultur (cultured meat) atau pangan seluler, yaitu daging yang diproduksi dari kultur sel di laboratorium, yang secara signifikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan kebutuhan lahan. Selain itu, ilmu pengawetan pun berevolusi. Ada teknologi High Pressure Processing (HPP) yang mengawetkan makanan tanpa panas tinggi agar nutrisi tidak rusak, hingga nanoteknologi pangan yang menciptakan mikroenkapsulasi untuk “menyelimuti” vitamin atau asam lemak esensial agar awet. Semua ini disempurnakan oleh kemasan cerdas (smart packaging) yang mampu menyerap oksigen atau etilen untuk memperpanjang usia simpan secara real-time. Tak ketinggalan, digitalisasi dan Kecerdasan Buatan (AI) kini merambah manajemen rantai pasok, membantu penyortiran otomatis, mengoptimalkan logistik, hingga mendeteksi kerusakan pada buah, semua demi mengurangi susut dan limbah pangan secara masif. Jaminan di Balik Kemasan: Menepis Ketakutan Pangan Modern Dalam era konsumsi cepat, muncul kekhawatiran masyarakat terhadap Ultra Processed Food (UPF) dan penggunaan bahan aditif sintetis. Peran teknologi pangan di sini adalah sebagai penjamin keamanan. Tidak semua masyarakat memiliki akses ke produk segar setiap saat, terutama di 17 ribu pulau Indonesia. Industri pangan hadir untuk menciptakan produk yang aman, bergizi, dan memiliki umur simpan panjang. Para ahli teknologi pangan dan industri memiliki kewajiban untuk mematuhi regulasi ketat yang diatur oleh Badan POM, yang senantiasa mengacu pada standar internasional Kodeks (WHO dan FAO). Setiap produk yang legal harus terkontrol. Penyimpangan (seperti penggunaan formalin atau pewarna terlarang) adalah tindakan kriminal yang dikategorikan sebagai abuse oleh oknum, bukan kegagalan dari ilmu teknologi pangan itu sendiri. Mengenai hilangnya gizi akibat pengolahan, para ahli bekerja dengan perhitungan cermat. Dalam proses sterilisasi, misalnya, mereka menerapkan konsep sterilisasi komersial, yaitu batas pemanasan yang bertujuan mematikan mikroba berbahaya dan memperpanjang umur simpan, sambil memperhitungkan dan meminimalisir potensi kerusakan gizi, bukan menghilangkannya sama sekali. Refleksi untuk Indonesia yang Lebih Sejahtera
Keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan selamat Wisuda ke 6 IAI Al Azis
Salamun ‘alaikum Merdeka Keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan Selamat Wisuda ke 6 untuk IAI Al Azis Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi Walhamdullilah berikut video Keluarga besar PKBM Al Zaytun mengucapkan selamat Wisuda ke 6 IAI Al Azis #alzaytun #pkbmalzaytun #alzaytunindramayu #alzaytunpkbm #kejarpaket #kejarpaketc #tkakejarpaketC
PAS [ Penilaian Akhir Semester] Semester Ganjil tahun ajaran 2025/2026 PKBM Al Zaytun
Salamun ‘alaikum Merdeka Alhamdullilah telahpun terlaksana dengan sukses PAS [ Penilaian Akhir Semester] Semester Ganjil tahun ajaran 2025/2026 PKBM Al Zaytun Pada PAS kali ini semua warga belajar dapat mengikuti dan menjawab soal yang sudah di siapkan dengan baik. Semua ini tidak lepas dari bimbingan semua Tutor yang sudah mendampingi warga belajar sampai di titik ini. Begitupun kepada Panitia beserta tim yang telah berhungkus rumus membantu menyiapkan dan mempersiapkan PAS ini dengan baik. Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi Walhamdullilah berikut video PAS [ Penilaian Akhir Semester] Semester Ganjil tahun ajaran 2025/2026 PKBM Al Zaytun #alzaytun #pkbmalzaytun #alzaytunindramayu #alzaytunpkbm #kejarpaket #kejarpaketc #tkakejarpaketC
Visi Syaykh Al-Zaytun: Pembangunan Bangsa Berlandaskan Ketuhanan, Reformasi Ekonomi, dan Kedaulatan Pangan Mandiri
