(Disarikan dari pidato sambutan peringatan 1 Syuro 1447 oleh Ali Aminulloh) pkbmal-zaytun.sch.id, Indonesia – Peringatan tahun baru Hijriyah, dua Muharram 1447 di Al-Zaytun pada Sabtu, 28 Juni 2025, memiliki nuansa khas dari peringatan sebelum-sebelumnya. Pada peringatan tahun ini diawali penyampaian gagasan besar Syaykh dengan tema “Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad 21 usia 100 Tahun Kemerdekaan. Sebelum penyampaian gagasan Syaykh, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS. MBA. CRBC., mewakili panitia pelaksana menyapa para tokoh yang hadir dari berbagai kalangan. Beliau juga menjelaskan jumlah peserta yang hadir mencapai 15.172 orang yang datang dari berbagai daerah termasuk dari negeri Jiran Malaysia dan Singapura. Selanjutnya, Ketua YPI secara resmi memperkenalkan gagasan visioner dari Syaykh Abdussalam Panji Gumilang. Gagasan ini, yang dinamakan “Novum Gradum” dengan pendekatan L-STEAM (Law, Science, Technology, Engineering, Art, dan Matematika), bertujuan mengimplementasikan pendidikan yang komprehensif. Melalui gagasan “Naskah Gagasan Pendidikan Indonesia Raya 2045 di 500 Kawasan Pendidikan Berasrama,” Al-Zaytun bertekad membentuk manusia seutuhnya menuju peradaban Indonesia Emas yang kokoh di atas dasar Pancasila, menandai sebuah lompatan signifikan dalam narasi pendidikan nasional. Syaykh Al-Zaytun: Cetak Biru Pendidikan Indonesia Emas 2045 Dalam paparannya yang mendalam, Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, S.Sos. MP menguraikan visi “Pendidikan Indonesia Raya 2045”, sebuah cetak biru spektakuler untuk mengatasi problematika fundamental pendidikan di Tanah Air. Beliau mengidentifikasi filosofi pendidikan Indonesia saat ini yang cenderung linear, kontras dengan kemajuan spiral yang dicapai bangsa lain, mengakibatkan stagnasi. Tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan besar, di mana model pendidikan terpusat di Jawa dan banyak daerah terpencil kurang terlayani, turut memperparah kondisi ini. Dengan menyoroti isu-isu seperti guru tunggal di sekolah dasar terpencil dan perubahan kebijakan yang inkonsisten, Syaykh Panji Gumilang menegaskan urgensi sebuah “lompatan baru” atau Novum Gradum untuk mencapai status juara di mata dunia pada 2045. Sebagai solusi revolusioner, Novum Gradum mengusulkan pendirian 500 kawasan pendidikan berasrama di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia, masing-masing seluas minimal 3.000 hektare. Konsep ini mencakup beasiswa penuh bagi 50 juta pelajar hingga kelas 15 (setara setengah kesarjanaan) dan pengintegrasian kurikulum L-STEAM (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) untuk membentuk generasi yang mahir dan berwawasan hukum. Syaykh Panji Gumilang meyakini bahwa dana negara lebih dari cukup untuk proyek ini, bahkan memproyeksikan Indonesia mampu mencapai swasembada pangan (20 ton beras/hektare/tahun) dan membangun infrastruktur modern seperti kereta cepat Trans-Pulau pada 2045, menandai kebangkitan Indonesia sebagai kekuatan “digdaya” di pentas global. Gagasan besar Syaykh Al-Zaytun ditanggapi oleh 17 penyambut dari berbagai kalangan: dari guru besar, praktisi pendidikan, pejabat kementerian, tokoh tokoh kerukunan beragama, pimpinan lintas agama, dan tokoh masyarakat lainnya, baik dalam maupun luar negeri. Masing-masing memberikan pandangan dari masing-masing prespektif. Orasi pertama menyambut gagasan Syaykh Al-Zaytun, disampaikan oleh Prof. Dr. H. Wawan Wahyudin M.Pd., Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Beliau memberikan pandangan yang menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia sebagai penentu kemajuan bangsa, yang diawali dengan kualitas pendidikan, pendidik, kurikulum, sarana prasarana, dan regulasi. Ia sangat mengapresiasi gagasan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang dan berharap kurikulum yang digagas dapat terakomodir dalam sisdiknas yang baru, dengan menambahkan “kurikulum cinta” yang menekankan hubungan baik dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Dalam pesannya kepada para santri, ia menitipkan tiga “ibu” yang harus dihormati: ibu kandung, ibu bapak guru, dan Ibu Pertiwi, sebagai fondasi karakter dan kebangsaan. Penyambut berikutnya, Brigjen (Purn) Dr. Harangan Sitorus, seorang dosen dan praktisi pendidikan strategi, mengungkapkan rasa syukurnya dapat hadir di Al-Zaytun dan mengapresiasi konsep pendidikan yang diusung oleh Syaykh Panji Gumilang, khususnya mengenai pendidikan berasrama dan bela negara. Ia menyoroti pentingnya menjaga keutuhan NKRI yang “harga mati” , dan menekankan bahwa persatuan bangsa adalah kunci kekuatan. Sitorus juga memaparkan pengalamannya bertugas di Jawa Barat dan mengemukakan data menarik tentang suku Batak yang memiliki jumlah sarjana terbanyak di Indonesia. Ia juga menyinggung tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan maritim Indonesia dengan memperkenalkan jumlah pulau di Indonesia yaitu 17.845 pulau. Profesor Dr. Ciek Juliati Hisham, MM., MSI, Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta dan Pakar Sosiologi