Oleh Sri Wahyuni dan Ali Aminulloh Merajut Mimpi dalam Bait-Bait Bahasa Pkbmal-zaytun.sch.id. Bagi banyak orang, pembelajaran bisa jadi terasa kaku dan monoton. Namun, di kelas Bahasa Indonesia yang dibimbing oleh Ibu Sri Wahyuni, suasana berubah menjadi penuh keceriaan. Dengan piawai, ia menulis syair lagu di papan tulis dan mengajak para siswa atau yang biasa dipanggil warga belajar untuk bernyanyi bersama. Antusiasme mereka begitu luar biasa, meminta lagu diulang berkali-kali. Salah seorang warga belajar, Ibu Turasih, terkesima dan bertanya, “Ustadzah, kok pintar buat puisi, cerpen, dan syair lagu?”. Ibu Sri menjawab dengan rendah hati bahwa kemampuannya berasal dari hobi sejak remaja. Jawaban ini memantik refleksi pada Ibu Turasih, yang lantas bertanya tentang bakatnya sendiri. Ia merasa bakatnya adalah berjualan. Alih-alih meremehkan, Ibu Sri justru mengapresiasi dan memotivasi Ibu Turasih untuk terus mengembangkan bakatnya tersebut. Pertanyaan sederhana ini membuka pintu kesadaran bahwa bakat setiap orang itu unik dan berharga, dan bahwa pendidikan bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga menggali potensi diri. Jejak Pengajar yang Tak Terlupakan Terkadang, dampak seorang guru jauh melampaui ruang kelas. Hal ini dialami oleh Ibu Sri saat berada di sebuah hajatan. Tiba-tiba, sekelompok ibu-ibu tertawa riuh sambil menunjuk ke arahnya. Salah satu dari mereka, Ibu Juwanah, menjelaskan bahwa mereka sedang membicarakan sekolah, dan ia menyebutkan bahwa Ibu Sri adalah tutor favoritnya. Ibu Sunarti, yang menimpali, kaget saat menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan ternyata ada di sana. Insiden ini menunjukkan betapa besar pengaruh seorang pengajar hingga menjadi topik perbincangan di luar kegiatan belajar mengajar. Pengalaman tak kalah berkesan juga datang dari Ibu Yayah, seorang alumni PKBM. Setiap kali Ibu Sri masuk ke kelas, ia sering berseru, “Asyeeek… sekarang waktunya senang-senang… ice breaking dulu!”. Awalnya, Ibu Sri sempat bertanya-tanya, apakah kehadirannya hanya diharapkan karena sesi ice breaking-nya saja. Namun, rasa penasarannya terjawab saat ia bertanya kepada Imas Mastini, seorang teman dekat Ibu Yayah. Imas menjelaskan bahwa tutor lain biasanya hanya berfokus mengejar target modul, sedangkan Ibu Sri selalu menyelipkan pesan moral dan cerita hikmah. Sesi ice breaking yang menyenangkan pun menjadi hal yang dikenang oleh para siswa, seperti kenangan akan permainan “baso” yang membuat kelas riuh dengan tawa. Semangat dan Pengorbanan untuk Pendidikan Pendidikan bisa menjadi jembatan untuk meraih mimpi, bahkan saat dihadapkan pada tantangan besar. Hal ini dialami oleh Ibu Syarifah, seorang warga belajar dari Subang yang harus menempuh jarak jauh ke Gantar. Sebagai ibu rumah tangga yang super sibuk, ia memproduksi aneka camilan setiap hari untuk dititipkan ke pedagang di pabrik. Meski kerap kelelahan dan mengantuk di kelas, semangatnya tak pernah padam. Ia rela menahan kantuk dan tetap antusias mengikuti pembelajaran. Sikap positif Ibu Syarifah tercermin dari jawabannya saat ditanya apakah ia merasa lelah sekolah pada hari Sabtu, satu-satunya hari liburnya. Dengan senyum, ia menjawab, “Sekolah kan senang-senang, jadi tidak capek”. Pengorbanannya bahkan berbuah manis. Semangatnya yang luar biasa membuatnya kini bisa berangkat sekolah menggunakan mobil. Kisah lain datang dari Ibu Sriyatun, seorang warga belajar yang hanya menempuh pendidikan satu semester di PKBM. Ketika Ibu Sri Wahyuni menginformasikan bahwa ia akan lulus, raut wajah Sriyatun justru menunjukkan kesedihan. “Saya belum mau lulus dulu usth, sedang menikmati sekolah,” ujarnya. Ia bahkan mengungkapkan impiannya untuk menjadi seorang tutor. Berkat motivasi Ibu Sri, ia akhirnya melanjutkan kuliah. Kini, impiannya telah terwujud. Ia menjadi guru di RA Al Khairiyah, sebuah bukti nyata bahwa pendidikan bisa membuka pintu bagi impian yang paling Mengubah Tantangan Menjadi Peluang Di balik setiap kesulitan, selalu ada celah untuk menemukan solusi. Ibu Istikomah, misalnya, sempat bingung ketika ingin bersekolah di PKBM karena harus membawa anaknya yang masih balita. Awalnya, ia terpaksa memberi anaknya ponsel agar tenang di kelas, namun Ibu Sri membantunya menemukan solusi lain. Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk mencoba mengajak sang anak ke tempat kerja ayahnya. Langkah ini berhasil. Dengan anak yang kini terurus, Ibu Istikomah semakin bersemangat belajar dan bahkan melanjutkan kuliah di IAI setelah lulus. Kisah ini serupa dengan perjalanan Ibu Surati dari kelas C1, yang awalnya terkenal keras kepala dan menolak untuk bersekolah. Ia bahkan pernah berujar di sebuah forum bahwa ia tidak akan mau bersekolah. Namun, berkat pendekatan yang lembut dan ajakan yang tulus dari Ibu Sri, hatinya luluh. Setiap kali bertemu, Ibu Sri akan menyapanya dengan kalimat, “Kapan ketemu di PKBM ya?”. Kalimat sederhana itu akhirnya membuahkan hasil. Ibu Surati akhirnya mendaftar di PKBM, dan kini ia menjadi salah satu warga belajar yang paling bahagia. Epilog : Berani Bermimpi, Menemukan Potensi, Membangun Harapan Pendidikan adalah tentang menumbuhkan mimpi dan semangat. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa di balik setiap tantangan, ada kekuatan luar biasa yang menggerakkan para individu untuk terus belajar, berani bermimpi, dan meraihnya. Setiap warga belajar di PKBM bukan hanya datang untuk mendapatkan ijazah, tetapi juga untuk menemukan potensi diri, merajut pertemanan, dan membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk belajar. Semangat mereka adalah cerminan sejati dari sebuah perjuangan yang tak kenal lelah, dan di dalam setiap senyum mereka, terpancar cahaya harapan yang menginspirasi.