Oleh Ali Aminulloh (Disarikan dari kuliah umum Syaykh A.S. Panji Gumilang) pkbmal-zaytun.sch.id, Indramayu, 30 November 2025 — Ma’had Al-Zaytun secara konsisten menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan berasrama sebagai wujud sumbangsih nyata kepada negara. Melalui agenda rutin Pelatihan Pelaku Didik yang berfokus pada integrasi ilmu dalam kerangka L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Spiritual), lembaga ini bertujuan mencetak kader bangsa yang adaptif dan inovatif. Pada sesi ke-26, setelah mendengarkan paparan detail mengenai transformasi pertanian modern oleh Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Faqih, Rektor UGJ, Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, memberikan respons yang cemerlang. Paparan Syaykh tidak hanya menyambut ide-ide modernisasi pertanian, tetapi juga menyempurnakannya dengan meletakkan fondasi filosofis kenegaraan, kritik terhadap sistem ekonomi, dan rencana reformasi pendidikan vokasi yang radikal. Fondasi Negara Berketuhanan: Prinsip Ulil Amri dan Kepatuhan Sistem Syaykh Al-Zaytun membuka paparannya dengan menegaskan bahwa sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila dengan unsur utama Ketuhanan Yang Maha Esa, setiap langkah, program, dan gerak harus didasarkan pada prinsip Ketuhanan. Beliau kemudian merujuk pada ajaran Ilahi yang memerintahkan ketaatan: “Atiullah wa ati rasul wa ulil amri minkum” (Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian). Syaykh menjelaskan bahwa setelah Rasulullah wafat (mā kāna muḥammadun aba aḥadim mir rijālikum wa lākir rasụlallāhi wa khātaman-nabiyyīn), ajaran Ilahi yang tidak pernah putus tersemat pada Ulil Amri. Dalam konteks negara Indonesia, Syaykh menegaskan bahwa Ulil Amri adalah Sistem Negara itu sendiri. Oleh karena itu, sistem yang telah ditetapkan oleh negara harus dipatuhi oleh seluruh rakyat. Sudut pandang ini menempatkan ketaatan pada sistem negara sebagai ketaatan yang paralel dengan ajaran Ilahi dalam bingkai Pancasila. Kritik Struktural Ekonomi dan Syarat Kemajuan Bangsa Syaykh Al-Zaytun kemudian mengalihkan sorotan pada masalah fundamental dalam sistem ekonomi dan perbankan di Indonesia yang dinilai masih menghambat kemajuan. Beliau secara eksplisit mengkritisi praktik perbankan, termasuk konsep Murabahah dan praktik Riba yang cenderung membebani nasabah dan merusak sistem ekonomi. Beliau mencontohkan bahwa bahkan sebagai nasabah prioritas di perbankan, mengajukan pinjaman untuk permodalan masih menghadapi kesulitan. Beliau juga melakukan penawaran suku bunga hingga 10% agar terhindar dari riba, tapi tetap belum bisa. Ini menunjukkan adanya masalah kepercayaan dan pemahaman structural yang tidak pas. Syaykh dengan tegas menyatakan bahwa ciri kemajuan suatu bangsa adalah ketika rakyatnya memiliki akses yang mudah terhadap modal atau uang di lembaga perbankan . Di negara modern, tinggal “Kring, besok saya pinjam uang sekian, langsung keluar.”Ujar Syaykh.. Beliau menyimpulkan, jika kondisi perbankan dan akses modal rakyat masih belum seperti itu, Indonesia belum dapat dikatakan maju. Reformasi Pendidikan Vokasi dan Penciptaan Ekosistem Mandiri Untuk mengatasi masalah struktural dan mencapai kemajuan, Syaykh menekankan perlunya penataan ulang pendidikan yang berfokus pada Pendidikan Vokasi dan Politeknik. Syaykh Al-Zaytun dengan tajam membedakan fungsi lembaga pendidikan tinggi di Indonesia saat ini: “Yang lebih dibutuhkan negara saat ini bukan perguruan tinggi penghasil teori, tapi lembaga pendidikan yang mampu mempraktekkan teori. Itulah Politeknik. Yang memproduksi teori itu Universitas.” Jurusan yang diajukan harus secara langsung menjurus kepada penguatan ketahanan pangan nasional, dengan urutan prioritas: 1. Pertanian 2. Perikanan 3. Peternakan 4. Teknik Mesin Pertanian 5. Kehutanan Sebagai langkah nyata, Syaykh mencanangkan agar Politeknik yang akan dibuka di Al-Zaytun tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat produksi. Beliau memberikan instruksi tegas, “Tahun depan, kalau sudah dibuka politeknik, tidak boleh ada petani Al-Zaytun yang membeli