Pendidikan, sebagai penyambut ketiga memberikan orasi yang mengapresiasi gagasan Syaykh Panji Gumilang mengenai “Lanskap Pendidikan Indonesia Raya dengan konsep berbasis L-STEAM” (Law, Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics). Ia menyoroti kemunduran pendidikan dan hukum di Indonesia, serta praktik korupsi yang merugikan. Prof. Ciek juga mengungkapkan keinginannya untuk mengubah label negatif Al-Zaytun dan mengusulkan agar perguruan tinggi tersebut menjadi universitas umum, mengingat fasilitas yang memadai seperti pertanian dan perkapalan. Ia juga mendukung gagasan Menteri Agama untuk penyembelihan dam haji di Indonesia yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.Dan Al-Zaytun dapat menjadi mitra untuk penyedia hajat dam bagi seluruh jaah haji di Indonesia. Sambutan selanjutnya disampaikan Dr. Anton Wardaya, M.Sc., M.P.P., CDMS., CEO Wardaya College, Kepala Sekolah Wardaya, Pembina Olimpiade Matematika, Staff Kementerian Pendidikan Nasional dan Presiden Lions Club. Dalam orasinya menyoroti potensi besar anak-anak Indonesia yang tersebar di 30 provinsi. Ia sangat mendukung konsep sekolah berasrama yang digagas oleh Syaykh Panji Gumilang sebagai solusi untuk membentuk karakter dan mengatasi berbagai masalah kebangsaan seperti korupsi dan penurunan kualitas pendidikan. Wardaya juga menjelaskan program pemerintah, yaitu pembangunan sekolah Garuda dan sekolah rakyat, serta beasiswa untuk pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri. Ia mengapresiasi Al-Zaytun sebagai sekolah berasrama terbesar di Asia Tenggara dengan fasilitas pertanian dan perkapalan, sejalan dengan identitas Indonesia sebagai negara agraris dan maritim. Ia juga menyoroti pentingnya matematika sebagai inti dari ilmu pengetahuan dalam kurikulum L-STEAM sebagaimana di gagas Syaykh. Tidak kalah menarik, Dr. Dodi Budiroman, Ketua Program Studi Magister Agronomi, mewakili Direktur Pasca Sarjana UGJ Cirebon merespon gagasan Syaykh dengan antusias. Ia menegaskan bahwa konsep pendidikan berasrama Syaykh Panji Gumilang sejalan dengan amanah Kemendikbudristekdikti untuk menciptakan program kampus yang berdampak, bukan hanya berhenti di jurnal ilmiah. Ia memuji Al-Zaytun sebagai perintis model ini, yang telah mengintegrasikan industri pangan, pertanian, dan perikanan, serta memiliki potensi besar untuk mewujudkan kemandirian pangan dan energi. Dodi Budiroman menekankan pentingnya pendidikan berasrama yang berbasis agribisnis dan menjunjung tinggi ekosistem alam, mengingat tiga krisis global saat ini: perubahan iklim, degradasi kesuburan tanah, dan krisis oksigen. Ia mengapresiasi upaya Al-Zaytun dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan dan organik sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk serta pestisida kimia sintetis, sekaligus
Jejak Langkah Berkarakter: Tradisi “Matsna Matsna” di Al-Zaytun
(Seri mengenal tradisi-tradisi di Al-Zaytun) Oleh Ali Aminulloh lognews.co.id, Indonesia – Pagi hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Zaytun menyuguhkan pemandangan yang tak biasa, namun menawan: barisan santri yang berjalan rapi berdua-dua, atau yang dikenal dengan tradisi “matsna matsna”. Terpisah antara santri laki-laki (rijal) dan perempuan (nisa), mereka menyusuri rute yang telah ditetapkan dengan disiplin tinggi. Di setiap persimpangan jalan, para petugas yang berasal dari santri kelas tertinggi—yaitu kelas VI MI, kelas IX MTs, dan kelas XII MA—dengan sigap menjaga kerapian barisan. Uniknya, meskipun garis putih penanda zebra cross sudah samar, para santri tetap dengan patuh sedikit berbelok untuk melintasinya, menunjukkan ketaatan pada aturan yang tertanam kuat. Tradisi berjalan berdua-dua ini, yang telah berjalan sejak mahad berdiri pada tahun 1999, ternyata bukan sekadar kebiasaan visual yang enak dipandang. Di balik kesederhanaan gerak ini, terkandung manfaat luar biasa dalam pembentukan karakter dan stimulasi komunikasi santri. Sebuah “aturan tidak tertulis” yang melarang mereka berjalan sendirian atau bergerombol lebih dari tiga orang telah melahirkan dinamika sosial yang positif. “Santri sejak dini dibiasakan hidup berdisiplin,” ujar Hafidz Al Barzah, Pembina Organisasi Pelajar (OPMAZ). Ia menambahkan, “Melalui pengaturan jalan ini, santri juga dibangun jiwa kepemimpinannya.” Pernyataan ini menegaskan filosofi di balik tradisi ini: disiplin bukanlah sekadar kepatuhan buta, melainkan fondasi bagi pengembangan diri dan kepemimpinan. Selama perjalanan menuju kampus, para santri terlihat asyik berinteraksi, bertukar cerita, dan berbagi pengalaman baik di sekolah maupun di asrama. Keceriaan terpancar jelas di wajah mereka, sesekali diiringi tawa dan diskusi ringan. Fenomena ini, menurut Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan Rusia, sangat relevan dengan teorinya tentang perkembangan sosio-kultural. Vygotsky (1978) menekankan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif tidak terjadi secara individual, melainkan melalui interaksi sosial dan kolaborasi dengan orang lain. Dalam konteks ini, tradisi “matsna