Menggapai Asa Di Usia Senja: Kisah-Kisah Inspiratif Dari PKBM Al Zaytun
oleh Ali Aminulloh pkbmalzaytun.sch.id, Indonesia – PKBM Al Zaytun adalah jantung dari semangat pendidikan yang tak mengenal batas usia. Di sinilah, para warga belajar yang kebanyakan sudah berusia lanjut membuktikan bahwa semangat adalah kunci untuk terus tumbuh dan berkembang. Ali Aminulloh, Kepala PKBM Al Zaytun, menyaksikan sendiri kobaran semangat mereka yang “menyala-nyala, tidak kalah dengan anak muda.” Inilah yang menjadi sumber energi bagi para tutor untuk terus mengajar. Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu Hebat Kisah ini dituturkan Giarto, S.Pd. selaku tutor PKBM Al-Zaytun yang juga alumni PKBM. Ia menuturkan bahwa di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, Istikomah, anak didiknya, berani mengambil keputusan besar: kembali bersekolah di PKBM Al Zaytun. Namun, tekadnya diuji oleh tantangan yang menyentuh hati—ia harus membawa serta putranya yang masih balita, Mirza. Kekhawatiran dan keraguan menyelimuti. Mampukah ia fokus belajar sambil mengasuh? Giarto sebagai tutor, menyaksikan perjuangan itu. Awalnya, Mirza lebih sering bermain dengan ponsel. Tapi, kami mencari cara lain. Ia menyarankan Istikomah untuk memberikan Mirza buku dan pensil. Perlahan, keajaiban terjadi. Mirza mulai asyik menggambar. Namun, Istikomah tahu ia butuh solusi yang lebih permanen. Ia harus menemukan cara agar bisa fokus sepenuhnya. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia menemukan jalan keluar: menitipkan Mirza kepada ayahnya yang bekerja di Al Islah, dengan bantuan Joko Sairan, pembina PKBM. Dukungan tulus ini membuat Istikomah bisa belajar dengan tenang. Cerita perjuangan ini berakhir bahagia. Ia tidak hanya lulus dengan gemilang, tetapi juga langsung melanjutkan kuliah di IAI. Ketika “Pusing” Berubah Menjadi “Penasaran” Lain tutor lain ceritanya. Munajat, SPd seorang Tutor matematika yang juga alumni PKBM Al Zaytun punya cerita yang tidak kalah menginspirasi. Di kelas matematika, ia sering mendapati ekspresi para warga belajar yang tegang. Saat ia bertanya apa yang mereka pikirkan tentang matematika, hampir serentak mereka menjawab, “Pusing!”. Senyumnya mengembang. Ia tahu ada yang salah dengan cara mereka memandang pelajaran ini. Munajat mencoba mendekati mereka dengan cara yang berbeda. Ia tidak langsung membahas rumus rumit, tetapi mencontohkan bagaimana matematika ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat memasak. Tak disangka, pendekatan ini berhasil. Wajah-wajah yang tadinya tegang kini berubah penasaran. Warga Belajarpun pun mulai belajar tentang statistik. Suasana kelas menjadi hidup. Mereka bertanya, berdiskusi, dan tertawa. Ketika waktu belajar berakhir, mereka justru memohon, “Yaah, masih penasaran Ustadz!” Bahkan ada yang mengusulkan untuk menambah waktu pelajaran. Mendengar itu, hati Munajat terharu. Mereka yang dulunya takut matematika kini justru ingin belajar lebih banyak lagi. Ini adalah bukti bahwa semangat belajar sejati bisa muncul jika disajikan dengan cara yang tepat. Epilog: Cahaya Tak Pernah Padam Kisah-kisah ini adalah cerminan dari semangat yang tak lekang oleh usia. Di setiap perjuangan Bu Istikomah dan antusiasme para warga belajar di kelas matematika, terpancar sebuah pesan yang kuat: bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses formal, melainkan perjalanan emosional yang membentuk karakter dan membuka pintu-pintu impian. Mereka mengajarkan kita bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar dan bermimpi. Selama ada keinginan, ada jalan. Dan di PKBM Al Zaytun, jalan itu selalu terbuka, dipenuhi tawa, haru, dan semangat yang tak pernah padam.
