Oleh : DR. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME. pkbmal-zaytun.sch.id – Sabtu, 19 Juli 2025, Gedung Bazaar Al-Zaytun bukan lagi sekadar struktur fisik, melainkan kanvas hidup yang dipenuhi warna-warni asa. Lantai satu gedung itu menjelma galeri megah, dihiasi sederet stan yang memamerkan warga belajar: produk makanan, minuman, fesyen, dan aneka keterampilan tangan. Setiap sudut memancarkan semangat, setiap produk bercerita tentang ketekunan. Inilah puncak dari Lomba Kreativitas Warga Belajar Berbasis Kearifan Lokal, sebuah perayaan jiwa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80. Hartono, S.Pd., selaku penjab acara dengan bangga menjelaskan, bahwa ini adalah simfoni kreativitas yang telah lama dinanti. Mengukir Potensi, Merajut Kemandirian: Suara Hati dari PKBM Pagi itu, udara dipenuhi getaran kebangsaan. Lagu Indonesia Raya tiga stanza, disusul Hymne dan Mars PKBM Al-Zaytun, mengalun syahdu, menyatukan setiap hati dalam satu tarikan napas. Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., Kepala PKBM Al-Zaytun, berdiri di mimbar, suaranya penuh haru dan kebanggaan. “Alhamdulillah, hari ini kita dapat melaksanakan salah satu rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 tahun 2025,” ujarnya, sorot matanya memancarkan kebahagiaan. “Lomba kreativitas warga belajar ini bukanlah acara biasa. Ini adalah bentuk implementasi nyata dari proses pembelajaran berbasis pemberdayaan yang selama ini kita upayakan di PKBM Al-Zaytun.” Beliau melanjutkan, menjelaskan bahwa acara ini adalah lomba ketiga, setelah sebelumnya sukses menggelar cerdas cermat serta cipta puisi dan lagu. “Semuanya merupakan bagian dari aktualisasi hasil Workshop Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat PNFI pada tanggal 7 sampai 9 Juli lalu, di mana saya hadir secara langsung,” tambahnya, menegaskan landasan ilmiah di balik setiap langkah. “Dari workshop tersebut kami mendapat peneguhan bahwa tujuan utama pendidikan nonformal adalah memberdayakan warga belajar. Kita ingin mereka memiliki kompetensi, tumbuh percaya diri, dan akhirnya mampu mandiri secara ekonomi maupun sosial.” Dr. Ali menekankan bahwa warga belajar PKBM Al-Zaytun, yang mayoritas berusia 40 tahun ke atas, sesungguhnya telah memiliki segudang pengalaman dan keterampilan. “Tugas kita adalah memberikan ruang bagi mereka untuk menoleh kembali pada potensi yang pernah dimiliki, dan memberi dorongan agar mereka terus tumbuh.” Melalui lomba ini, keterampilan mereka diasah, bukan hanya dalam produksi, tetapi juga presentasi dan promosi. “Kami pun berupaya menyiapkan daya dukung, termasuk pelatihan pemasaran digital dan pemanfaatan media sosial. Harapannya, setelah memiliki kompetensi dan kepercayaan diri, warga belajar bisa benar-benar mandiri,” pungkasnya, sebelum menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Sebuah video proses produksi karya warga belajar kemudian ditayangkan, memperlihatkan jejak keringat dan dedikasi di balik setiap produk. Tayangan ini menegaskan bahwa produk yang dipamerkan adalah original hasil karya sendiri. Harmoni Bakat dan Apresiasi: Jembatan Menuju Panggung Kesuksesan Suasana semakin hangat ketika Bunda Emilia Iskandar, S.Pd., M.M., Kepala Bidang PNFI Dinas Pendidikan Indramayu, menyambut inisiatif PKBM Al-Zaytun. “Saya sangat mengapresiasi dan menyambut hangat inisiatif PKBM Al-Zaytun dalam menyelenggarakan lomba kreativitas warga belajar berbasis kearifan lokal,” ucapnya penuh semangat. “Ini adalah bukti bahwa PKBM Al-Zaytun mampu menjawab tantangan pendidikan nonformal hari ini dengan pendekatan yang kreatif, menyenangkan, sekaligus penuh makna.” Beliau menegaskan relevansi kegiatan ini dengan agenda pembaharuan Disdik Indramayu, yakni validitas data dan pembangunan jiwa kewirausahaan. “Apa yang dilakukan oleh PKBM Al-Zaytun hari ini adalah bentuk nyata dari pemberdayaan berbasis keterampilan dan potensi lokal. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat pembelajaran, tapi juga membangun karakter, membentuk identitas, dan membuka peluang ekonomi bagi warga belajar.” Kebanggaan Bunda Emil tak terbendung melihat kemeriahan dan semangat acara. “Saya sangat bangga karena kegiatan ini dilaksanakan secara meriah, rapi, dan penuh semangat. Warga belajar tampil percaya diri, kreatif, dan produktif. Ini adalah hasil dari proses pembinaan yang luar biasa.” Tak hanya pujian, Bunda Emil juga membuka gerbang kesempatan emas. Beliau mengundang para pelaku UMKM terbaik dari PKBM Al-Zaytun untuk mengikuti pameran di Kantor Dinas Pendidikan Indramayu pada 6 Agustus 2025, yang akan dihadiri Bupati, serta pameran tingkat provinsi di Bandung pada 9 September mendatang. “Saya yakin, produk-produk warga belajar dari PKBM Al-Zaytun akan tampil menjadi yang terbaik di antara yang baik,” harapnya, mengakhiri sambutan dengan optimisme. Selepas sambutan, panggung disemarakkan oleh Tari Bungo Jumpo yang memesona dari warga belajar Paket C. Gerakan gemulai berpadu seragam indah, menciptakan harmoni yang memukau. Secara spontan, Bunda Emil tampil ke depan, memodifikasi tarian sebagai ice breaking pembelajaran. Respons serempak dari warga belajar yang masih mengingat dan mempraktikkan gerakan itu membuat Bunda Emil kagum. Sebuah bukti nyata bahwa pembelajaran di Al-Zaytun tak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga mengukir jejak di hati dan gerak tubuh. Jejak Karya, Jejak Hati: Proses Penilaian dan Puncak Kebersamaan Proses penilaian pun berlangsung cermat, dipimpin oleh tim juri yang terdiri dari Bunda Emil, dua tutor senior, dan dua penilai independen dari guru Al-Zaytun. Mereka berkeliling dari satu stan ke stan lain, mendengarkan dengan saksama penjelasan dari juru bicara setiap kelompok. Nama produk, bahan, proses pembuatan, hingga manfaatnya dipaparkan dengan lugas. Tim juri berkesempatan mencicipi aneka hidangan lezat dan mengagumi kerajinan tangan inovatif dari barang bekas yang disulap menjadi bunga, baju, tas, dan lainnya. Setiap karya adalah manifestasi dari ide, kerja keras, dan kearifan lokal. Sambil menanti rekapitulasi nilai yang menegangkan, panggung kembali diisi oleh persembahan juara kedua lomba cipta puisi dan cipta lagu. Slamet Riyadi dari Paket C membacakan puisinya yang berjudul “PKBM Al-Zaytun” dengan penghayatan mendalam, sementara Iis Kurniati melantunkan lagu ciptaannya, “Semangat