matsna” menciptakan ruang otentik bagi santri untuk melatih keterampilan komunikasi, empati, dan membangun hubungan interpersonal yang kuat di luar jam pelajaran formal. Ini adalah bentuk pembelajaran informal yang efektif, memperkaya pengalaman pendidikan mereka. Apabila ada santri yang terlihat berjalan sendirian atau lebih dari tiga orang, dengan sigap para petugas penjaga jalan akan mengingatkan dengan teriakan khas: “matsna matsna!” Teguran lembut ini bukan sekadar perintah, melainkan pengingat akan komitmen bersama terhadap disiplin. Ini menunjukkan bagaimana tradisi ini menjadi alat efektif untuk menanamkan nilai-nilai inti seperti disiplin, tertib, dan kepatuhan pada aturan. Santri belajar untuk tidak saling mendahului, tidak bergerombol, dan mampu mengendalikan keinginan serta ego pribadi demi kepentingan bersama. Tradisi ini menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa individu adalah bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, di mana ketaatan pada aturan bersama menjadi kunci harmoni. Harmoni Jiwa dan Ragawi: Iringan Musik Patriotik di Pagi Hari Keindahan tradisi “matsna matsna” semakin lengkap dengan iringan musik merdu di pagi hari yang sarat makna. Sambil berjalan, para santri tanpa sadar ikut “ngahariring”—bersenandung—menyanyikan lagu-lagu patriotik yang membangkitkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Suasana kampus pun semakin terasa hidup dan inspiratif. Penggunaan musik sebagai media pembentuk karakter dan pembangkit semangat telah lama diakui dalam psikologi pendidikan. Howard Gardner, dengan teorinya tentang kecerdasan majemuk, menempatkan kecerdasan musikal sebagai salah satu bentuk inteligensi manusia (Gardner, 1983). Ia berpendapat bahwa musik tidak hanya sekadar hiburan, melainkan juga alat powerful untuk pembelajaran, pengembangan emosional, dan penanaman nilai. Dalam konteks Al-Zaytun, iringan lagu-lagu patriotik ini bukan hanya memperindah suasana, tetapi secara subliminal menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan rasa memiliki terhadap identitas kolektif. Ini adalah pendekatan holistik yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik santri secara bersamaan. Tradisi ini, dengan segala elemennya, menegaskan bahwa pendidikan di Al-Zaytun adalah upaya pembentukan manusia seutuhnya. Bukan hanya mencetak individu cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, cakap bersosialisasi, dan memiliki jiwa patriotik yang membara. Epilog: Melangkah Serempak, Membangun Generasi Harapan Bangsa Tradisi “matsna matsna” di Al-Zaytun adalah sebuah metafora yang indah tentang perjalanan hidup. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap langkah, kita tidak pernah sendiri. Ada kawan yang membersamai, ada aturan yang membimbing, dan ada tujuan mulia yang menanti. Di bawah mentari pagi yang hangat, diiringi melodi patriotik yang menggetarkan jiwa, setiap santri Al-Zaytun tidak hanya melangkah menuju gedung sekolah, tetapi melangkah menuju pembentukan diri, menuju kedewasaan, menuju masa depan yang cerah. Ini adalah pemandangan yang mengharukan: barisan-barisan kecil yang rapi, mencerminkan tertibnya sebuah peradaban yang sedang dibangun. Mereka adalah tunas-tunas harapan, yang dari setiap langkah serempak mereka, terpancar janji akan disiplin, kebersamaan, dan kepatuhan pada nilai. Tradisi ini bukan hanya menjaga kerapian barisan fisik, melainkan juga merapikan jiwa, menanamkan benih-benih karakter yang kokoh. Di setiap senyum dan tawa yang terucap di antara obrolan ringan, kita melihat cahaya optimisme akan generasi penerus yang berintegritas. Tradisi “matsna matsna” adalah warisan tak ternilai, sebuah doa yang terwujud dalam gerak, bahwa dari setiap langkah kaki para santri, akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang tak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, beradab, dan siap memikul amanah peradaban. sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5254-jejak-langkah-berkarakter-tradisi-matsna-matsna-di-al-zaytun?Itemid=554
Mari ramaikan twitbon Ucapan 1 Muharram 1447 H
Mari ramaikan twitbon ucapan 1 Muharram 1447 H Berikut Cara mengisi foto di Twibbon: 1. Klik link twibbon 2. Klik pilih foto (siapkan foto diri yang akan digunakan) 3. Atur foto agar sesuai dengan lingkaran frame foto, foto dapat digeser, diperbesar/ diperkecil dg menggunakan geseran 2 jari 4. Klik selanjutnya 5. Klik unduh 6. Cari hasil unduhan di gallery foto ponsel anda 7. Upload ke medsos anda, dan sertakan (copypaste) link twibbon agar dapat digunakan juga oleh yang lain. 8. Terimakasih untuk partisipasinya Ini link nya : https://twibbo.nz/pkbmalzaytun1muharam1447h
Kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Kab Indramayu, Dr. H. Caridin, S.Pd., M.Si. ke PKBM Al Zaytun