Semangat Sumpah Pemuda Mengalir Dalam Beton Dan Pohon: Visi Politeknik Tanah Air
Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminuloh pkbmal-zaytun.sch.id Indonesia – Di Masjid Rahmatan Lil Alamin, suasana Dzikir Jumat pada 10 Oktober 2025 menjadi lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Itu adalah momen penajaman visi, sebuah seruan untuk bergerak, yang disampaikan langsung oleh Syaykh Al Zaytun. Kali ini, sorotan diarahkan pada sebuah proyek monumental: pembangunan komplek Politeknik Tanah Air, sebuah cita-cita yang hendak ditancapkan tepat pada Hari Sumpah Pemuda. Gerakan Awal: Batu Penjuru di Tengah Hamparan Sawah ”Rencana kita meletakkan batu penjuru sudah semakin dekat,” ujar Syaykh, menandai hitungan mundur menuju sebuah tonggak sejarah. Tanggal yang dipilih bukanlah kebetulan. Pembangunan komplek Politeknik secara resmi akan dimulai pada 28 Oktober 2025, menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai catatan awal komitmen pendidikan dan kemandirian. Lokasi untuk seremoni peletakan batu penjuru pun sudah disiapkan; sawah yang tadinya ditanami, kini separuhnya telah dipanen, menunggu kering untuk dijadikan panggung bersejarah. Bangunan Politeknik ini terhampar di atas lahan yang luas: 54 hektar yang akan dipagar segi empat. Di jantung area ini, akan didirikan sebuah lingkaran bangunan seluas 25 hektar, menjadi pusat dari seluruh kegiatan akademik dan kehidupan kampus. Namun, pembangunan fisik hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah menghidupkan lingkungan. Visi Penghijauan: Pohon Sebesar Lengan dalam Lima Tahun Syaykh Al Zaytun menekankan bahwa pembangunan sebuah kampus harus berjalan selaras dengan penghijauan, bahkan mendahuluinya. Inilah filosofi penanaman yang menjadi inti dari pesan tersebut. ”Dalam membangun kampus diperlukan penghijauan 3–5 tahun,” jelas Syaykh. “Maka, kita siapkan pembibitan.” Untuk mengantisipasi kebutuhan tegakan, sebuah strategi penanaman jangka panjang dirancang. Area seluas 3–4 hektar disiapkan khusus untuk lokasi pembibitan dan penyemaian, yang dikoordinasikan langsung oleh Anas (Korlap). Targetnya: tinggi bibit yang ditanam diharapkan akan tumbuh hingga berdiameter 7–10 cm—sebesar lengan—dalam waktu 4-5 tahun. Bibit yang kuat inilah yang kemudian akan dipindahkan ke lahan kampus seluas 54 hektar. Strategi ini bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang efisiensi. Bibit tidak akan disebar di seluruh lahan 54 hektar, melainkan dikonsentrasikan di area pembibitan agar lebih mudah dipelihara. Filosofi yang jelas pun ditetapkan untuk menjaga siklus alam: musim panas untuk menanam pohon, musim hujan untuk menanam padi. Sebuah gambaran kemandirian pangan dan lingkungan yang terintegrasi. Panggilan untuk Bertindak dan Peduli Di tengah fokus pembangunan, Syaykh juga menyerukan sebuah disiplin kolektif. Persiapan fisik terus berjalan, termasuk pengerasan jalan remontada di sebelah barat kali. Namun, hal-hal detail terkait pemeliharaan tidak luput dari perhatian. ”Tanaman yang mati sebelah kiri jalan agar diganti. Agar diselesaikan di musim panas,” perintahnya tegas. Pohon jati yang akan dipindahkan harus dilakukan saat musim panas. Mulai Sabtu besok, program perawatan dan penggantian pohon mati akan dimulai. Pohon yang hidup di-pruning, sementara yang mati diganti. Penanggung jawab di lapangan sekali lagi adalah Anas, yang ditugaskan untuk segera meninjau kondisi di lokasi. Pesan penutup Syaykh menjadi klimaks yang inspiratif, sebuah ajakan kepada seluruh jamaah, seluruh penghuni, untuk memiliki kesadaran kolektif. ”Semua penghuni harus peduli terhadap lingkungan. Melihat sesuatu yang tidak pas, sampaikan kepada Syaykh supaya dapat ditindaklanjuti,” tuturnya. Inilah esensi dari pembangunan di bawah kepemimpinan Syaykh Al Zaytun: bukan sekadar mendirikan gedung, tetapi membangun peradaban yang berakar kuat pada disiplin, kemandirian, dan kepedulian terhadap bumi. Visi Politeknik ini adalah janji, bahwa semangat Sumpah Pemuda akan terus mengalir, mewujud dalam setiap beton yang didirikan dan setiap pohon yang ditanam.
Tradisi “Jumat Berkah” Al Zaytun: Dari Tumpeng, Kaze, Hingga Pusat Kajian Peradaban
https://pkbmal-zaytun.sch.id, Indonesia – Seusai Shalat Jumat, bagi para pengurus dan Pengawas Lembaga Kesejahteraan Masjid (LKM) Masjid Rahmatan Lil Alamin Al Zaytun, menjadi momen penting. Momentum itu, menjadi sebuah tradisi sebagai sarana pengambilan keputusan dan pengembangan wawasan: Forum Musyawarah Bada Jumat 10/10/25. Secara konsisten, forum ini telah menjadi sarana diskusi mendalam, musyawarah, dan pengambilan keputusan penting. Pesertanya merupakan personal inti penggerak pembangunan dan pendidikan Al Zaytun, mulai dari pengurus dan pengawas LKM MRLA, para pimpinan unit pendidikan, pembangunan, pertanian, koordinator wali santri, hingga tokoh lingkungan. Mereka berkumpul, bukan hanya sebagai pemangku kepentingan, tapi sebagai satu keluarga besar peradaban. Begitu usai shalat dan dzikir Jumat, para peserta segera memasuki Ruang Khas Masjid Rahmatan Lil Alamin. Tradisi diawali makan siang bersama. Awalnya, hidangan utamanya adalah nasi tumpeng, simbol rasa syukur dan kebersamaan. Kini, hidangan berganti menjadi Kaze—sebuah variasi yang tetap kental dengan nuansa kekeluargaan. Dari acara makan bersama inilah, suasana dialogis dan cair tercipta, mengantarkan para peserta ke sesi musyawarah yang serius. Jantung Pengambilan Keputusan dan Respon Terkini Setelah santap siang, diskusi dan musyawarah segera dimulai. Agenda utama berpusat pada program-program Al Zaytun, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Banyak keputusan krusial dan penting lahir di momen ini. Setiap hasil musyawarah dicatat dalam notulensi yang rapi dan ditandatangani oleh seluruh peserta. Dokumen ini bukanlah sekadar formalitas, melainkan dokumen rujukan fundamental dalam menjalankan setiap program, memastikan bahwa setiap langkah didukung oleh konsensus bersama. Lebih dari sekadar forum musyawarah, momen bada Jumat juga digunakan untuk diskusi terbuka yang responsif terhadap berbagai perkembangan terkini. Mulai dari informasi internal, perkembangan di berbagai daerah, hingga isu-isu nasional, semuanya menjadi bahan perbincangan yang kaya. Forum ini bertransformasi menjadi sebuah pusat informasi dan analisis kritis yang hidup. Mengkaji Peradaban Bersama Sang Profesor Pada hari Ahad, Forum ini semakin inspiratif ketika berlanjut dengan sesi pendalaman materi, selesai kuliah umum yang disampaikan oleh Narasumber Profesor dari berbagai bidang. Selepas pemaparan narasumber, setiap peserta diwajibkan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai materi yang baru saja didapat. Ini adalah momen penting yang menuntut setiap peserta untuk berpikir kritis dan menyampaikan pandangan mereka secara lugas. Selanjutnya, Syaykh menyimpulkan seluruh diskusi, kemudian membahas materi dari perspektif lain, seringkali dari sudut pandang yang lebih luas dan visioner. Ruang Khas Masjid Rahmatan Lil Alamin, dengan demikian, benar-benar menjadi sebuah pusat kajian peradaban manusia, tempat ilmu, kearifan, dan pengambilan keputusan berpadu. Tradisi Bada Jumat ini membuktikan bahwa musyawarah, kekeluargaan, dan kajian mendalam adalah tiga pilar utama yang terus menggerakkan roda kemajuan di Al Zaytun, menjadikannya lembaga yang konsisten, adaptif, dan selalu terinspirasi.