Untuk PKBM Al-Zaytun,” menggetarkan hati para hadirin. Detik-detik yang dinanti pun tiba. Pengumuman juara menjadi puncak ketegangan dan kebahagiaan. Juara pertama diraih oleh Kelas Paket A, juara kedua oleh Paket C kelas C1, dan juara ketiga dibagi dua, yaitu Kelas Paket B1 dan B3. Lebih dari sekadar piala, kemenangan ini adalah simbol dari keberanian, ketekunan, dan kebersamaan yang telah terjalin. Momen kebersamaan mencapai puncaknya saat lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals mengalun. Awalnya hanya Kepala PKBM dan penyiar Prima FM, Indah, yang bernyanyi, namun kemudian diikuti oleh Kabid PNFI dan suami, para tutor, dan seluruh warga belajar. Mereka larut dalam kesyahduan lagu, tangan-tangan terangkat dengan cahaya ponsel, menciptakan lautan bintang di dalam gedung. Sebuah ending acara yang epik, di mana kebahagiaan meresap ke setiap relung jiwa, melampaui batas kompetisi, menyisakan kesan mendalam yang tak terlupakan. Setelah acara ditutup, rombongan Kabid PNFI menuju restoran Al Islah untuk makan siang, membawa
Simfoni Kreativitas di PKBM Al-Zaytun: Merajut Asa, Menyambut Kemerdekaan
Oleh : Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id – Sabtu, 19 Juli ’25, Gedung Bazaar Al-Zaytun memancarkan aura yang berbeda. Bukan sekadar bangunan, melainkan panggung bagi sebuah perayaan jiwa, sebuah festival kearifan lokal yang diukir oleh tangan-tangan terampil warga belajar. Sederet stan memamerkan ragam produk makanan, minuman, fesyen, dan aneka keterampilan lainnya, seolah menjadi etalase hidup dari semangat inovasi dan kemandirian. Inilah Lomba Kreativitas Warga Belajar Berbasis Kearifan Lokal, sebuah rangkaian istimewa dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Pagi itu, semangat kebangsaan mengalun syahdu. Lantunan Indonesia Raya tiga stanza, disusul Hymne dan Mars PKBM Al-Zaytun, menggetarkan sanubari, menyatukan setiap hati yang hadir. Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME., Kepala PKBM Al-Zaytun, membuka acara dengan ucapan terima kasih tulus kepada Dinas Pendidikan Indramayu yang berkenan hadir, menjadi saksi dan motivator bagi warga belajar. Beliau menjelaskan, lomba ini adalah puncak dari serangkaian kompetisi sebelumnya – cerdas cermat, cipta puisi, dan cipta lagu – sebuah implementasi nyata dari hasil lokakarya Direktorat PNFI pada 7-9 Juli lalu. “Aktualisasi pembelajaran pemberdayaan di PKBM adalah mewujudkan kompetensi, percaya diri, dan kemandirian,” tegas Dr. Ali. Ia menyoroti bahwa mayoritas warga belajar PKBM Al-Zaytun, yang berusia 40 tahun ke atas, sejatinya telah memiliki kompetensi. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang dan dukungan untuk bertumbuh. Melalui lomba kreativitas ini, kemampuan terasah, daya dukung seperti pelatihan pemasaran daring difasilitasi, dan yang tak kalah penting, rasa percaya diri mereka terpupuk. Setiap stan menjadi mimbar presentasi, di mana warga belajar dengan bangga menjelaskan proses produksi, keunggulan, dan manfaat produk mereka. Sebuah dialog interaktif yang membangun, mengikis keraguan, dan menumbuhkan keyakinan bahwa kemandirian adalah buah dari kompetensi dan percaya diri. Harmoni Bakat dan Kearifan Lokal: Sebuah Persembahan Jiwa Suasana semakin hangat ketika Bunda Emilia Iskandar, S.Pd. M.M., Kepala Bidang PNF Dinas Pendidikan Indramayu, menyambut inisiatif PKBM Al-Zaytun dengan apresiasi setinggi-tingginya. Lomba ini, menurutnya, sangat relevan dengan gerakan pembaharuan Disdik Indramayu, khususnya di bidang PNFI, yaitu validitas data dan pembangunan kewirausahaan warga belajar. Beliau bahkan mengundang pelaku UMKM dari PKBM Al-Zaytun untuk mengikuti pameran di Kantor Disdik Indramayu pada 6 Agustus 2025, yang akan dihadiri Bupati, serta pameran di Bandung pada 9 September mendatang. Sebuah jembatan emas menuju pasar yang lebih luas, sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki daya saing global. Selepas sambutan, panggung disemarakkan oleh penampilan memukau Tari Bungo Jumpo dari warga belajar Paket C. Gerakan gemulai berpadu seragam indah, menciptakan harmoni yang memesona. Spontanitas Bunda Emil yang tampil ke depan, memodifikasi tarian sebagai ice breaking pembelajaran, disambut riuh dan senyum. Warga belajar serempak mempraktikkan, membuktikan bahwa ilmu yang diajarkan setahun lalu masih melekat erat dalam ingatan dan praktik mereka. Selanjutnya, proses penilaian pun berlangsung cermat. Tim juri yang terdiri dari Bunda Emil, dua tutor senior, dan dua penilai independen dari guru Al-Zaytun, berkeliling dari satu stan ke stan lain. Setiap peserta tak hanya menjelaskan nama produk, melainkan juga bahan, proses pembuatan, hingga manfaatnya. Tim juri berkesempatan mencicipi aneka hidangan lezat dan mengagumi kerajinan tangan dari barang bekas yang disulap menjadi bunga, baju, tas, dan lainnya. Sebuah bukti nyata bahwa kreativitas tak mengenal batas usia dan bahan. Puncak Apresiasi dan Kebersamaan: Melampaui Batas Kemenangan Sambil menanti rekapitulasi nilai, panggung kembali diisi oleh persembahan juara kedua lomba cipta puisi dan cipta lagu. Slamet Riyadi dari Paket C membacakan puisinya yang menyentuh, “PKBM Al-Zaytun,” sementara Iis Kurniati melantunkan lagu ciptaannya, “Semangat Untuk PKBM Al-Zaytun,” menggetarkan hati para hadirin. Detik-detik yang dinanti pun tiba. Juara pertama diraih oleh Kelas Paket A, juara kedua oleh Paket C kelas C1, dan juara ketiga dibagi dua, yaitu Kelas Paket B1 dan B3. Lebih dari sekadar piala, kemenangan ini adalah simbol dari keberanian, ketekunan, dan kebersamaan. Momen kebersamaan mencapai puncaknya saat lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals mengalun. Awalnya hanya Kepala PKBM dan penyiar Prima FM, Indah, yang bernyanyi, namun kemudian diikuti oleh Bunda PNFI dan suami, para tutor, dan seluruh warga belajar. Mereka larut dalam kesyahduan lagu, tangan-tangan terangkat dengan cahaya ponsel, menciptakan lautan bintang di dalam gedung. Sebuah ending acara yang epik, di mana kebahagiaan meresap ke setiap relung jiwa, melampaui batas kompetisi, menyisakan kesan mendalam yang tak terlupakan. Epilog: Nyanyian Harapan dari Tanah Indramayu Dibalik dinding Gedung Bazaar yang megah, bukan hanya produk yang tercipta, melainkan jiwa-jiwa yang terlahir kembali. Di sana, di tengah tawa dan tepuk tangan, terukir sebuah kisah