Salamun ‘alaikum Merdeka Berikut kunjungan langsung Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Dr. H. Caridin, S.Pd., M.Si. bersama jajaran pejabat dinas. Didampingi oleh Kabid PNF Hj. Emilia Kusnandar, Ketua Forum PKBM Indramayu, dan perwakilan dari berbagai PKBM wilayah Dalam kunjungannya, Dr. Caridin meninjau langsung beberapa ruang ujian dan kelas belajar, menyapa para warga belajar dengan pesan-pesan penuh motivasi. Ia juga mengajak mereka untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengajak masyarakat sekitar turut serta dalam pendidikan sepanjang hayat. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol dukungan nyata pemerintah daerah terhadap pendidikan inklusif, kesetaraan hak, dan pembelajaran sepanjang hayat. Di Al-Zaytun, setiap usia punya ruang untuk tumbuh dan belajar. Sebab, seperti yang diungkapkan Dr. Caridin, “Menuntut ilmu itu ibadah, dari buaian hingga liang lahat.” berikut link youtube Kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Kab Indramayu, Dr. H. Caridin, S.Pd., M.Si. ke PKBM Al Zaytun Walhamdullilah #alzaytun #pkbmalzaytun #alzaytunindramayu #alzaytunpkbm
Pendidikan untuk Semua Usia: Kunjungan Kepala Dinas di PKBM Al-Zaytun Tegaskan Kesetaraan dan Dampak Nyata bagi IPM Indramayu
Indramayu, Jawa Barat — Pendidikan bukan hak anak-anak semata. Di Ma’had Al-Zaytun, semangat belajar melampaui batas usia, terbukti dalam pelaksanaan Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) Paket A dan B yang berlangsung pada Sabtu (17/5/2025). Bertempat di gedung bazaar lantai 2 kompleks Al-Zaytun, kegiatan ini bukan sekadar ujian, tapi juga menjadi ajang penegasan bahwa pendidikan kesetaraan adalah pilar penting dalam pembangunan bangsa. Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui upacara resmi dan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza. Kepala PKBM Al-Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E., dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa UPK bukan sekadar penentu nilai akhir, tetapi menjadi alat ukur penguasaan ilmu yang sesungguhnya. “Nilai dan kelulusan hanyalah bonus,” tegasnya, mengajak warga belajar untuk memaknai proses pembelajaran sebagai perjalanan intelektual dan spiritual. Yang membuat momen ini semakin istimewa adalah kunjungan langsung Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Dr. H. Caridin, S.Pd., M.Si. bersama jajaran pejabat dinas. Didampingi oleh Kabid PNF Hj. Emilia Kusnandar, Ketua Forum PKBM Indramayu, dan perwakilan dari berbagai PKBM wilayah, kunjungan ini memperlihatkan pengakuan penuh terhadap peran penting PKBM dalam memperluas akses pendidikan yang setara. PKBM Al-Zaytun, Wajah Pendidikan Inklusif yang Nyata Sebanyak 70 warga belajar Paket A dan 26 warga belajar Paket B mengikuti UPK secara tatap muka. Tak kalah menarik, 130 peserta lainnya dari Paket B mengikuti ujian secara daring, mencerminkan kemampuan PKBM Al-Zaytun dalam mengadopsi teknologi pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat para warga belajar, termasuk mereka yang telah berusia lanjut. “Pendidikan kesetaraan bukan pendidikan kelas dua. Ijazah dari PKBM sama nilainya dengan sekolah formal, bisa untuk kuliah hingga ke perguruan tinggi ternama,” tegasnya dalam wawancara eksklusif bersama Log News. Dalam kunjungannya, Dr. Caridin meninjau langsung beberapa ruang ujian dan kelas belajar, menyapa para warga belajar dengan pesan-pesan penuh motivasi. Ia juga mengajak mereka untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengajak masyarakat sekitar turut serta dalam pendidikan sepanjang hayat. Kontribusi Langsung Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Lebih dari sekadar lembaga pendidikan alternatif, PKBM memainkan peran strategis dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut Kepala Dinas, salah satu indikator penting IPM adalah rata-rata lama sekolah, dan PKBM terbukti menjangkau kelompok usia dewasa yang tak lagi berada dalam sistem sekolah formal. “Di PKBM Al-Zaytun, banyak peserta berusia 40 hingga 60 tahun yang kini bisa mendapatkan ijazah dan memperbaiki status pendidikan mereka di data kependudukan. Ini berdampak langsung pada peningkatan IPM secara agregat,” ujarnya. Ia pun menyampaikan harapan agar para warga belajar yang telah menyelesaikan UPK segera memperbarui data Kartu Keluarga (KK), karena data tersebut terintegrasi dalam perhitungan IPM nasional. Apresiasi dan Pengakuan Setinggi-tingginya Dalam testimoni yang disampaikan melalui Log News TV dan ditujukan langsung kepada Menteri Pendidikan, Kepala Dinas menyampaikan pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan kesetaraan di Al-Zaytun, termasuk dedikasi para tutor, banyak di antaranya merupakan alumni PKBM itu sendiri. “Ini adalah bukti nyata keberlanjutan dan keberhasilan sistem,” katanya. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol dukungan nyata pemerintah daerah terhadap pendidikan inklusif, kesetaraan hak, dan pembelajaran sepanjang hayat. Di Al-Zaytun, setiap usia punya ruang untuk tumbuh dan belajar. Sebab, seperti yang diungkapkan Dr. Caridin, “Menuntut ilmu itu ibadah, dari buaian hingga liang lahat.” #PendidikanSepanjangHayat #PKBMAlZaytun #UPK2025 #IndramayuCerdas #KesetaraanPendidikan (Ali Aminulloh / Redaksi) sumber : https://analisnews.co.id/arsip/377276/pendidikan-untuk-semua-usia-kunjungan-kepala-dinas-di-pkbm-al-zaytun-tegaskan-kesetaraan-dan-dampak-nyata-bagi-ipm-indramayu/