traktor di toko.” Sebaliknya, petani Al-Zaytun harus membeli alat-alat pertanian dan kendaraan dari Politeknik sendiri. Alat pertanian diberi nama Al-Muriyat, dan kendaraan angkut diberi nama Al-Adiyat. Langkah ini bertujuan menciptakan ekosistem mandiri di Indramayu, daerah yang memang ditetapkan sebagai lumbung pangan. Dengan demikian, Al-Zaytun menjadi model integrasi ilmu, produksi, dan ekonomi dalam satu lingkaran tertutup, memastikan inovasi dan modal berputar di dalam lingkungan sendiri. Penutup dan Kolaborasi Lintas Lembaga Syaykh Al-Zaytun menutup paparannya dengan menegaskan pentingnya kolaborasi, agar gayung bersambut antara berbagai lembaga yang berperan dalam membangun bangsa, termasuk Rosehu Nafil Ilmi dan Ahlu Zikri di Cirebon, serta Tolibul Ailim (Santri Dermayu) yang berada di Al-Zaytun. Melalui model Politeknik yang berorientasi produksi dan kemandirian, Al-Zaytun berupaya menjadi generator utama bagi lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan solusi nyata bagi sektor pertanian, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang kokoh dan berdaulat.
Transformasi Pertanian Modern Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Teknologi dan Kedaulatan Pangan
Oleh Ali Aminulloh (Disarikan dari Kuliah Umum Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Faqih, S.P) pkbmal-zaytun.sch.id, Indonesia – Ma’had Al-Zaytun menunjukkan komitmen tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan berasrama sebagai sumbangsih terhadap negara Indonesia tercinta. Salah satu wujud komitmen ini adalah dengan menyelenggarakan Pelatihan Pelaku Didik secara berkala, menghadirkan para profesor terkemuka di bidang L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Spiritual) untuk memperkaya wawasan para pendidik. Pada kuliah umum ke-26, yang dilaksanakan pada Ahad, 30 November 2025, Ma’had Al-Zaytun menghadirkan seorang pakar di bidang ketahanan pangan, Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Faqih, S.P., M.M., IPU., CIRR., Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ). Dalam forum Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun yang dihadiri oleh berbagai stakeholder, dari Syaykh Al-Zaytun, Pengurus Yayasan Pesantren Indonesia, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, pimpinan unit di Mahad Al-Zaytu, wali santri hingga Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia, Prof. Ahmad Faqih membawakan tema penting: Transformasi Pertanian Modern Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Teknologi dan Kedaulatan Pangan. Sektor pertanian merupakan fondasi peradaban; tidak ada bangsa yang dapat mencapai kemajuan tanpa kemandirian pangan. Indonesia, dengan potensi biologis, geografis, dan demografis yang besar, memiliki peluang signifikan untuk mewujudkan kedaulatan, keberlanjutan, dan kekuatan bangsa berbasis ketahanan pangan. Namun, bangsa ini masih menghadapi tantangan serius, termasuk ketergantungan impor pangan, produktivitas yang stagnan, dan dampak perubahan iklim. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan lompatan inovasi melalui transformasi pertanian modern, didukung teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), otomatisasi, pertanian presisi, dan bioteknologi. Tiga Peran Strategis dan Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045 Visi Indonesia Emas 2045 menekankan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, peningkatan kualitas SDM, dan pembangunan berkelanjutan. Dokumen resmi Bappenas menegaskan bahwa ketahanan pangan dan reformasi pertanian merupakan prasyarat utama untuk mencapai tujuan tersebut. Sektor pertanian memegang tiga peran strategis: Menopang Ketahanan Pangan Nasional: Tanpa pertanian yang kuat, Indonesia akan bergantung pada impor dan rentan terhadap guncangan geopolitik global. Penyerap Tenaga Kerja Terbesar: Terutama di pedesaan, peran