tentang ketangguhan yang tak mengenal usia, tentang mimpi yang bersemi di tangan-tangan yang tak pernah lelah berkarya. Al-Zaytun, dengan segala kearifan dan inovasinya, telah membuktikan bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kemandirian, bahwa setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki potensi tak terbatas untuk berkontribusi pada bangsa. Kini, setelah tirai panggung ditutup dan gemuruh tepuk tangan mereda, yang tersisa adalah gema harapan. Harapan akan masa depan pertanian yang lebih cerah, harapan akan UMKM yang berdaya saing, dan harapan akan generasi yang tak lagi takut pada lumpur, melainkan melihatnya sebagai ladang emas peluang. Dari tanah Indramayu ini, sebuah nyanyian harapan mengalun, menginspirasi setiap insan untuk berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menjadi agen perubahan, demi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera. sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5371-simfoni-kreativitas-di-al-zaytun-merajut-asa-menyambut-kemerdekaan?Itemid=554
Mengukuhkan Komitmen: Penutupan Workshop Ditjen PNFI Perkuat Ekosistem Pendidikan Non-Formal dan Informal
Jakarta, 8 Juli 2025 PKBM Al Zaytun — Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal (PNFI), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen RI), menegaskan kembali komitmennya dalam memajukan pendidikan luar sekolah melalui penyelenggaraan workshop nasional yang berlangsung pada 7–8 Juli 2025 di Jakarta. Workshop ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari kementerian, dinas pendidikan, akademisi, hingga para praktisi dan pegiat PNFI—untuk merumuskan strategi dan inovasi penguatan pendidikan non-formal dan informal di Indonesia. Empat Pilar Penguatan Ekosistem PNFI Dalam laporan penutupannya, Kepala Subdirektorat Tata Kelola, Dr. Novrian, menyampaikan empat pilar utama hasil workshop yang akan menjadi panduan strategis ke depan: 1. Pemberdayaan Kursus dan Pelatihan di PKBM Fokus pada penguatan kapasitas PKBM melalui penyusunan metodologi kursus dan pelatihan yang adaptif. Termasuk di dalamnya perencanaan Hari Aksara Internasional 2025 sebagai momentum kolaboratif nasional. 2. Koordinasi Pendidikan Keluarga Bersama Mitra Pendidikan keluarga diposisikan sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi pembelajar. Skema sinergi dengan mitra akan mendorong integrasi pendidikan keluarga dalam kebijakan nasional. 3. Pengembangan Kurikulum Kursus Berbasis Kompetensi Mendorong lahirnya peserta didik yang memiliki keterampilan siap pakai dan relevan dengan pasar kerja, melalui kurikulum berbasis kompetensi yang responsif terhadap kebutuhan lokal. 4. Penguatan Peran Keluarga dalam Ekosistem Pembelajaran Pilar ini memperluas peran keluarga dalam seluruh tahapan pendidikan anak, menjadikan keluarga sebagai mitra strategis dalam ekosistem belajar sepanjang hayat. “Empat pilar ini bukan hanya rumusan teknis, tapi cerminan arah transformasi pendidikan non-formal yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Novrian. Sinergi Nasional dan Tantangan Implementasi Dalam sambutan penutupan, Direktur PNFI, Dr. Baharudin, M.Pd., memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan menegaskan pentingnya keberlanjutan sinergi nasional. Ia menjelaskan bahwa ke depan akan digelar Rapat Koordinasi Nasional yang melibatkan 514 kabupaten/kota untuk menyatukan persepsi dan menyelaraskan kebijakan. “Setiap gagasan dan dokumen dari workshop ini akan menjadi bahan utama pembahasan dalam rakor mendatang. Ini bukan hanya kerja pusat, tapi kerja bersama seluruh bangsa,” tegasnya. Meski begitu, Dr. Baharudin tidak menutup mata terhadap hambatan implementasi di lapangan, seperti koordinasi yang lemah, multitafsir terhadap regulasi, dan politik anggaran. Ia menggarisbawahi pentingnya transparansi data dan pemahaman menyeluruh terhadap kebijakan agar tidak terjadi kesenjangan antara rencana dan realita. Digitalisasi: Antara Cita dan Fakta Salah satu tantangan besar yang dibahas adalah digitalisasi PNFI. Dari hasil verifikasi Inspektorat Jenderal, hanya 3 dari 22 lembaga yang dinilai layak secara infrastruktur digital. Banyak PKBM yang melaporkan data siswa tidak sesuai kondisi nyata, dan beberapa bahkan tidak memiliki ruang belajar permanen. “Kita tidak bisa memaksakan perangkat canggih tanpa kesiapan dasar. Kejujuran adalah fondasi program ini. Jika siswanya 8, jangan dilaporkan 58,” tegas Dr. Baharudin, menyerukan akuntabilitas dalam pelaporan. Refleksi dan Arah ke Depan Direktur PNFI menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bagian dari proses jangka panjang. Saat ini, proses penguatan PNFI berada di fase ketiga, yakni tahap konkretisasi dan implementasi. “Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama. Bahkan tanpa undangan resmi, kehadiran Bapak-Ibu di kegiatan selanjutnya sangat kami harapkan,” ujarnya. Ia juga mengajak peserta untuk terus memperkaya gagasan, seperti konsep pendidikan keluarga yang dikembangkan oleh beberapa peserta, agar dapat menjadi referensi kebijakan ke depan. Epilog: Menuju Ekosistem Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan Penutupan workshop ini menjadi titik awal dari upaya memperkuat ekosistem PNFI secara nasional. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta, Ditjen PNFI berkomitmen membangun sistem pendidikan non-formal yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing. Mari terus bergerak bersama, membangun ekosistem pendidikan yang memberi ruang bagi semua untuk belajar, tumbuh, dan berkontribusi bagi Indonesia yang lebih baik. *** Oleh: Dr. Ali Aminulloh (Kepala PKBM Al-Zaytun) sumber : https://beritakita.click/mengukuhkan-komitmen-penutupan-workshop-ditjen-pnfi-perkuat-ekosistem-pendidikan-non-formal-dan-informal/
Simfoni Kata dan Nada: Lentera Toleransi dari PKBM Al-Zaytun