Disdik Indramayu Teken NPHD dengan 84 PKBM, Perkuat Komitmen Peningkatan Kualitas Pendidikan Kesetaraan
lognews.co.id, Indramayu – Sebanyak 84 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Kabupaten Indramayu berkumpul di Aula Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu pada Kamis, 22 Mei 2025 untuk menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD). Acara yang berlangsung dari pukul 14.30 hingga 15.30 WIB ini menjadi momentum penting dalam upaya peningkatan kualitas dan akuntabilitas pendidikan kesetaraan di Indramayu. Penandatanganan NPHD ini bertujuan untuk memastikan penyaluran bantuan operasional dari daerah, yang kini secara resmi disebut Biaya Operasional Pendidikan Kesetaraan (BOP Kesetaraan), dapat berjalan transparan dan akibel. Kegiatan ini dihadiri oleh para kepala PKBM, termasuk perwakilan dari PKBM Al Zaytun, Abdul Karim, S.Mn., M.Pd. Arahan Strategis dari Dinas Pendidikan Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Emilia Kusnandar. Dalam arahannya, Ibu Emilia menyampaikan permohonan maaf dari Kepala Dinas Pendidikan yang berhalangan hadir karena adanya kunjungan Wakil Presiden ke Indramayu. Beliau juga menitipkan salam serta pesan-pesan penting terkait pengelolaan PKBM. “Kami memohon maaf karena Bapak Kepala Dinas tidak dapat hadir secara langsung, namun beliau menitipkan salam dan pesan penting untuk kita semua,” ujar Emilia Kusnandar. Pesan utama yang disampaikan Emilia Kusnandar adalah mengenai validasi data warga belajar atau peserta didik. Beliau menekankan agar PKBM segera menghapus data warga belajar yang tidak valid untuk menjaga akurasi data. Selain itu, dalam rangka mendisiplinkan kinerja dan meningkatkan mutu pendidikan, Dinas Pendidikan akan menerapkan sistem punishment bagi PKBM yang tidak memenuhi standar. “Kami tegaskan kembali bahwa hal-hal yang telah disosialisasikan, khususnya terkait warga belajar atau murid yang tidak valid, agar segera dihapus,” tegas Emilia. Lebih lanjut, Emilia Kusnandar menjelaskan bahwa bantuan operasional dari daerah untuk PKBM kini secara resmi disebut Biaya Operasional Pendidikan Kesetaraan (BOP Kesetaraan), bukan lagi “jaket” seperti yang mungkin sering disebut. Seiring dengan hal itu, beliau juga menekankan pentingnya Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang transparan dan akuntabel. “Bantuan ini adalah Biaya Operasional Pendidikan Kesetaraan, bukan jaket. Untuk itu, kami meminta laporan pertanggungjawaban yang jelas dan terperinci dari setiap PKBM,” kata Emilia. Dukungan Anggaran dan Persyaratan Pencairan Dana Dalam kesempatan tersebut, Emilia Kusnandar juga memberikan kabar gembira mengenai bantuan dana operasional tambahan yang akan datang dari APBD Provinsi. Informasi ini disambut baik oleh para kepala PKBM yang hadir, mengingat pentingnya dukungan finansial dalam menjalankan program-program pendidikan kesetaraan. Namun, Emilia Kusnandar juga mengingatkan akan persyaratan ketat untuk pencairan dana APBD Provinsi. Salah satu syarat mutlak adalah penyerahan Laporan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) tahun 2024 yang lengkap dan tepat waktu. Tidak hanya itu, laporan SPJ untuk dana APBN yang telah cair sebelumnya juga menjadi prasyarat penting. “Pencairan dana APBD Provinsi akan sangat bergantung pada kelengkapan SPJ tahun 2024. Termasuk juga SPJ dari dana APBN yang sudah cair. Ini adalah bentuk akuntabilitas yang harus kita patuhi bersama,” jelasnya. Peran Penting Forum PKBM dan Proses Penandatanganan NPHD Selain Emilia Kusnandar, acara ini juga menghadirkan Hery Heryanto dari staf Dinas Pendidikan dan Nana, Ketua Forum PKBM Kabupaten Indramayu, yang turut memberikan arahan dan dukungan. Kehadiran Ketua Forum PKBM menunjukkan kolaborasi erat antara Dinas Pendidikan dengan komunitas PKBM dalam memajukan pendidikan kesetaraan. Setelah pemaparan dan arahan dari para pemateri, acara dilanjutkan dengan penandatanganan NPHD oleh seluruh kepala PKBM yang hadir. Proses penandatanganan ini dilakukan secara tertib, dengan setiap kepala PKBM diwajibkan melampirkan persyaratan administrasi yang lengkap, seperti fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), serta dokumen pendukung lainnya. Kelengkapan persyaratan ini sangat krusial untuk validasi data dan kelancaran proses pencairan dana. Dengan penandatanganan NPHD ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu berharap para PKBM dapat semakin meningkatkan kualitas program pembelajaran, mendisiplinkan pengelolaan keuangan, serta bertanggung jawab penuh terhadap setiap dana yang diterima. Komitmen bersama ini diharapkan akan membawa dampak positif yang signifikan bagi peningkatan akses dan mutu pendidikan kesetaraan di seluruh wilayah Kabupaten Indramayu. Koresponden Abdul Karim (AK) sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/121-pendidikan/4794-disdik-indramayu-teken-nphd-dengan-84-pkbm-perkuat-komitmen-peningkatan-kualitas-pendidikan-kesetaraan?Itemid=554
Revitalisasi Pendidikan dan Ketahanan Bangsa: Pesan Strategis dari Bimter MTs Al-Zaytun 2025