ini mengurangi pengangguran dan menjaga kondisi sosial ekonomi. Kontributor PDB dan Industri Turunan: Sektor ini berkontribusi terhadap PDB dan industri turunan seperti agroindustri, bio-energi, dan produk ekspor bernilai tinggi. Tantangan Global dan Lokal yang Mendesak Transformasi pertanian didorong oleh spektrum tantangan yang dihadapi Indonesia, baik secara global maupun lokal: Perubahan Iklim: Menjadi faktor terbesar yang mengancam stabilitas produksi, menyebabkan naiknya permukaan air laut dan berpotensi menenggelamkan daerah pesisir. Urbanisasi dan Penyusutan Lahan: Konversi puluhan hektare lahan produktif menjadi kawasan industri, perumahan, dan properti, serta berkurangnya kualitas lahan akibat pencemaran, terus memengaruhi produksi nasional. Ketergantungan Impor Pangan: Kebutuhan akan beras, kedelai, gula, bawang putih, dan komoditas lainnya yang masih bergantung pada impor sangat berbahaya karena fluktuasi geopolitik global. Swasembada pangan dari berbagai jenis pangan adalah harga mati bagi bangsa ini. Keterbatasan SDM dan Teknologi: Banyak petani pedesaan masih kesulitan mengakses alat mesin pertanian modern dan minim pengetahuan agronomi. Persaingan Pasar Global: Produk pertanian Indonesia harus bersaing dalam kualitas, kuantitas, dan efisiensi. Dibutuhkan inovasi “Technology Obsession” agar buah-buahan dapat dipanen sepanjang masa tanpa mengenal musim, seperti yang pernah diteliti UGJ untuk mangga, demi memenuhi permintaan konsumen dunia. Pilar Transformasi dan Inovasi Pertanian Transformasi pertanian modern berfokus pada perubahan paradigma dari konvensional menuju sistem berbasis data dan efisiensi. Terdapat tiga pilar utama: Pertanian Presisi (Precision Farming): Memanfaatkan sensor, citra satelit, drone, dan data digital untuk memetakan kebutuhan tanaman secara tepat, sehingga meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Otomatisasi dan Mekanisasi: Penggunaan mesin dan robot pertanian terbukti mempercepat proses tanam, pemeliharaan, panen, hingga pengolahan lahan. Di Jepang, pengolahan 2 hektar lahan cukup dengan 1 orang berkat teknologi yang memadai. Bioteknologi: Komponen penting untuk pengembangan varietas unggul dengan produktivitas tinggi dan masa tumbuh yang singkat. Tugasnya adalah mengejar ketertinggalan produksi, misalnya dari Cina yang mampu memproduksi 14 ton padi per hektar, sementara Indonesia hanya 8 ton. Inovasi juga mencakup penerapan Kecerdasan Buatan (AI) dan IoT. Pertanian presisi berbasis AI memanfaatkan sensor tanah, kamera multi-spektra, dan data cuaca real time yang dianalisis algoritma AI, sehingga mampu mendeteksi serangan hama penyakit dan meningkatkan akurasi sistem tanam. Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Nasional Kedaulatan Pangan (kemampuan negara menentukan sistem produksi, distribusi, dan konsumsi pangan berdasarkan sumber daya lokal) dan Ketahanan Pangan (daya tahan negara terhadap ancaman krisis pangan) adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Upaya untuk memperkuat kedahan pangan telah dilakukan melalui program strategis seperti: Peningkatan produksi beras melalui modernisasi irigasi, penyediaan alat mesin pertanian, dan pengembangan benih unggul. Pengembangan program lumbung pangan desa (food estate) di wilayah seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan NTT, yang bertujuan menciptakan kawasan pertanian skala besar terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kolaborasi Quadruple Helix dan Peran Lembaga Pendidikan Keberhasilan transformasi bergantung pada sinergi berbagai stakeholder melalui pendekatan Quadruple Helix (pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat). Pemerintah Daerah (khususnya Indramayu sebagai lumbung pangan nasional) berperan sebagai fasilitator kebijakan, penyedia dukungan infrastruktur irigasi, dan regulasi. Sektor Industri