Oleh: Dr. Ali Aminulloh (Dosen IAI Al-Zaytun) Editor: Abah Roy – Redaksi Aswin News.com Berkarya dalam Ruang Pendidikan yang Manusiawi Dalam semarak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, PKBM Al-Zaytun menggelar Lomba Cipta Lagu dan Puisi. Bertempat di Gedung PKBM Bazar pada Sabtu, 12 Juli 2025, acara ini bukan sekadar selebrasi kreativitas, melainkan refleksi nyata dari visi lembaga sebagai Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi. Kepala PKBM, Dr. Ali Aminulloh, menekankan bahwa kompetisi seperti ini memicu tumbuhnya soft skills peserta didik—kepercayaan diri, keberanian, dan daya saing sehat. Sementara itu, Hartono, S.Pd., selaku Koordinator Tutor, menjelaskan bahwa lomba ini juga menjadi wahana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap almamater dan budaya belajar. Tema-tema karya peserta menyentuh semangat perjuangan, identitas lembaga, serta cita tentang masa depan yang lebih terang. Sebanyak 22 peserta dari Paket A, B, dan C menyuguhkan puisi dan lagu ciptaan mereka. Dari Rumini (B4) yang membawakan “Belajar di PKBM” hingga Nurhayati (B4) dengan lagu “PKBM”, setiap karya adalah suara hati yang merayakan proses belajar sebagai jalan hidup yang bermakna. Dewan juri—Hartono, S.Pd., Amirul Fajar Wahdana, S.Pd., dan Mulyadi, S.Pd., M.Pd.—menilai dengan seksama. Hasilnya: Humayah (B1) meraih juara 1 puisi, sementara Nurhayati (B4) keluar sebagai pemenang cipta lagu. Tak sekadar menang, mereka mewakili semangat juang dalam balutan ekspresi estetika. Mendidik untuk Ibadah: Ketika Kata dan Nada Menjadi Doa PKBM Al-Zaytun menanamkan nilai bahwa mendidik dan membangun semata-mata adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT. Lomba cipta lagu dan puisi ini merupakan manifestasi nyata dari semangat tersebut. Di atas panggung, peserta tidak hanya menyampaikan karya, tetapi juga menyuarakan niat tulus beribadah melalui kreativitas dan keberanian. Melodi dan bait yang mereka lantunkan menjadi sarana ekspresi diri, sekaligus penghormatan terhadap anugerah berpikir, merasa, dan berkarya. Di sini, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, dan lagu bukan sekadar kumpulan nada—melainkan wujud syukur atas kesempatan belajar dan tumbuh dalam suasana damai, toleran, dan penuh kasih. PKBM Al-Zaytun berhasil menyusun ruang belajar yang holistik: mengasah akal, membentuk karakter, dan menyemai kebaikan. Para peserta lomba tidak hanya belajar tampil, tapi juga belajar mengenal diri, memahami orang lain, dan menyatukan keberagaman dalam karya. Epilog: Dari Panggung Kecil Menuju Cahaya Besar Ketika semua kata telah dilantunkan dan lagu terakhir mengalun, tersisa gema yang tak terlihat: semangat yang ditanam, keberanian yang tumbuh, dan nilai-nilai yang mengakar. PKBM Al-Zaytun membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan sunyi menuju pengabdian—sebuah ibadah yang tidak hanya berlangsung dalam salat dan zikir, tetapi juga dalam mencipta, membangun, dan menginspirasi. Para warga belajar yang tampil hari itu bukan hanya berlomba; mereka telah memulai perjalanan panjang menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Dan di setiap bait yang ditulis, di setiap nada yang dilagukan, terselip satu pesan agung: bahwa ilmu, seni, dan akhlak adalah cahaya—dan tugas kita adalah menjadi lentera. Indramayu, 15 Juli 2025 sumber : https://aswinnews.com/2025/07/15/simfoni-kata-dan-nada-lentera-toleransi-dari-pkbm-al-zaytun/
Membumikan Literasi dan Pemberdayaan Pendidikan Nonformal: Strategi Nasional Menyambut Hari Aksara Internasional 2025
Indramayu, pkbmal-zaytun.sch.id — Dalam rangkaian workshop yang diselenggarakan Direktorat Jenderal PNFI, di bagi kelompok sesuai dengan sub tema pembahasan, salah satunya tentang Gerakan Indonesia Membaca. Tim ini membahas bagaimana agar membaca dalam pengertian luas menjadi budaya masyarakat Indonesia. Pada awal diskusi, Dr. Cecep Suryana selaku ketua sub tim, memberikan pemaparan mengenai target pembahasan, yaitu perumusan agenda webinar, lokakarya, dan perayaan puncak Hari Aksara Internasional. Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, salah satu peserta workshop mencatat beberapa hal penting dan strategis yang dihasilkan oleh tim. 1. Webinar Literasi dan Mobilisasi Kapasitas: Menyatukan Gerak PKBM, SKB, dan TBM Rangkaian Hari Aksara Internasional 2025 diawali dengan gebrakan cerdas: tujuh seri webinar yang digelar secara langsung dari Jakarta oleh Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI). Webinar ini tidak sekadar formalitas, melainkan perwujudan semangat menyatukan seluruh kekuatan komunitas belajar di Indonesia—dari PKBM, SKB, hingga TBM. Webinar ini dirancang untuk menjangkau 10.000 peserta lintas daerah. Dengan asumsi setiap dari 500 kabupaten/kota mengirimkan setidaknya 20 peserta dari TPM, angka tersebut realistis dan mencerminkan potensi masif dari ekosistem pendidikan nonformal kita. Namun, tantangan tetap ada: gairah dan kesiapan daerah yang masih timpang. Sebagai contoh, kurangnya kepala lembaga definitif serta lahan yang belum tersedia menghambat proses revitalisasi satuan pendidikan. Meski Kementerian telah mengalokasikan dana sebesar 500 miliar rupiah untuk pembangunan hingga tahun 2029, penyerapan anggaran belum optimal. Webinar ini juga mengupas pentingnya penguatan literasi berbasis komunitas. TBM (Taman Bacaan Masyarakat) bukan sekadar tempat menaruh buku, melainkan ruang hidup yang dinamis. Kesaksian para pegiat literasi di daerah terpencil membuktikan bahwa buku-buku kecil yang kontekstual lebih efektif menumbuhkan minat baca dibanding tumpukan buku teks formal. 2. Lokakarya dan Lomba: Dari Wacana Strategis ke Aksi Nyata Untuk menjembatani wacana dan praktik, rangkaian webinar dilanjutkan dengan lokakarya tematik yang lebih membumi. Lokakarya ini akan melibatkan dinas pendidikan dari daerah dengan akreditasi lemah maupun program PNF yang minim. Tujuannya: menciptakan exemplar untuk percepatan penguatan lembaga-lembaga pendidikan nonformal. Di sisi lain, lomba menjadi strategi partisipatif yang menyasar komunitas langsung. Ada empat jenis lomba utama: – Lomba foto dan video pembelajaran keaksaraan – Lomba foto dan video kegiatan literasi masyarakat Lomba ini terbuka untuk semua, namun tetap memprioritaskan partisipasi satuan pendidikan seperti PKBM dan TBM. Dengan pendekatan ini, dokumentasi praktik baik dari lapangan dapat menjadi narasi kolektif yang menginspirasi. Yang istimewa, pemenang lomba akan diumumkan dan diundang langsung ke acara puncak Hari Aksara Internasional. Tak hanya itu, apresiasi khusus diberikan kepada pemda dan tokoh pegiat yang telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam membangun PNFI secara berkelanjutan. 