Melukis Masa Depan dengan Ilmu dan Peduli: Kunjungan Edukatif ke Komunitas Warga Belajar PKBM Al Zaytun
oleh Suwandi dan Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id, Al Zaytun, Indonesia – Di bawah naungan pusat pendidikan yang terus berkembang, model pendidikan Al Zaytun melukis narasi pendidikan berkelanjutan yang unik dan menginspirasi. Model ini tidak hanya berpusat di dalam kelas, tetapi juga merambah ke jantung komunitas, membuktikan bahwa pendidikan sejati adalah sebuah petualangan tanpa batas. Pada Senin, 16 September 2025, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun kembali memperkuat komitmennya melalui kunjungan edukatif yang menyentuh langsung denyut nadi warga belajar. Dari Al Zaytun ke Tirta Gaza: Mengokohkan Komunitas Berbasis Ilmu Tepat di Tirta Gaza, sebuah blok di Mekarjaya, Gantar, Indramayu, sebuah pertemuan yang penuh makna digelar. Acara ini merupakan evaluasi bulanan Paguyuban Istri Peduli (PIP), sebuah komunitas yang digerakkan oleh para istri karyawan Mahad Al Zaytun yang gigih di bidang sosial dan pendidikan. Pertemuan ini istimewa karena 95% pengurusnya adalah para warga belajar dan alumni PKBM Al Zaytun. Kehadiran para pimpinan dan pengurus seperti Pembina Dewi Nusantari, Ketua PIP Sri Wahyuni, hingga para tutor dan warga belajar lainnya, menjadi bukti nyata sinergi yang kuat antara lembaga pendidikan dan komunitasnya. Dalam pertemuan ini, laporan dan evaluasi dari setiap blok disampaikan, menunjukkan betapa aktifnya peran PIP dalam menjalankan program-programnya. Setelah arahan dari Ibu Dewi Nusantari yang membahas tentang “kodeko,” Ibu Sri Wahyuni sebagai ketua melanjutkan dengan evaluasi yang mendalam, memastikan setiap tugas terlaksana dengan baik. Inilah wujud nyata dari pendidikan berkelanjutan, di mana ilmu yang diperoleh di bangku sekolah diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari untuk kemaslahatan bersama. Mendalami Filosofi Hidup dan Makna Kata dalam Al-Qur’an Puncak acara tiba saat Suwandi, S.Pd., salah satu tutor PKBM Al Zaytun, memberikan pencerahan yang mendalam. Nasehatnya berakar dari ajaran yang selalu disampaikan oleh Syaykh Al Zaytun: pentingnya membaca Surah As-Saff setiap shalat Jumat. Ia secara khusus menekankan ayat ke-10, yang berbicara tentang “Tijarotin” (perniagaan) yang menyelamatkan dari azab pedih. Perniagaan di sini bukan sekadar jual beli, melainkan sebuah pertukaran nilai yang mendalam, meliputi: Menetapkan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya: Sebagai pondasi utama setiap tindakan. Jihad: Bukan dimaknai perang fisik, melainkan perjuangan non-fisik, seperti mengedukasi, bersilaturahim, dan menjalankan program dengan ikhlas. Pengorbanan harta dan jiwa: Sebuah komitmen total untuk mencapai tujuan mulia. Suwandi juga mengutip ungkapan bijak dari filsuf William Arthur Ward yang selaras dengan nilai-nilai Al Zaytun, seperti “Tujuan hidup adalah berkembang” dan “Inti hidup adalah untuk peduli.” Hal ini diperkuat dengan qoulu hikmah (kata bijak) berbahasa Arab yang menegaskan: “Kehidupan yang sejati adalah menghidupkan ilmu dan peradaban.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa napas kehidupan harus diisi dengan ilmu dan adab, bukan sekadar rutinitas yang diulang-ulang. Transformasi Kehidupan Melalui Pendidikan dan Kepedulian Kunjungan dan bimbingan ini tidak sekadar seremoni. Ini adalah model pendidikan Al Zaytun yang berorientasi pada transformasi kehidupan. Dengan menggerakkan para warga belajar dan alumni untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka, PKBM Al Zaytun membuktikan bahwa lembaga pendidikan dapat menjadi pilar utama dalam pembangunan sosial. Pertemuan ini menjadi cerminan nyata dari visi Syaykh Al Zaytun yang ingin menciptakan “peradaban” yang dibangun di atas fondasi ilmu, kepedulian, dan pengorbanan. Acara ditutup dengan kabar gembira mengenai kondisi Mahad Al Zaytun yang aman dan terus berkembang. Kabar ini bukan hanya sekadar informasi, melainkan sebuah motivasi tambahan bagi para warga belajar dan pengurus PIP untuk terus berkontribusi, memastikan bahwa setiap tetes keringat yang mereka keluarkan dalam mengedukasi masyarakat adalah bagian dari sejarah peradaban yang sedang mereka bangun. Epilog: Pendidikan untuk Semua Di bawah langit Indramayu, di mana padi menguning dan angin berhembus sejuk, kisah-kisah kecil seperti yang terjadi di Tirta Gaza ini menjadi benang-benang emas yang merajut mimpi besar. Model pendidikan Al Zaytun tidak hanya menciptakan individu yang cerdas, tetapi juga manusia yang peduli, berani, dan siap berkorban. Mereka adalah para petualang yang memahami bahwa petualangan hidup adalah belajar, dan rahasia hidup adalah berani. Mereka melukis masa depan dengan ilmu, satu per satu, satu pertemuan demi pertemuan, membuktikan bahwa pendidikan sejati adalah untuk semua, selamanya.
Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indramayu: Sinergi dan Kolaborasi PKBM Al-Zaytun dalam Pendampingan OJT 1
oleh : Abdul Karim dan Ali Aminulloh pkbmalzaytun.sch.id – Sabtu, 6 September 2025, menjadi hari bersejarah bagi dunia pendidikan di Kabupaten Indramayu. Puluhan pendidik, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga para tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), berbondong-bondong memadati SMPN 2 Sindang. Mereka berkumpul bukan untuk bersaing, melainkan untuk bersinergi dalam Pendampingan On-the-Job Training (OJT) 1 yang berfokus pada Pembelajaran Mendalam. Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore ini membuktikan bahwa batas antara pendidikan formal dan non-formal kini semakin luntur. Kehadiran perwakilan PKBM, termasuk dua tutor dari PKBM Al-Zaytun, Sahrul Abadi Haryanta, S.Pd.I. dan Abdul Karim, S.Mn., M.Pd., menjadi jembatan kolaborasi yang kuat demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indramayu. Sejak awal, suasana acara sudah terasa begitu interaktif. Setelah orientasi singkat, para peserta langsung disuguhkan dengan tantangan yang mengasah insting pendidik mereka: analisis video fasilitasi pembelajaran. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengamati dua video praktik mengajar yang berbeda. Diskusi pun mengalir dinamis, dipenuhi dengan ide-ide segar dan masukan yang konstruktif. ”Sesi ini membuka mata kami. Kami jadi bisa melihat praktik mengajar dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya dari pengalaman kami sendiri,” ungkap salah seorang guru, menggambarkan antusiasme yang dirasakan semua peserta. Melalui analisis video, setiap peserta diajak untuk menemukan kekuatan, kelemahan, dan inovasi yang bisa dicontoh atau diperbaiki. Mereka membahas berbagai aspek, mulai dari metode pengajaran, pengelolaan kelas, hingga interaksi antara guru dan siswa. Berbagi Cerita dan Menemukan Solusi Bersama Sebelum sesi analisis video, para pendidik ini juga memiliki kesempatan emas untuk berbagi pengalaman terkait implementasi pembelajaran di siklus sebelumnya. Sesi ini menjadi ajang yang penuh empati, di mana setiap pendidik menceritakan tantangan dan kesuksesan yang mereka alami. Dari cerita-cerita tersebut, terungkaplah bagaimana setiap orang beradaptasi dengan beragam karakteristik siswa dan kondisi lingkungan belajar. ”Saling berbagi seperti ini sangat membantu. Kami jadi tahu bahwa tantangan yang kami hadapi juga dirasakan oleh orang lain, dan kami bisa menemukan solusi bersama,” tutur Abdul Karim, tutor dari PKBM Al-Zaytun, mencerminkan semangat kolaborasi yang begitu terasa. Menjelang akhir acara, suasana semakin hangat. Para peserta dan pengajar saling memberikan umpan balik yang membangun, menjadikan sesi ini momen berharga untuk perbaikan diri. Setiap masukan yang diberikan dilandasi oleh semangat untuk saling mendukung, sementara para pengajar memberikan bimbingan personal yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Pendampingan OJT 1 ditutup dengan komitmen bersama untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dan terus menjaga komunikasi. Acara ini bukanlah sekadar pertemuan biasa, melainkan langkah nyata untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif, profesional, dan inovatif di Indramayu. Dengan sinergi yang terjalin erat, masa depan pendidikan Indramayu tampak semakin cerah.
Prof. Riyanarto Sarno di Al- Zaytun: Dari Artificial Intelligence hingga Indonesia Emas
Dari Kelas hingga Laboratorium: Perjalanan Ilmuwan Brilian oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id, Indonesia – Ahad, 7 September 2025 merupakan hari istimewa bagi civitas kampus Al Zaytun. Hari itu dalam sesi 14 Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun, hadir Ilmuwan dunia, asal Surabaya, Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno, M.Sc., Ph.D. Beliau adalah sosok akademisi yang perjalanan ilmunya berawal dari ruang kelas hingga laboratorium riset tingkat dunia. Lulusan Teknik Elektro ITB ini awalnya menekuni teori kontrol, namun kemudian melanjutkan pendidikan di bidang ekonomi hingga informatika. Sejak 1986, ia mengabdi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dengan misi besar: mendirikan program studi S1 Ilmu Komputer. Sejak itu, Prof. Riyanarto tidak berhenti berkarya. Ia meyakini riset bukan sekadar berhenti pada publikasi, tetapi harus hadir dalam bentuk aplikasi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Filosofinya sederhana: “Ilmu harus dihilirkan, bukan hanya ditumpuk di menara gading.” Inovasi untuk Kehidupan: Dari Otak hingga Keringat Beragam inovasi lahir dari tangan dinginnya. Dalam bidang kedokteran, ia mengembangkan alat navigasi operasi otak dengan presisi tinggi yang bahkan lebih akurat dari produk buatan Jerman dan Swedia. Ia juga menciptakan buku anatomi berbasis virtual reality untuk memudahkan mahasiswa kedokteran belajar tanpa bergantung pada mayat. Tak berhenti di situ, pandemi COVID-19 melahirkan ide gila tapi jenius: alat deteksi COVID berbasis bau keringat ketiak. Terinspirasi dari anjing pelacak di bandara Dubai, Prof. Riyanarto menciptakan InnoC19, perangkat murah dan cepat yang kemudian dikembangkan juga untuk mendeteksi TBC. “Tugas seorang pakar adalah membuat sesuatu yang mahal dan lama menjadi murah dan cepat,” tegasnya. Ia bahkan meneliti kaitan gelombang otak dengan emosi. Dari musik dangdut hingga khutbah agama, ia mencoba merekam mengapa sebagian suara mampu menggugah perasaan, sementara yang lain membuat pendengar mengantuk. Inovasi ini membuka jalan bagi intervensi pembelajaran berbasis suara, bau, dan visual. Hilirisasi Riset