dan Agribisnis memperkuat rantai nilai dan hilirisasi. Keterlibatan agribisnis lokal memungkinkan petani mendapatkan akses pasar yang lebih stabil, harga kompetitif, dan peluang hilirisasi produk, sehingga petani tidak dikuasai tengkulak. Perguruan Tinggi (UGJ dan lainnya) strategis sebagai motor riset dan alih teknologi. Hasil riset, seperti student mobility dan magang riset, harus dikomersialisasi untuk mempercepat transfer teknologi ke petani. Penyuluh Pertanian menjadi jembatan integrasi teknologi, memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dipahami dan diadopsi oleh pelaku utama di pedesaan. Model Living Laboratory Al-Zaytun dan Integrasi L-STEAM Kampus dan pesantren berasrama, khususnya Ma’had Al-Zaytun, memiliki potensi besar sebagai ekosistem Living Laboratory. Lingkungan yang terstruktur, konsisten, didukung lahan praktik luas, serta budaya kerja kolektif, menjadi tempat ideal untuk riset terapan dan uji coba teknologi baru. Peran Pelaku Didik Dalam ekosistem berasrama, seluruh komponen lingkungan memiliki peran sinergis: Guru: Penggerak literasi teknologi pertanian, mengintegrasikan teknologi digital (drone, AI) ke dalam pembelajaran. Pembimbing Asrama: Fasilitator praktik 24 jam, mengintegrasikan kegiatan pertanian dalam jadwal harian santri. Unit Pertanian: Berfungsi sebagai living lab atau ruang untuk eksperimen terukur, uji coba teknologi, dan penelitian kecil, memberikan pengalaman siklus ilmiah yang lengkap. Model pembelajaran 24 jam pertanian, yang mengadopsi konsep learning by doing, berjalan dalam siklus terpadu: Observasi, Analisis, Praktik, dan Refleksi. Kerangka L-STEAM Transformasi pertanian menuntut pendekatan multidisipliner yang diintegrasikan melalui kerangka L-STEAM (Law,
keluarga besar PKBM Al Zaytun mengajak untuk meramaikan dengan memakai twitbon ini
Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda 2025 keluarga besar PKBM Al Zaytun mengajak untuk meramaikan dengan memakai twitbon ini ————– Cara mengisi foto di Twibbon: 1. Klik link twibbon 2. Klik pilih foto (siapkan foto diri yang akan digunakan) 3. Atur foto agar sesuai dengan lingkaran frame foto, foto dapat digeser, diperbesar/ diperkecil dg menggunakan geseran 2 jari 4. Klik selanjutnya 5. Klik unduh 6. Cari hasil unduhan di gallery foto ponsel anda 7. Upload ke medsos anda, dan sertakan (copypaste) link twibbon agar dapat digunakan juga oleh yang lain. 8. Terimakasih untuk partisipasinya Ini link nya : https://twibbo.nz/sumpahpemudapkbmalzaytun2025
Filsafat Pendidikan Kontemporer Al Zaytun: Menjemput Kemajuan
Oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id – Suasana khidmat menyelimuti sesi ke-16 Pelatihan Pelaku Didik di Al Zaytun. Acara ini diikuti oleh lebih dari 2.400 peserta, dari berbagai elemen pendidikan di Al – Zaytun. Di hadapan para peserta, Syaykh Al – Zaytun, A.S. Panji Gumilang, S.Sos. MP., menyampaikan sebuah gagasan besar yang mengalir jernih, menginspirasi. Bukan sekadar ceramah, ini adalah kuliah umum tentang Filsafat Pendidikan Kontemporer, sebuah manifesto yang bertujuan mentransformasi pendidikan berasrama menuju pendidikan modern abad ke-21, sejalan dengan cita-cita 100 tahun Kemerdekaan Indonesia. Pendidikan, sering kali diibaratkan sebagai kompas yang mengarahkan peradaban, kini menghadapi tantangan besar. Di era yang terus bergerak maju, metode statis tak lagi relevan. Kita tidak bisa terus-menerus mengejar ketertinggalan. Sudah saatnya kita berani menyongsong masa depan, sebuah konsep yang menjadi inti dari pendidikan kontemporer. Ini adalah pendekatan revolusioner yang tidak hanya mengandalkan kurikulum dan fasilitas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mendalam pada setiap individu. Dari Menghafal Menuju Menjemput Kemajuan Pendidikan tradisional seringkali membelenggu para siswa dengan metode hafalan tanpa menuntut