3. Puncak Perayaan: Literasi sebagai Komitmen Kultural dan Internasional Hari Aksara Internasional akan mencapai klimaks pada 8 September 2025 di kawasan Senayan, Jakarta. Acara yang biasanya berlangsung selama setengah hari ini dipersiapkan secara total: dari pentas seni, testimoni warga belajar, hingga pameran yang menampilkan kekayaan praktik PNFI dari berbagai wilayah. Yang membanggakan, UNESCO mengakui Indonesia sebagai negara paling konsisten menyelenggarakan peringatan Hari Aksara Internasional secara nasional. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen kultural dan internasional untuk terus memperkuat literasi sebagai fondasi pembangunan masyarakat berdaya. Simbolisasi perayaan melalui pemukulan gong oleh menteri menjadi penanda bahwa literasi bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari peradaban. Terlebih lagi, tampilnya anak-anak berkebutuhan khusus dan warga belajar keaksaraan memberi wajah pada perjuangan literasi yang selama ini tersembunyi. *** sumber : https://beritakita.click/membumikan-literasi-dan-pemberdayaan-pendidikan-nonformal-strategi-nasional-menyambut-hari-aksara-internasional-2025/
Perayaan Kemerdekaan di PKBM Al-Zaytun: Melahirkan Kreativitas dan Soft Skill Melalui Lomba Cipta Lagu dan Puisi
Oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id, Indramayu – Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun menyelenggarakan Lomba Cipta Lagu dan Puisi. Acara yang berlangsung meriah ini diadakan pada Sabtu, 12 Juli 2025, pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, bertempat di Gedung PKBM Bazar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan berbagai soft skill penting bagi para peserta didik. Menurut kepala PKBM Al- Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, kegiatan lomba cipta lagu dan puisi ini merupakan bagian integral dari proses pendidikan di PKBM Al-Zaytun. Beliau menekankan bahwa melalui lomba semacam ini, kreativitas peserta akan terpacu, rasa percaya diri akan tumbuh, dan daya saing yang sehat akan terbentuk. Kemampuan seperti ini, atau yang dikenal dengan soft skill, sangat penting untuk dikembangkan dan dapat ditumbuhkan melalui berbagai jenis kompetisi. Senada dengan itu, Hartono, S.Pd., Koordinator Tutor PKBM Al-Zaytun, menjelaskan bahwa lomba ini juga bertujuan untuk menumbuhkan budaya belajar dan kecintaan terhadap almamater, khususnya PKBM Al-Zaytun. Oleh karena itu, tema-tema yang diangkat dalam lomba ini banyak berkaitan dengan semangat belajar dan identitas PKBM. Beliau juga menambahkan bahwa warga belajar bukan hanya ditantang untuk menciptakan karya, tetapi juga untuk menyajikannya di hadapan dewan juri dan penonton. Para peserta lomba puisi membacakan hasil karyanya, sementara peserta lomba lagu menyanyikan ciptaannya. Aspek ini, menurut Hartono, S.Pd., merupakan bagian penting dari pelatihan keterampilan sekaligus penghapusan rasa grogi atau demam panggung. Dengan demikian, belajar di PKBM Al-Zaytun tidak hanya berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga pada pengembangan kepribadian yang meliputi keterampilan, kehalusan budi, kepercayaan diri, kemampuan kolaborasi, dan keberanian. Lomba ini diikuti oleh peserta dari Paket A, B, dan C. Sebanyak 11 peserta mengikuti lomba cipta puisi, sementara lomba cipta lagu diikuti oleh 11 peserta. Peserta iji meruapakan perwakilan dari dari masing-masing kelas yang sudah terseleksi sebelumnya. Dalam kategori cipta puisi, diantara peserta yang tampil antara lain Rumini (B4) dengan judul “Belajar di PKBM”, Humayah (B1) dengan “PKBM Untuk Kejayaan”, dan Slamet Riyadi (C3) dengan “PKBM Al-Zaytun”. Sementara itu, pada kategori cipta lagu, peserta seperti Siti Rohmah (C1) membawakan “Anganku”, Nurul Rohmah (B1) dengan “Cerita PKBM”, dan Sartinah (C2) dengan “Sahabat PKBM Al-Zaytun” turut meramaikan kompetisi. Jalannya pertandingan diawali dengan pengambilan undian oleh masing-masing peserta untuk menentukan nomor urut penampilan. Nomor urut ini digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan setiap peserta secara sistematis. Setiap peserta menunjukkan antusiasme dan semangat kompetitif yang tinggi, dengan dewan juri dan panitia memastikan jalannya pertandingan berjalan adil dan tertib. Dewan juri pada lomba ini terdiri dari Hartono, S.Pd. (Koordinator Tutor PKBM Al-Zaytun), Amirul Fajar Wahdana, S.Pd. (Guru Madrasah Ibtidaiyah Al-Zaytun), dan Mulyadi, S.Pd., M.Pd. (Guru Madrasah Ibtidaiyah Cibanoang Al-Zaytun). Setelah melalui proses penjurian yang ketat, berikut adalah hasil akhir lomba: Hasil Lomba Cipta Puisi: 1. Humayah (B1) meraih peringkat 1 dengan nilai 1595. 2. Slamet Riyadi (C3) menempati peringkat 2 dengan nilai 1545. 3. Siti Isnaini (C2) dan Maryati (C3) berbagi peringkat 3 dengan nilai 1525. Hasil Lomba Cipta Lagu: 1. Nurhayati (B4) berhasil menjadi juara 1 dengan nilai 1686. 2. Iis Kurniati (C3) menempati peringkat 2 dengan nilai 1669. 3. Siti Marwiyah (C4) dan Ngasrini (C3) menempati peringkat 3 dengan nilai 1611 dan 1603, secara berurutan. Secara keseluruhan, pertandingan cipta puisi dan cipta lagu berjalan dengan lancar dan sukses. Diharapkan kegiatan ini dapat terus meningkatkan wawasan, semangat belajar dan berkarya, serta semangat berkompetisi secara sehat di kalangan peserta didik PKBM Al-Zaytun. Epilog: Lomba sarana membangun pribadi holistik Lomba cipta lagu dan puisi di PKBM Al-Zaytun ini sesungguhnya adalah manifestasi nyata dari filosofi pendidikan yang lebih luas. Di luar kurikulum akademik, PKBM Al-Zaytun menekankan penumbuhan nilai-nilai esensial seperti kreativitas, kemandirian, dan keberanian. Kemampuan untuk merangkai kata menjadi puisi yang indah atau mengubah gagasan menjadi melodi yang menyentuh hati bukan sekadar bakat, melainkan hasil dari proses belajar yang mendorong pemikiran divergen dan ekspresi diri. Kepercayaan diri yang dilatih melalui penampilan di depan umum, serta semangat kolaborasi yang terjalin antarpeserta, adalah bekal berharga yang akan mereka bawa dalam kehidupan. Lebih dari sekadar kompetisi, acara ini menanamkan bahwa belajar adalah proses holistik yang membentuk karakter, mengasah kepekaan, dan membangun fondasi kuat untuk menghadapi tantangan serta meraih impian di masa depan. Nilai-nilai ini, pada akhirnya, akan menjadi landasan bagi setiap warga belajar untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial, siap berkontribusi positif bagi masyarakat. sumber : https://www.lognews.co.id/component/content/article/121-pendidikan/5337-perayaan-kemerdekaan-di-pkbm-al-zaytun-melahirkan-kreativitas-dan-soft-skill-melalui-lomba-cipta-lagu-dan-puisi?Itemid=554