dan Lembah Kematian Dalam pandangannya, riset Indonesia kerap berhenti di tataran fundamental. Banyak karya besar berakhir hanya sebagai publikasi tanpa pernah masuk industri. Prof. Riyanarto menyebut fenomena ini sebagai “lembah kematian inovasi”. Ia menekankan pentingnya hilirisasi riset: agar penelitian dosen tidak hanya menjadi bahan kenaikan pangkat, tetapi juga menghasilkan paten dan produk nyata. Contoh nyatanya adalah ketika ia berhasil menciptakan perangkat operasi otak dengan biaya lebih murah, atau ketika ia mengembangkan electronic nose untuk mendeteksi logam berat, mikroplastik, hingga kualitas kopi dan teh. “Setiap pagi kita berdoa memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima. Itu artinya kita dituntut menghilirkan ilmu menjadi karya nyata,” ujarnya. Pendidikan sebagai Kunci Indonesia Emas Bagi Prof. Riyanarto, ujung tombak kemajuan bangsa adalah pendidikan. Ia mengutip Lee Kuan Yew dan Kaisar Hirohito sebagai contoh: membangun bangsa dimulai dari guru dan pendidikan. Namun, ia prihatin karena sistem pendidikan Indonesia masih terlalu fokus pada hafalan. Ia mendorong agar soal ujian naik ke level analisis dan kreativitas. ChatGPT atau open book exam bukan ancaman, melainkan tantangan untuk berpikir kritis. “Kalau hanya hafalan, mahasiswa akan ngerpek (buat contekan). Tapi kalau ditanya analisis dan kreativitas, mereka akan terlatih berpikir,” tegasnya. Lebih jauh, ia melihat Indonesia masih tertinggal dalam jumlah paten dibanding Singapura yang jauh lebih kecil. Karena itu, generasi muda didorong untuk berani riset, berani berbeda, dan menciptakan solusi nyata. “Riset bukan sesuatu yang mewah, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya penuh semangat. Epilog: Dari Laboratorium ke Harapan Bangsa Kisah Prof. Riyanarto Sarno adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti di ruang kelas atau lembar jurnal. Dari laboratorium kecil hingga panggung dunia, ia mengajarkan bahwa inovasi lahir dari keberanian berpikir di luar kebiasaan dan tekad untuk memberi manfaat nyata. Bagi generasi muda Indonesia, pesan beliau jelas: jangan takut riset, jangan berhenti di teori. Dari kopi, teh, hingga operasi otak, dari pertanian hingga teknologi digital—semua bisa menjadi pintu menuju Indonesia Emas. Seperti pantun penutup dari acara itu: “Bangkitlah para pemuda bangsa Indonesia, karena Indonesia emas ada di tangan kita.”
PKBM Al-Zaytun Bersinergi Mewujudkan Pembelajaran Mendalam
Oleh DR. Ali Aminulloh M. Pd. I., ME. (Kepala PKBM Al- Zaytun) Gerbang Transformasi: PKBM Al Zaytun Terpilih dalam Misi Pembelajaran Mendalam PKBMAL-ZAYTUN.SCH.ID – Langkah maju dalam dunia pendidikan kembali diukir oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun. Sebuah kehormatan besar datang menghampiri, manakala PKBM Al Zaytun menerima undangan istimewa untuk mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam. Undangan ini bukan tanpa alasan, mengingat PKBM Al Zaytun merupakan salah satu dari 13 PKBM terpilih yang mendapatkan bantuan operasional kinerja, sebuah pengakuan atas dedikasi dan potensi mereka dalam memajukan pendidikan. Pelajaran tahap I diperuntukkan bagi Kepala PKBM. Dari PKBM Al Zaytun diwakili Giarto, S.Pd. Pelatihan Pembelajaran Mendalam ini hadir sebagai jawaban atas tuntutan transformasi pendidikan di Indonesia. Sebuah paradigma baru yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik semata, melainkan juga pada pengembangan karakter, kompetensi, dan keterampilan abad ke-21. Pendekatan ini mendorong murid untuk berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, serta mampu merefleksikan proses belajarnya secara aktif. PKBM Al Zaytun, dengan semangatnya yang tak pernah padam, menyambut baik kesempatan ini sebagai gerbang untuk melahirkan generasi pembelajar yang lebih tangguh dan adaptif. Lima Hari Menggali Ilmu: Perjalanan Inspiratif di UPTD SDN I Pandean Perjalanan lima hari yang penuh inspirasi dimulai pada 23 Juli 2025, bertempat di UPTD SDN I Pandean, Kabupaten Indramayu. Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Dr. H. Caridin, M.M., dan Kabid Ibu Wati Rosanah, S.Pd., M.Pd., yang menegaskan pentingnya pelatihan ini sebagai bagian integral dari transformasi pendidikan. Para kepala sekolah dan guru dari berbagai satuan pendidikan, termasuk perwakilan dari PKBM Al Zaytun, hadir dengan antusiasme tinggi. Hari demi hari, para peserta diajak menyelami berbagai modul yang dirancang untuk memperkaya pemahaman dan keterampilan. Modul pertama, “Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset)”, membuka cakrawala baru tentang pentingnya motivasi dan daya juang. Dilanjutkan dengan “Konsep Dasar dan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam” yang menekankan eksplorasi aktif, pertanyaan sebagai dasar belajar, dan pembelajaran kontekstual. Modul ketiga berfokus pada “Penyelarasan Visi, Misi, dan Tujuan Satuan Pendidikan dengan Pembelajaran Mendalam”, memastikan setiap langkah sejalan dengan nilai-nilai inti. Modul keempat membahas “Kepemimpinan dan Pengelolaan Praktik Pedagogis, Kemitraan Pembelajaran, Penciptaan Lingkungan Belajar, dan Pemanfaatan Digital”, mempersiapkan pemimpin pembelajaran di era modern. Puncaknya, Modul kelima, “Penyusunan Rancangan dan Implementasi Inkuiri Kolaboratif secara Terstruktur”, membekali peserta dengan kemampuan merancang pembelajaran inovatif yang berpusat pada murid. Setiap modul dikerjakan secara berkelompok, memicu diskusi aktif, presentasi, dan pertukaran pengalaman yang berharga. Suasana kolaboratif dan interaktif senantiasa mewarnai setiap sesi, diselingi ice breaking yang menyegarkan. Dari Teori Menuju Aksi: Komitmen