INDRAMAYU – Dalam suasana khidmat yang menyentuh batin, Bimbingan Terpadu (Bimter) siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Zaytun angkatan ke-24 tahun 2025 menjadi ajang penting untuk menggugah kesadaran kolektif tentang masa depan pendidikan Indonesia. Tidak sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi ruang refleksi strategis untuk menjawab tantangan bangsa melalui pendidikan. Tampil sebagai narasumber utama, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC., menyampaikan mudzakarah yang menggugah. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi arena perjuangan membentuk manusia unggul—berpikir global, berjiwa lokal, dan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. Menanam Semangat Keilmuan sejak Dini Mengawali pesannya, Datuk Imam mengangkat kembali peran penting Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, tokoh pendidikan nasional yang kini menempuh studi doktoral bidang hukum. Menurutnya, Syaykh Panji adalah sosok visioner yang menghadirkan model pendidikan terpadu berbasis nilai-nilai spiritual, intelektual, dan kemandirian. “Anak-anak jangan berhenti belajar di satu jenjang. Raihlah S2, bahkan S3. Itu bukan ambisi pribadi, melainkan kebutuhan strategis bangsa,” tegasnya kepada para siswa. Pendidikan sebagai Pilar Peradaban Dalam mudzakarah itu, ditegaskan bahwa Al-Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi tempat menanam benih peradaban. Pendidikan harus melahirkan manusia berakhlak, bertauhid, dan mandiri. Sistem berasrama yang diterapkan Al-Zaytun—dari pangan, kurikulum, hingga etika kehidupan—menjadi pilot project pendidikan nasional. Datuk Imam mengungkapkan, model pendidikan semacam ini sedang diperjuangkan untuk direplikasi di 500 titik kabupaten di Indonesia. Tujuannya: membentuk generasi pemimpin yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045, dengan karakter kuat dan wawasan global. Kemandirian Pangan dan Ekonomi: Fondasi Ketahanan Bangsa Salah satu isu sentral yang diangkat adalah kemandirian pangan. Dengan mengutip istilah “paceklik” dan peringatan Prabowo Subianto tentang potensi kehancuran bangsa di 2030, Datuk Imam menekankan pentingnya kedaulatan atas sumber daya pangan dan energi. “Bangsa yang tidak mampu mengelola pangannya sendiri akan terpuruk,” ujarnya. Al-Zaytun telah memulai inisiatif konkret: dari pertanian terpadu hingga pengembangan blue economy di kawasan pesisir Eretan hingga Sukra. Ini bukan sekadar proyek lokal, tetapi strategi nasional yang relevan dengan agenda pemerintah dalam membangun ketahanan pangan. Revolusi Pendidikan untuk Menjawab Tantangan Global Pesan besar yang digulirkan adalah urgensi revolusi pendidikan—membebaskan diri dari sistem warisan kolonial dan menanamkan nilai-nilai Pancasila serta Piagam Madinah dalam sistem pembelajaran. “Pancasila bukan hanya untuk diterima, tapi diimani. Dari sini lahir pemimpin yang berintegritas,” tegas Datuk Imam. Ia mengingatkan bahwa tantangan global seperti perang dagang, neokolonialisme, hingga krisis identitas bangsa, hanya bisa dihadapi jika pendidikan kita berpihak pada kemandirian dan karakter. Dari Al-Zaytun untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia Bimter 2025 bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi bukti bahwa Al-Zaytun tidak diam menghadapi tantangan zaman, tetapi tampil sebagai agen perubahan. Pendidikan di sini bukan untuk sekadar mencari pekerjaan, tetapi membentuk manusia visioner—yang berpikir jernih, bermoral kuat, dan siap memimpin dunia. “Al-Zaytun hadir bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bertindak,” pungkasnya. 📅 Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 15 Mei 2025, dan disarikan oleh Ali Aminulloh.
Di Balik Euphoria Ijazah Kesetaraan: Kisah PKBM Al-Zaytun Meneguhkan Pendidikan dengan Hati Nurani
Indramayu, Jawa Barat – Di tengah sorotan tajam terhadap praktik pengelolaan PKBM yang diselimuti isu data fiktif hingga jerat hukum—sebuah ironi yang menggelayuti dunia pendidikan non-formal—sebuah oase integritas bersemi di Indramayu. PKBM Al-Zaytun, dengan visi yang berakar pada nilai toleransi dan perdamaian dari lembaga induknya, Mahad Al-Zaytun, memilih jalan sunyi namun bermakna: mengedepankan pendidikan sejati di atas gemerlap angka dan ijazah semata. Kepala Dinas Pendidikan Indramayu baru-baru ini menyerukan pentingnya integritas kepada seluruh pengelola PKBM di wilayahnya, sebuah respons terhadap realitas pahit yang mencuat, seperti kasus penyerapan anggaran negara dengan modal data WB fiktif. Namun, bagi PKBM Al-Zaytun, seruan itu bukanlah hal baru. Sejak awal, lembaga ini telah memegang teguh komitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai pengabdian luhur. Visi Mahad Al-Zaytun yang menekankan pentingnya pendidikan bagi seluruh civitas akademika dan keluarganya, bahkan mendorong wajib belajar 15 tahun, diterjemahkan oleh PKBM Al-Zaytun dalam aksi nyata. Mereka aktif “menyisir” individu dari keluarga besar civitas yang belum mencapai pendidikan minimal, serta merangkul masyarakat sekitar untuk bersama-sama menimba ilmu. Hasilnya tak main-main: lebih dari 1.500 lulusan Paket C telah lahir, hampir seratus alumni meraih gelar sarjana, dan beberapa lainnya tengah berjuang di jenjang pascasarjana. Saat ini, lebih dari 500 warga belajar dari berbagai tingkatan aktif mengikuti proses pembelajaran. Bagaimana PKBM Al-Zaytun menjaga marwah pendidikan di tengah potensi penyimpangan? Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci. Pembelajaran dilakukan secara terstruktur, baik tatap muka bagi warga belajar sekitar kampus maupun daring dan modul bagi yang berdomisili jauh. Setiap tugas dan interaksi belajar terdokumentasi rapi dalam portofolio. Lebih dari itu, setiap sesi pembelajaran oleh tutor dilengkapi laporan detail beserta jejak digital berupa foto kegiatan. Hal serupa diterapkan dalam setiap ujian, di mana lembar jawaban, daftar hadir, berita acara, daftar nilai, hingga rekaman nilai tersimpan dalam bundel laporan yang komprehensif—sebuah bukti otentik denyut nadi pembelajaran. Prinsip mendasar yang ditanamkan di PKBM Al-Zaytun sungguh menyentuh: belajar adalah kewajiban abadi, ijazah hanyalah konsekuensi logis dari kesungguhan menuntut ilmu. Filosofi ini sejalan dengan semangat “long life education,” belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, sejak awal, warga belajar memahami bahwa tujuan utama mereka adalah ilmu, bukan sekadar selembar kertas. Semangat pengabdian juga membara di hati para pengurus dan tutor PKBM Al-Zaytun. Mereka hadir bukan untuk mencari keuntungan materi, melainkan untuk mewujudkan moto Al-Zaytun: “Mendidik dan membangun semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.” Inilah yang menggerakkan Hartono, S.Pd., alumni PKBM yang kini menempuh S2 di UIN Syaifudin Zuhri Purwokerto, untuk berbagi ilmu sebagai wujud syukur. Begitu pula dengan Suwandi, S.Pd., alumni PKBM Alzaytun lulusan IAI Al Zaytun dan tengah studi S2 di UIN Jakarta, yang merasakan pendidikan telah mengangkat derajat hidupnya dan kini terpanggil untuk menularkan semangat “jika kita mau, pasti bisa.” Kisah Kasno, S.H. S.Sos., MP, ketua alumni PKBM dan tutor bidang pertanian, adalah cerminan nyata bahwa “terlambat belajar” tidak pernah ada. Ia menapaki pendidikan dari Paket A hingga meraih dua gelar sarjana dan gelar master pertanian, yang kini tengah melanjutkann pendidikan doktoral. Pengalamannya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tak ketinggalan, Joko, S.H., alumni IAI Al Zaytun mahasiswa prodi Hukum Pasca Sarjana UGJ, seorang pengacara alumni PKBM, membuktikan bahwa lulusan PKBM mampu bersaing dan berprestasi di dunia profesional dengan integritas tinggi. “Menjalankan PKBM itu harus dari hati, dengan niat tulus untuk mengangkat harkat bangsa,” ujar Kepala PKBM Al-Zaytun, yang juga seorang dosen di IAI Alazis. Ia meyakini bahwa ketulusan akan menutup celah bagi manipulasi. Keberadaan PKBM memiliki peran strategis dalam meningkatkan IPM, dan PKBM Al-Zaytun berkomitmen untuk menjalankan peran tersebut dengan penuh tanggung jawab. Dengan penuh harap, Ali Aminulloh mengajak seluruh tutor untuk senantiasa menjaga niat suci dalam menjalankan tugas mulia ini, sebuah panggilan yang selayaknya dijalankan dengan penuh suka cita. Di tengah tantangan dan sorotan, PKBM Al-Zaytun memilih untuk terus menebar benih pendidikan dengan hati nurani, menjadi lentera integritas di garda terdepan pendidikan non-formal. (Ali Aminulloh) sumber : https://analisnews.co.id/arsip/369373/di-balik-euphoria-ijazah-kesetaraan-kisah-pkbm-al-zaytun-meneguhkan-pendidikan-dengan-hati-nurani/
“Membangun PKBM Bermartabat dari Indramayu: Belajar yang Jujur, Mengabdi yang Tulus”
lognews.co.id, Indramayu – Dalam semangat mewujudkan visi Indramayu REANG (Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong), pasangan Bupati dan Wakil Bupati Indramayu, Lucky Hakim dan Syaifudin, terus mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor. Salah satu program unggulannya adalah “Indramayu Belajar”—sebuah program yang tidak sekadar menjadi slogan, tapi menjadi jiwa dari perubahan sistem pendidikan nonformal di Kabupaten Mangga ini. Di tengah semangat itu, Kepala PKBM Al-Zaytun, Ali Aminulloh, memberikan makna mendalam terhadap program Indramayu Belajar. Baginya, belajar bukan sekadar kegiatan administratif, apalagi alat untuk menyerap anggaran negara secara tidak sah. Belajar adalah ruh dari penyelenggaraan PKBM. Ia menekankan, PKBM semestinya menjadi ladang pengabdian yang tulus kepada Allah, kepada nusa, dan kepada bangsa—bukan sekadar ruang formalitas atau formalitas kosong tanpa makna. “Integritas itu mutlak. Kepala PKBM harus menjadi teladan moral. Jangan ada manipulasi data warga belajar atau pembelajaran fiktif,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi cermin dari keresahan sekaligus harapan bahwa dunia pendidikan, terutama pendidikan nonformal, harus bersih dari praktik-praktik yang mencederai kepercayaan masyarakat. Sebagai bentuk penguatan karakter dan integritas itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu melalui Bidang Pendidikan Nonformal (PNF) secara berkala menyelenggarakan pembinaan kepada para kepala PKBM dan operator lembaga. Dalam salah satu pembinaan yang disampaikan oleh Kepala Bidang PNF, Hj. Emilia Kusnandar, S.Pd., M.M.