PKBM Al-Zaytun Menyalakan Obor Ilmu dari Teladan: Ketika Belajar Menjadi Jalan Ibadah
Oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id – Pada Jumat, 4 Juli 2025, satu pesan singkat terkirim lewat WhatsApp dari Bunda Sumiyati. Isinya undangan resmi dari Direktorat Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) untuk menghadiri sebuah workshop penting mengenai Kontekstualisasi Pemberdayaan bagi Pendidikan Non Formal. Kegiatan ini dilaksanakan di Jakarta, 7-9 Juli 2025. Di dalamnya terselip harapan: agar PKBM Al-Zaytun dapat berbagi masukan tentang bagaimana menumbuhkan motivasi belajar warga—karena komitmen keluarga besar Al-Zaytun dalam menempuh pendidikan dinilai luar biasa. Tak berlebihan jika Al-Zaytun dijadikan contoh. Di lembaga ini, belajar bukan sekadar keharusan administratif, melainkan denyut nadi kehidupan yang tertanam dari pucuk pimpinan hingga lini terbawah. Dan semua itu berakar pada satu hal: keteladanan. Belajar dari Langkah Pemimpin Syaykh A.S Panji Gumilang tidak hanya mengajak, tapi lebih dahulu berjalan. Ketika beliau menyerukan pentingnya pendidikan pascasarjana, beliau sendiri duduk di bangku S2 meskipun usianya telah menapaki kepala tujuh. Dan pada usia 79 tahun, beliau menorehkan sejarah: mengikuti program doktoral bidang hukum bersama 20 sahabatnya—sebuah pesan sunyi namun menggema, bahwa menuntut ilmu adalah tangga panjang yang tak terbatas usia. Umi Syaykh pun turut melangkah, menjadikan pendidikan sebagai budaya keluarga. Langkah ini menular menjadi gerakan kolektif yang terstruktur. Para pimpinan unit diajak menjadi teladan. Motivasi disampaikan bukan hanya dalam forum akademik, tapi juga dalam spiritualitas: dari mimbar dzikir Jumat hingga peringatan 17 Agustus dan Muharram. Pendidikan hadir sebagai jiwa moral dan kebangsaan. PKBM Al-Zaytun: Ruang Belajar Tanpa Batas Usia Sejak 2002, Al-Zaytun membuka ruang belajar yang lebih inklusif: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Program ini menjangkau karyawan, keluarga civitas, bahkan para wali santri yang sebelumnya belum memiliki akses terhadap pendidikan formal. Fleksibilitas waktu—belajar malam bagi yang bekerja siang, atau siang bagi keluarga—menjadikan PKBM sebagai jembatan antara kesibukan dan semangat belajar. Tak hanya akademik, PKBM juga memberikan pembelajaran keterampilan hidup, pemanfaatan fasilitas setara kampus, serta pembinaan koperasi dan komunitas belajar. Tutor-tutornya bukan orang luar, tapi guru internal dan alumni PKBM sendiri—mereka yang dulu belajar, kini mengajar. Ikatan Alumni PKBM yang telah terbentuk menjadi bukti bahwa gerakan ini bukan sekadar proyek, tapi peradaban. Statistik yang Bercerita tentang Jiwa Dalam dua dekade lebih, PKBM Al-Zaytun telah meluluskan 3.222 warga belajar. Rinciannya: – Paket A: 529 orang – Paket B: 1.155 orang – Paket C: 1.538 orang – Alumni yang sedang menempuh S1: >150 orang – Alumni lulus S1: >100 orang – Alumni menempuh S2: 6 orang – Alumni lulus S2: 1 orang – Alumni menempuh S3: 1 orang Kini, hampir seluruh karyawan Al-Zaytun telah memiliki ijazah SLTA. Beberapa bahkan telah menjadi akademisi dan tenaga pengajar sendiri. Statistik ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa perubahan besar dimulai dari keyakinan kecil yang dipelihara terus-menerus. Motivasi Tak Sekadar Ceramah Kisah sukses PKBM Al-Zaytun bukan terbentuk dari retorika semata, melainkan dari budaya belajar yang dihidupi secara otentik. Proses yang panjang, disiplin, dan penuh kasih. Sebuah motivasi yang tidak diimpor dari luar, tapi tumbuh dari dalam—mengakar dalam ruh lembaga itu sendiri. Ketika Bunda Sumiyati meminta masukan dalam workshop PNFI tentang bagaimana membangun motivasi belajar, barangkali jawabannya sederhana: motivasi tidak bisa hanya diceramahkan, ia harus diteladankan. Mendidik sebagai Ibadah Segala ikhtiar di Al-Zaytun berakar pada ruh yang dalam: “Mendidik dan membangun semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.” Dengan menjadikan pendidikan sebagai jalan ibadah, Al-Zaytun menanamkan nilai spiritualitas dalam setiap lembar catatan, setiap jam belajar, dan setiap cita-cita. Pendidikan di sini bukan tentang ijazah semata, tapi tentang martabat manusia. Bukan tentang angka-angka, tapi tentang makna. Epilog: Mendidik untuk Menjadi Manusia Seutuhnya Di tengah dunia yang kadang tergesa mengejar hasil tanpa proses, Al-Zaytun memilih jalan sebaliknya: membangun proses agar hasil datang dengan kemuliaan. Dari langkah seorang pemimpin, lahirlah gerakan. Dari ketekunan warga belajar, lahirlah peradaban. Maka kelak, ketika sejarah menulis tentang lembaga yang menyalakan cahaya ilmu dengan cinta, nama Al-Zaytun akan tertulis dengan huruf-huruf paling jernih—karena ia mendidik bukan hanya untuk cerdas, tapi untuk menjadi manusia seutuhnya. sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5287-pkbm-al-zaytun-menyalakan-obor-ilmu-dari-teladan-ketika-belajar-menjadi-jalan-ibadah?Itemid=554
Mengukir Arah Baru Pendidikan Non Formal: Kontekstualisasi, Revitalisasi, dan Inovasi Menuju Mutu
Indramayu, PKBM AL Zaytun–Workshop yang digelar Direktorat Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) pada 7–9 Juli 2025, dinamika perubahan tampak begitu terasa. Salah satu tim kerja—Tim Kontekstualisasi Pemberdayaan Pendidikan Non Formal—menjadi arena perumusan ulang strategi besar pendidikan non formal. Dipimpin oleh Sumiyati dari Timker PNFI, tim ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai lembaga termasuk Ali Aminulloh dari PKBM Al-Zaytun. Sesi pembuka menghadirkan Monika Ariyati dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (BAN-PDM) yang membongkar tantangan akreditasi terkini. Dari 12.926 lembaga kesetaraan di Indonesia, baru 63% yang terakreditasi. Kini, akreditasi tidak lagi menyasar lembaga sebagai satu kesatuan, melainkan setiap satuan pendidikan secara mandiri—membuka kemungkinan bahwa antara Paket A, B, dan C dalam satu lembaga memiliki status akreditasi berbeda. Yang terpenting, paradigma penilaian pun telah bergeser. Akreditasi kini mengukur performa kinerja secara komprehensif dengan empat komponen: iklim lingkungan belajar, kepemimpinan dan tata kelola, performa pendidik, serta capaian