PKBM Al Zaytun untuk Pendidikan Bermakna Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah proses transformasi yang mendalam. Para peserta dibekali dengan kompetensi dan strategi pembelajaran yang relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menyusun rancangan dan mengimplementasikan inkuiri kolaboratif secara terstruktur. Setiap hasil kerja dan jawaban peserta didokumentasikan melalui akun masing-masing, menjadi bukti konkret dari proses pembelajaran yang telah dilalui. Pada hari terakhir, 27 Juli 2025, pelatihan ditutup secara resmi dengan ucapan terima kasih dan apresiasi dari fasilitator. Momen foto bersama per kelompok menjadi penanda kebersamaan, semangat kolaborasi, dan komitmen bersama dalam menerapkan pembelajaran mendalam di sekolah masing-masing. Pelatihan ini berjalan lancar dan penuh makna, meninggalkan semangat baru untuk transformasi pembelajaran yang lebih bermakna. PKBM Al Zaytun, dengan bekal ilmu dan semangat yang baru, siap menjadi agen perubahan, menciptakan proses belajar yang memberdayakan murid melalui eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi, serta membentuk lingkungan belajar yang bermakna dan berpusat pada murid. Epilog: Cahaya Harapan di Setiap Langkah Pembelajaran Pelatihan Pembelajaran Mendalam ini adalah lebih dari sekadar program; ia adalah benih harapan yang ditaburkan di ladang pendidikan. Setiap diskusi, setiap gagasan yang lahir, setiap komitmen yang terucap, adalah untaian doa untuk masa depan anak bangsa yang lebih cerah. Dari Indramayu, melalui tangan-tangan para pendidik di PKBM Al Zaytun, cahaya transformasi ini akan menyebar, menerangi setiap sudut kelas, dan menghangatkan setiap jiwa pembelajar. Mari kita renungkan, bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang mengisi wadah, melainkan menyalakan api. Api semangat belajar, api rasa ingin tahu, dan api keberanian untuk berinovasi. Semoga setiap guru dan kepala sekolah yang telah berpartisipasi menjadi lentera yang tak pernah padam, membimbing anak-anak kita menemukan potensi terbaik mereka. Dengan demikian, setiap langkah pembelajaran akan menjadi perjalanan penuh makna, mengukir jejak kebaikan, dan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berdaya, dan siap menghadapi tantangan zaman. Inilah simfoni pendidikan yang kita impikan, terangkai dari harmoni kolaborasi dan dedikasi tanpa batas. sumber : PKBM Al-Zaytun Bersinergi Mewujudkan Pembelajaran Mendalam
Pernikahan Fatur dan Syifa Bersemi dalam Harmoni Keluarga Besar PKBM Al Zaytun.
Oleh Ali Aminulloh (Kepala PKBM Al Zaytun) pkbmal-zaytun.sch.id -Sabtu, 2 Agustus 2025, menjadi hari yang tak akan terlupakan. Di pelataran megah Bazaar Masjid Al Jabbar, Gede Bage, Bandung, sebuah kisah cinta menemukan dermaga indahnya. Fatur Ahsanu Rabbi, putra pertama pasangan Hartono, S.Pd., dan Jumirah, mengikrarkan janji suci bersama kekasihnya, Nur Asy Syifa binti Mahmudin. Mereka adalah sepasang insan yang bertemu di bangku kuliah IAI Alazis, di Prodi Hukum Tata Negara (HTN), dan kini, takdir menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan. Namun, momen bahagia ini lebih dari sekadar penyatuan dua insan. Pernikahan ini menjadi sebuah reuni akbar yang sarat makna, menyatukan kembali keluarga besar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun. Hartono, ayah dari mempelai pria, adalah Koordinator Tutor PKBM Al Zaytun. Sementara sang ibu, Jumirah, merupakan warga belajar di PKBM tersebut. Mahmudin ayah dari Nur Asy-Syifa juga alumni PKBM. Suasana hangat kekeluargaan begitu terasa, seolah seluruh hadirin adalah bagian dari satu rumah besar. Para tokoh penting dalam acara ini pun tak lepas dari lingkaran PKBM Al Zaytun. Perwakilan keluarga mempelai pria dipercayakan kepada Khoirun, S.H., seorang Koordinator Tutor. Direktur PKBM, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., menjadi saksi pernikahan. Penasihat PKBM Al Zaytun, Ishak Sanusi, B.A., S.Ikom., M.Pd., menyampaikan khutbah dan nasihat pernikahan yang penuh hikmah. Dari pihak mempelai wanita, Arman Rajiman, S.H., Koordinator Pendidikan PKBM Al Zaytun untuk kelompok belajar Bandung, bertindak sebagai perwakilan keluarga. Bahkan, paduan suara yang mengiringi lagu Indonesia Raya tiga stanza dipimpin oleh Tumini, alumni PKBM Al Zaytun, dan seluruh pengiring pengantin juga merupakan warga belajar. Acara yang dipandu oleh Wulan Nuryati, alumni KPI IAI Alazis, ini diawali dengan lantunan lagu kebangsaan. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi penyerahan calon pengantin pria dan sambutan dari kedua belah pihak. Setelah itu, Kepala KUA Dida, S.Hi., memimpin prosesi ijab kabul, mengikat janji suci keduanya. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa Asmaul Husna yang syahdu oleh Nanang Syafei, alumni PKBM Al Zaytun. Sejatinya, pernikahan adalah tentang menyatukan dua keluarga, namun pernikahan Fatir dan Syifa adalah sebuah perwujudan nyata dari makna itu. Di bawah langit Bandung, di hadapan Masjid Al Jabbar yang agung, cinta mereka tidak hanya menyatukan dua hati, melainkan juga merajut kembali tali persaudaraan yang begitu erat. Kisah ini mengajarkan kita bahwa takdir bisa mempertemukan kita dalam berbagai cara, di ruang kelas, di tempat kerja, atau di sebuah komunitas yang kita cintai. Pada akhirnya, pernikahan Fatir dan Syifa menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa cinta sejati tak hanya menemukan jalannya, tetapi juga membawa serta kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Saat melihat senyum Fatir dan Syifa, kita tidak hanya menyaksikan awal dari sebuah keluarga baru, tetapi juga menyaksikan betapa indahnya kebersamaan dalam sebuah komunitas yang penuh kasih. Kisah mereka adalah cerminan, bahwa pada akhirnya, cinta akan selalu menemukan jalan untuk bersatu, dan dalam persatuan itu, kebahagiaan akan menyebar, menghangatkan hati setiap orang yang menjadi saksi. sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5502-pernikahan-fatur-dan-syifa-bersemi-dalam-harmoni-keluarga-besar-pkbm-al-zaytun?Itemid=554