—yang akrab disapa “Bunda Emil”—pesan-pesan ketegasan dan kebersamaan digaungkan. Ada delapan poin penting yang ditekankan: 1. PKBM harus bersinergi dengan berbagai pihak, baik internal lembaga, eksternal, maupun dengan Dinas Pendidikan. 2. Setiap keputusan penting sebaiknya dimusyawarahkan, tidak diambil sepihak. 3. Semua bentuk laporan, termasuk kewajiban pajak, harus segera dituntaskan. 4. Izin operasional PKBM sedang dalam proses yang semestinya. 5. Data murid yang tidak valid harus dibersihkan. Jangan biarkan data fiktif mencemari lembaga. 6. Operator tidak boleh memasukkan data tanpa persetujuan kepala PKBM. 7. Lembaga yang sudah tidak lagi memiliki warga belajar aktif, sebaiknya ditutup dengan penuh tanggung jawab. 8. Sinergi antara SKB, PKBM, dan Dinas Pendidikan harus dijaga secara konsisten. Bunda Emil dikenal sebagai sosok yang enerjik, komunikatif, dan peduli. Ia tidak hanya bicara di podium, tapi kerap turun langsung ke lapangan. Dari kunjungannya ke berbagai PKBM, termasuk ke PKBM Al-Zaytun, ia menyampaikan harapan besar agar PKBM Al Zaytun bisa menjadi model teladan bagi PKBM lain dalam hal integritas, tata kelola, dan pelayanan pendidikan yang bermartabat. “PKBM bukan tempat menampung data, tapi tempat menumbuhkan jiwa,” ungkapnya dalam satu kesempatan. Di tengah arus deras digitalisasi dan tuntutan administratif, pendidikan nonformal tidak boleh kehilangan arah. Pembelajaran yang jujur, laporan yang transparan, serta pelayanan yang manusiawi harus menjadi fondasi utama. Dengan pembinaan yang terus berjalan dan semangat moral yang terus disuarakan, Indramayu memberi sinyal kuat bahwa mereka tidak hanya ingin mencerdaskan masyarakat, tapi juga membentuk manusia-manusia yang jujur, bertanggung jawab, dan siap mengabdi dengan tulus. Dan semua itu, dimulai dari belajar yang benar. (Ali Aminulloh) sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/121-pendidikan/4708-membangun-pkbm-bermartabat-dari-indramayu-belajar-yang-jujur-mengabdi-yang-tulus?Itemid=554
PKBM Al-Zaytun Berperan Aktif Mewujudkan Masyarakat Sehat: Olahraga sebagai Wujud Syukur
lognews.co.id, Indonesia – Ma’had Al-Zaytun, sebagai lembaga pendidikan yang mengusung moto Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi, terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya hidup sehat. Komitmen ini tidak hanya menjadi program institusi utama, tapi juga dihidupkan dengan penuh semangat oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun. Sebagian besar warga belajar PKBM adalah para orang tua, khususnya ibu-ibu yang tetap antusias menempuh pendidikan nonformal. Dalam kesehariannya, mereka turut serta dalam berbagai kegiatan yang bertujuan menyehatkan jasmani sekaligus memperkuat silaturahmi, salah satunya adalah senam bersama yang rutin digelar dua pekan sekali di halaman Bazar Al-Zaytun. Senam tersebut dipandu oleh Usth. Nurdiana, guru olahraga PKBM Al-Zaytun. Menurutnya, olahraga senam bersama ini menjadi ruang bagi ibu-ibu untuk bergerak aktif dengan suasana ceria dan penuh kebersamaan. “Dengan senam bersama, ibu-ibu bisa berolahraga dengan happy. Gerak badan jadi sehat, jiwa pun senang. Ini cara membangun kesehatan lahir batin sekaligus kebersamaan,” jelasnya. Ketua PKBM Al-Zaytun, Ali Aminulloh, turut memberikan pesan bermakna dalam kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa membangun budaya sehat merupakan bagian dari ibadah, sebagai wujud rasa syukur atas kesempurnaan tubuh yang telah Allah anugerahkan. “Olahraga adalah bentuk mensyukuri nikmat sehat. Maka jalankan olahraga dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan. Dengan begitu, kita bisa menikmatinya dan menjadikannya sebagai kebiasaan yang menyehatkan,” ungkapnya. Tak hanya senam, budaya sehat di Al-Zaytun juga diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan lainnya, mulai dari pola makan sehat dengan pemilihan bahan makanan berkualitas, cara pengolahan yang higienis, hingga pengaturan waktu istirahat yang cukup—yakni tidur malam selama 7–8 jam setiap harinya. Dalam bidang olahraga, Al-Zaytun mempopulerkan olahraga jalan kaki dengan istilah “OKEKE” (Olahraga Kebugaran Kaki), serta menyelenggarakan berbagai cabang olahraga seperti sepak bola, bola voli, bola basket, hoki, bulu tangkis, tenis meja dan lainnya. Partisipasi aktif PKBM Al-Zaytun dalam membangun budaya sehat menjadi bukti bahwa visi besar lembaga ini untuk menciptakan masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi benar-benar dihidupkan di setiap lini. Dari ruang belajar hingga halaman senam, semangat untuk hidup sehat terus tumbuh dan mengakar sebagai bagian dari ibadah dan pembangunan peradaban. (Ali Aminulloh) sumber : https://lognews.co.id/component/content/article/121-pendidikan/4718-pkbm-al-zaytun-di-berperan-aktif-mewujudkan-masyarakat-sehat-olahraga-sebagai-wujud-syukur?Itemid=554