belajar warga didik. Pendekatan ini mendorong lembaga non formal untuk lebih adaptif dan akuntabel secara sistemik. Menghidupkan Kurikulum: Menanam Jiwa Mandiri dalam Kesetaraan Hari kedua menghadirkan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar) yang diwakili oleh M. Yusri Saad dan Neneng Kadariah. Paparan mereka menegaskan esensi kurikulum pendidikan non formal sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi transformatif. Sebanyak 70% kurikulum difokuskan pada pelajaran umum, dan 30% sisanya diisi dengan muatan keterampilan: dari vokasional hingga kepemimpinan pribadi. Tujuannya bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi pembentukan karakter dengan indikator seperti kesadaran diri, harga diri, hingga kemampuan mengambil keputusan. Satuan Kredit Kompetensi (SKK) menjadi instrumen utama pengukur capaian—yang dapat ditempuh melalui beragam pendekatan: tatap muka, tutorial, dan pembelajaran mandiri. Fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan PNFI, memungkinkan pendidikan menjangkau mereka yang berada di pinggiran sistem formal. Revitalisasi dan Akses: Merangkul Mereka yang Tersisih Staf Ahli PNFI, Fazhar, menyoroti urgensi transformasi sistem pendidikan non formal. Dengan 4,2 juta Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun 2023, pendidikan non formal memikul tanggung jawab strategis. Sifatnya yang inklusif dan fleksibel menjadikannya jalan tengah yang rasional dan transformatif. Namun tantangan terbesar bukan semata menjaring ATS, melainkan memastikan lulusan pendidikan non formal memiliki kesetaraan kualitas dengan pendidikan formal. Inilah yang melahirkan kebutuhan mendesak akan sistem penjaminan mutu, peningkatan kapasitas tutor, dan dukungan kebijakan agar visi Wajib Belajar 13 Tahun dapat diwujudkan dengan nyata. Digitalisasi Cerdas: Saat Rumah Pendidikan Menjadi Ekosistem Terpadu Era digital tak luput dari perhatian forum. Hendra dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) memperkenalkan “Rumah Pendidikan”—sebuah superaplikasi yang mengintegrasikan layanan Kemendikdikdasmen dalam satu ekosistem digital. Dari ruang murid hingga ruang publik, infrastruktur ini dirancang untuk efisiensi layanan, keterjangkauan, serta partisipasi lintas pemangku kepentingan. Sementara itu, Ihsan Fauzi dari SEAMOLEC menghidupkan kembali diskursus seputar platform SETARA Daring, yang sempat digunakan saat pandemi COVID-19. Meski kini redup, nyatanya kebutuhan model pembelajaran daring masih tinggi di lapangan. Tantangan ke depan: membangun sistem pembelajaran daring yang valid, akuntabel, dan mampu diakui setara oleh publik dan pemerintah. Epilog: Membingkai Harapan di Jalan Sunyi Pendidikan Alternatif Diskusi ditutup dengan perumusan konkrit oleh Tim Pemberdayaan di bawah koordinasi Sumiyati. Lahir tiga rumusan strategis: modul pemberdayaan, kajian pamong dan tutor, serta tata kelola pembelajaran kesetaraan. Ketiganya akan dijadikan dokumen kebijakan yang akan menyentuh seluruh penyelenggara pendidikan non formal di Indonesia. Apa yang terjadi dalam forum ini bukan hanya tentang rumusan teknis atau analisis kebijakan. Ini adalah bentuk cinta yang tenang namun kokoh terhadap setiap anak yang sempat terlewatkan oleh sistem. Sebuah langkah kecil namun berarti dalam menyulam ruang-ruang harapan bagi jutaan anak Indonesia untuk kembali bermimpi. Jika pendidikan formal adalah jalan raya, maka pendidikan non formal adalah jembatan. Dan dalam setiap jembatan, ada harapan yang tidak boleh runtuh. ***
PKBM Al Zaytun Hadiri Workshop Digitalisasi Pendidikan dari Ditjen PNFI Kemendikdasmen RI
pkbmal-zaytun.sch.id – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi dalam workshop yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI). Workshop ini berlangsung di Holiday Inn Jakarta dari Senin, 7 Juli hingga Rabu, 9 Juli 2025. Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME, ditugaskan Syaykh Al-Zaytun untuk menghadiri acara penting ini. Workshop ini secara komprehensif membahas empat tema krusial: Gerakan Indonesia Membaca, Sinergi Pendidikan Keluarga, Kontekstualisasi Pemberdayaan Pendidikan Kesetaraan, dan Digitalisasi Pendidikan. Acara dibuka secara resmi oleh Direktur PNFI, Dr. Baharudin, M.Pd, pada pukul 19.30 WIB bertempat di Suites Gajah Mada, lantai 7 Holiday Inn. Pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, Dr. Novrian, selaku Kasubdit Tata Kelola. Dalam sambutannya, Dr. Novrian Satria Perdana menggarisbawahi empat fokus utama workshop: penyempurnaan metode Gerakan Indonesia Membaca, membangun sinergi pendidikan keluarga dengan mitra, kontekstualisasi pemberdayaan pada pendidikan non-formal dan informal, serta digitalisasi pendidikan. Dr. Baharudin, M.Pd, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi tinggi kepada tim kerja yang telah berupaya keras selama sebulan penuh menyusun berbagai konsep pengembangan program PNFI. Beliau juga mengakui kehadiran perwakilan dari berbagai sektor pendidikan dan direktorat, termasuk Badan Akreditasi Nasional PDM, dan Pusat Kurikulum. Fokus Utama Workshop Workshop ini secara khusus menekankan empat kegiatan utama yang relevan dengan transformasi digital dalam pendidikan, khususnya di sektor non-formal dan informal: Digitalisasi Pendidikan Non-Formal dan Informal: Pendidikan non-formal dan informal, terutama di Satuan Kegiatan Belajar (SKB) dan PKBM, mendapatkan perhatian setara dengan pendidikan formal. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bantuan revitalisasi untuk SKB dan PKBM, dengan target membantu hampir 100% dari 507 SKB dan lebih dari 10.000 PKBM (total 10.075 lembaga) sesuai kelayakan mereka, sebuah inisiatif langsung dari Presiden. Isi dan Kontekstualisasi Pembelajaran Digital: Digitalisasi tidak hanya fokus pada perangkat keras, tetapi juga pada konten pembelajaran. Modul elektronik sedang disusun dan disesuaikan dengan dukungan Puskur. Program pembelajaran digital akan diperkaya dengan materi terkait literasi, pendidikan keluarga, serta pemberdayaan perempuan dan remaja. Koordinasi dan Sinergi dalam Pendidikan Keluarga: Pentingnya kerja sama dan sinergi dalam pendidikan keluarga dibahas secara mendalam, dengan menekankan peran orang tua dalam menghadapi kemajuan teknologi dan mendukung perkembangan anak-anak. Orang tua didorong untuk mengikuti perkembangan keterampilan teknologi anak-anak mereka. “Gerakan Indonesia Membaca” dan Hari Literasi Internasional: Program “Gerakan Indonesia Membaca” diperkenalkan sebagai persiapan menyambut Hari Literasi Internasional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, melampaui sekadar pengenalan huruf dan angka, sehingga dapat dipraktikkan secara nyata. Direktur PNFI juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Direktur Jenderal yang tengah terlibat dalam rapat dengan DPR RI, serta mewakili Menteri dalam acara pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan. Dengan semangat yang tinggi, workshop ini diharapkan dapat menghasilkan konsep-konsep yang dapat diandalkan untuk kemajuan pendidikan non-formal dan informal di Indonesia. sumber : https://beritakita.click/pkbm-al-zaytun-hadiri-workshop-digitalisasi-pendidikan-dari-ditjen-pnfi-kemendikdasmen-ri/