“Ruang Belajar”: Mewujudkan Indramayu Belajar Untuk Masa Depan Yang Lebih Cerah
Oleh Ali Aminulloh (Kepala PKBM Al Zaytun) pkbmal-aytun.sch.id – Hari Rabu, 6 Agustus, menjadi hari yang penuh semangat bagi dunia pendidikan di Kabupaten Indramayu. Khususnya di bawah naungan Bidang Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan, sebuah gawe besar digelar dengan peluncuran program “Indramayu Belajar” melalui inovasi bernama “Reang Belajar”. Acara yang mengusung tema “Optimalisasi Kualitas Pendidikan Kesetaraan di Kabupaten Indramayu” ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi bahwa belajar tak pernah mengenal kata akhir. Semangat Belajar dari siswa PAUD hingga Warga Belajar PKBM Suasana di lokasi acara begitu meriah. Menurut Kabid PNF, Hj.Emilia Kusnandar, S.Pd. M.M. kegiatan ini diisi dengan lomba dan bazar. Berbagai lomba dan bazaar menjadi daya tarik utama, diisi oleh para siswa PAUD dan Warga Belajar dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Anak-anak PAUD menampilkan bakat terbaik mereka dalam lomba menari dan menyanyi, memancarkan keceriaan yang menular. Sementara itu, di aula lantai dua, kreativitas dituangkan dalam lomba menggambar dan Alat Peraga Edukatif (APE), menunjukkan bahwa belajar bisa menjadi proses yang menyenangkan. Adapun bagi PKBM diadakan bazar sekaligus lomba produk kreatif warga belajar PKBM. Acara ini secara resmi dibuka oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim, yang tiba sekitar pukul 10.30 WIB. Kedatangannya disambut dengan alunan musik tradisional dan sambutan hangat dari siswa-siswi PAUD. Kehadiran beliau menjadi penanda keseriusan pemerintah daerah dalam menggarap program pendidikan yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Kolaborasi sebagai Kunci Investasi Jangka Panjang Dalam sambutannya, Bupati Lucky Hakim menegaskan bahwa belajar tidak selalu identik dengan sekolah. Ia mengajak seluruh jajaran, mulai dari dinas terkait, camat, hingga perangkat desa, untuk bersama-sama mengkolaborasikan dan menyukseskan program wajib belajar ini. Menurut Lucky, sekolah adalah tempat yang paling nyaman untuk belajar, didukung oleh sarana prasarana dan tenaga pendidik. Namun, esensi sebenarnya terletak pada kemauan untuk terus belajar, di mana pun dan kapan pun. Kepala Dinas Pendidikan Indrmayu, Dr. H. Caridin, S.Pd. M.Si, menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan lama belajar masyarakat Indramayu dari rata-rata 6.95 menjadi 7.5 tahun. Target ini akan dicapai melalui Reang Belajar yang membentuk kelompok belajar beranggotakan masing masing 100 warga belajar di setiap desa. Program ini menjangkau masyarakat yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Bupati Lucky juga mengapresiasi para penggiat pendidikan, menyebut mereka sebagai “investor” masa depan. Pembangunan fisik memang bisa terlihat hasilnya secara langsung, tetapi pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan baru akan terasa dampaknya 10 hingga 15 tahun ke depan. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi kunci utama untuk mewujudkan investasi jangka panjang ini. Menginspirasi Melalui Karya dan Keteladanan Setelah sambutan, Bupati Lucky Hakim secara simbolis melepas balon ke udara, menandai dimulainya program “Indramayu Belajar”. Ia kemudian meninjau stand pameran produk-produk hasil karya Warga Belajar. Salah satu stand yang menarik perhatian adalah milik PKBM Al Zaytun. Beragam produk kearifan lokal seperti wingko, stik nangka, telur asin, hingga keripik pisang balado berjejer rapi, siap untuk dipasarkan. Bupati Lucky berdialog langsung dengan para Warga Belajar, mengapresiasi kreativitas mereka, dan bahkan sempat berswafoto bersama. Ia juga secara tulus meng-endorse produk-produk tersebut, menunjukkan dukungannya pada usaha mikro yang dikelola oleh masyarakat. Momen paling mengharukan terjadi saat Lucky berdialog dengan seorang Warga Belajar berusia 70 tahun yang mengambil paket A dari PKBM Al Zaytun. Beliau memberi semangat agar tidak pernah berhenti belajar, sebuah pesan yang menyentuh hati semua yang hadir. Bunda Emil secara khusus menyampaikan apresiasinya yang setinggi-tingginya kepada PKBM Al Zaytun, yang ia sebut sebagai pionir dan inspirasi bagi PKBM lain di Indramayu. Keberadaan mereka menjadi bukti nyata bahwa belajar dapat mengubah hidup, tak peduli berapa pun usianya. Epilog: Belajar Adalah Cahaya Belajar bukanlah sekadar mengejar ijazah atau mengejar nilai, melainkan sebuah perjalanan seumur hidup untuk menemukan potensi diri dan berkontribusi pada sekitar. Di balik keramaian acara peluncuran “Indramayu Belajar,” terpancar sebuah harapan besar. Harapan bahwa setiap individu, tanpa memandang usia atau latar belakang, berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Dengan semangat kolaborasi dan kebersamaan, program ini menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi-mimpi yang tertunda dengan kenyataan yang lebih baik. Karena sejatinya, belajar adalah cahaya yang tak pernah padam, menerangi jalan menuju masa depan yang lebih cerah, tidak hanya bagi Indramayu, tetapi juga bagi seluruh anak bangsa. sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5537-reang-belajar-mewujudkan-indramayu-belajar-untuk-masa-depan-yang-lebih-cerah?Itemid=554