pemahaman atau aplikasi. Sementara itu, pendidikan modern, meskipun lebih terstruktur, masih terpaku pada pola pikir “mengejar ketertinggalan” yang secara filologis membuat kita terus berada di belakang. Pendidikan kontemporer hadir sebagai paradigma baru yang berani. Filosofinya adalah menjemput kemajuan, sebuah konsep yang menuntut perubahan revolusioner, bukan sekadar perbaikan. Oleh karena itu, fasilitas yang dibutuhkan pun tidak bisa sembarangan. Asrama, misalnya, dipilih sebagai “fasilitas” utama. Mengapa? Karena asrama adalah miniatur kehidupan. Di sana, individu tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami interaksi sosial dan kemandirian yang fundamental. Ini adalah langkah konkret menuju terciptanya Indonesia modern abad ke-21. Trilogi Kesadaran: Fondasi Perubahan Holistik Pendidikan kontemporer dibangun di atas tiga kesadaran mendasar yang menjadi ciri utamanya. Kesadaran Filosofis: ini adalah kesadaran yang mendorong setiap individu untuk selalu bertanya, “Mengapa?”, “Bagaimana?”, dan “Untuk apa?”. Ketika mendirikan sebuah politeknik, misalnya, pertanyaan mendasarnya adalah “Untuk apa kita mendirikannya?”. Kekuatan pikiran atau power of mind jauh lebih esensial daripada sekadar presentasi Power Point yang canggih. Kesadaran Ekologis: Manusia harus menyadari bahwa ia adalah bagian tak terpisahkan dari semesta. Dalam Al-Fatihah, ada frasa Alhamdulillah rabbil alamin, yang menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta. Kesadaran ini memunculkan pertanyaan kritis, “Mampukah sebuah politeknik dibangun tanpa merusak lingkungan?”. Perlindungan lingkungan yang sejati bukanlah sekadar menanam pohon secara simbolis, melainkan memahami karakter dan merawat setiap elemen alam dengan kesadaran penuh. Kesadaran Sosial: Pendidikan harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Tanpa kesadaran sosial, ilmu yang didapat akan sia-sia. Pendidikan kontemporer menuntut lulusannya untuk mandiri dan memiliki kemampuan menciptakan dampak positif. Korupsi yang marak, misalnya, adalah cerminan kegagalan pendidikan dalam menumbuhkan kesadaran sosial. Melampaui Batas: Mandiri dan Berakhlak Mulia Hasil dari pendidikan kontemporer adalah individu yang mandiri. Berbeda dengan pendidikan modern yang cenderung menciptakan ketergantungan pada sistem, pendidikan kontemporer berorientasi mencetak “bos” atau pemimpin yang inovatif. Individu ini tidak hanya paham tentang muamalah (interaksi) dengan sesama manusia (ma’an naas) dan alam (ma’al biah), tetapi juga dengan Pencipta (ma’a khalik) dan kemajuan teknologi (ma’a ad-dzaka ash-shinai). Inilah esensi dari Novum Gradum, konsep yang diusung Syaykh Panji Gumilang. Ini adalah trilogi pendidikan yang menyempurnakan filosofi Aristoteles dan Francis Bacon. Novum Gradum adalah jalan baru yang mengintegrasikan peradaban dan nilai-nilai spiritual. Pendidikan yang berhasil adalah yang berbasis pada akhlak, sebuah fondasi sejati yang membedakan pendidikan kontemporer dari yang lain. Jejak Baru Menuju Peradaban Manusia adalah makhluk yang tidak lepas dari masa lalu, tetapi tidak boleh terbelenggu olehnya. Sejarah hanyalah perbandingan, bukan beban yang harus dipikul. Dalam bahasa Arab, ada fi’il madhi (kata kerja masa lampau) untuk masa lalu dan fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini-depan) untuk pergerakan maju yang tak pernah berhenti. Maka, pendidikan kontemporer bukanlah sekadar metode, melainkan sebuah semangat untuk terus bergerak maju, menjemput kemajuan yang menanti. Dengan menanamkan kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, kita membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Mereka adalah Parikesit dan Hangestri abad ke-21 pribadi yang berani mengadakan perubahan demi terwujudnya peradaban yang toleran dan damai, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur dan kemanusiaan.