Janji Atlet: Fondasi Pendidikan Karakter di Mahad Al-Zaytun
(Seri mengenal tradisi-tradisi di Al-Zaytun) Oleh Ali Aminulloh pkbmal-zaytun.sch.id – Dalam setiap denyut nadi olahraga, terdapat lebih dari sekadar kompetisi dan raihan kemenangan. Ia adalah arena tempaan, wadah pembentukan karakter, dan jembatan menuju nilai-nilai luhur kemanusiaan. Di tengah gemuruh sorak-sorai dan peluh perjuangan, Mahad Al-Zaytun menemukan esensi sejati olahraga sebagai sarana pendidikan yang tak ternilai, sebuah filosofi yang terpatri kuat dalam Janji Atlet. Janji ini bukan sekadar deretan kata, melainkan panduan etis yang mengikat setiap individu yang mengenakan seragam atlet, baik saat berlatih maupun bertanding. Lebih dari Sekadar Pemenang: Membangun Sportivitas dan Integritas Bagi seorang olahragawan, janji atlet adalah kompas moral yang membimbing sikap dan tindak tanduk. Ia menanamkan pemahaman bahwa sportivitas adalah kunci utama, lebih tinggi dari sekadar hasil akhir. Para atlet tidak hanya diajarkan untuk meraih kemenangan, tetapi juga untuk menghargai proses yang jujur dan adil. Prinsip ini memastikan bahwa setiap pertandingan, setiap latihan, adalah ajang pembuktian integritas diri. Di Mahad Al-Zaytun, visi ini dihayati secara mendalam. Olahraga bukan hanya tentang permainan dan pertandingan, melainkan bagian integral dari penanaman karakter. Sularno, S.Pd., Ketua Komite Olahraga dan Seni Mahad Al-Zaytun (Kosmaz), menegaskan pentingnya Janji Atlet. “Sebelum santri menjalankan latihan maupun pertandingan, baik di internal maupun saat tanding di arena luar, selalu diawali dengan Pembacaan Janji Atlet,” ungkapnya. Pembacaan janji ini menjadi semacam ritual sakral yang telah membudaya. Ini mengingatkan kembali pada landasan moral sebelum terjun ke arena. Adapun teks Janji Atlet Mahad Al Zaytun yang selalu diikrarkan adalah sebagai berikut: Bismillahirrahmanirrahim Janji Atlet 1. Seorang Atlet harus berdisiplin. 2. Seorang Atlet harus berani. 3. Seorang Atlet harus jujur dan hemat. 4. Seorang Atlet harus cerdas dan sportif. 5. Seorang Atlet harus toleran, menjunjung tinggi persaudaraan demi perdamaian. 6. Seorang Atlet harus membela kemanusiaan. 8. Seorang Atlet pantang menyerah. Walhamdulillahirobbilaalamiin Poin-poin dalam Janji Atlet ini dengan jelas merangkum nilai-nilai universal yang esensial tidak hanya bagi seorang atlet, tetapi juga bagi seorang manusia seutuhnya. Disiplin membentuk kebiasaan baik, keberanian mendorong untuk mengatasi tantangan, kejujuran dan hemat menumbuhkan integritas dan tanggung jawab, sementara kecerdasan dan sportivitas mengasah kemampuan berpikir strategis dan perilaku adil. Yang paling menyentuh adalah poin kelima dan keenam, yang mengangkat Janji Atlet ke ranah yang lebih tinggi: toleransi, persaudaraan demi perdamaian, dan pembelaan kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa olahraga di Mahad Al-Zaytun tidak hanya berorientasi pada fisik dan mental, tetapi juga pada pembentukan jiwa yang peduli dan berempati terhadap sesama. Visi Sehat, Cerdas, dan Manusiawi: Harmoni Jiwa dan Raga Janji Atlet selaras dengan visi Mahad Al-Zaytun yang termaktub dalam moto “Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.” Salah satu pilar utama dari visi ini adalah membangun masyarakat yang sehat, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dan spiritual. Dalam konteks pendidikan di Al-Zaytun, “Masyarakat Sehat” berarti membangun kebiasaan hidup sehat, baik melalui pola hidup yang teratur maupun olahraga yang sehat, termasuk memiliki jiwa yang sehat. Kesehatan fisik, pikiran, dan jiwa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Filosofi ini berakar kuat pada tujuan pendidikan Al-Zaytun: mempersiapkan peserta didik yang berakidah kokoh kuat terhadap Allah dan syariat-Nya, menyatu di dalam tauhid, berakhlakul karimah, berilmu pengetahuan tinggi, dan berkesenian memadai. Semua ini tersimpul dalam frasa basthatan fil ilmi wal jismi—kelapangan dalam ilmu dan kekuatan dalam raga. Dengan demikian, peserta didik diharapkan sanggup, siap, dan mampu untuk hidup secara dinamis dalam masyarakat bangsanya dan masyarakat antar bangsa dengan penuh kebahagiaan dan kesejahteraan duniawi dan ukhrawi. Olahraga, melalui pengamalan Janji Atlet, menjadi medium ampuh untuk mencapai tujuan mulia ini. Ia tidak hanya membentuk fisik yang kuat dan prima, tetapi juga melatih ketahanan mental, kejujuran, sportivitas, dan empati. Setiap kali seorang santri mengucapkan Janji Atlet, ia tidak hanya berikrar untuk menjadi atlet yang baik, tetapi juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab, peduli, dan siap berkontribusi pada perdamaian dan kemanusiaan. Epilog: Warisan Jiwa yang Abadi Pada akhirnya, Janji Atlet di Mahad Al-Zaytun adalah lebih dari sekadar sumpah di atas lapangan. Ia adalah cetak biru untuk kehidupan, sebuah komitmen untuk membangun individu yang utuh: sehat fisik, cerdas pikiran, dan luhur jiwa. Melalui setiap gerakan, setiap pertandingan, dan setiap keringat yang menetes, para atlet Al-Zaytun tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menanamkan benih-benih karakter mulia yang akan tumbuh menjadi pohon perdamaian dan kemanusiaan. Janji ini akan terus hidup, melampaui batas-batas arena, dan menjadi warisan jiwa yang abadi bagi setiap generasi yang dididik di Mahad Al-Zaytun. sumber : https://www.lognews.co.id/component/content/article/121-pendidikan/5208-janji-atlet-fondasi-pendidikan-karakter-di-mahad-al-zaytun?Itemid=554